
Ujian kenaikan kelas dimulai. Para murid masuk ke ruangannya masing-masing dan duduk di kursi yang sudah ditempelkan nomor peserta oleh pihak sekolah. Rizky, Ali, Eko, Ersya, Adam dan Salma berada di satu ruangan yang sama.
Saat bel masuk berbunyi, para murid wajib memasukkan tas mereka ke dalam loker yang berada di depan kelas dan hanya menyisakkan alat tulis.
Bu silvi masuk ke ruang kelas dengan membawa tumpukan soal dan lembar jawaban yang akan dibagikan untuk para murid.
Tumpukkan soal dibagi menjadi dua bagian, membuat mata para muirid terbelalak lebar. "Soal dibagi menjadi dua paket, paket A dan B," ucap Bu Silvi seraya membagikan soal dan lembar jawaban pada murid.
Eko tertegun saat melihat soal paket B yang berada di hadapannya. Seketika apa yang sudah ia pelajari selama ini sirna seketika dan meninggalkan jejak apapun di otaknya.
Saat soal sampai di atas meja Ali, ia pun menoleh ke arah Eko yang berada di belakang sebelah kanan. "B" Ali memberikan kode pada Eko hanya dengan gerak mulutnya.
"Sama," jawab Eko memberikan kode yang juga seperti Ali.
Setelah mengetahui kalau mereka memiliki soal dengan paket yang sama, mereka berdua langsung melihat ke arah Rizky yang berada di bagian kiri. berharap kalau Rizky juga mendapat paket soal yang sama dengan mereka.
Sudah tahu dengan maksud Ali dan Eko yang melihatnya dengan tatapan lirih, Rizky mengangkat soalnya menunjukkan kepada kedua temannya itu kalau ia mendapatkan paket soal A.
Bencana untuk Ali dan Eko yang mendapat paket soal berbeda dengan Rizky. Bagaimana ia bisa bertanya jawaban pada Rizky, sedangkan soal mereka saja berbeda.
Ali dan Eko menggeleng lemah seraya memberitahu Rizky kalau paket soal mereka berbeda. Rizky tersenyum puas saat melihat wajah lirih Ali dan Eko.
__ADS_1
"Selamat mengerjakan anak-anak," ucap Bu Silvi.
Semua murid mulai memfokuskan pikiran mereka ke soal yang berada di hadapan mereka. Dengan ketelitian mereka membaca soal satu per satu.
Suasana sangat hening, hanya suara dari gerak jarum jam yang menjadi pemecah keheningan di dalam ruangan.
Sekitar enam puluh menit sudah berlalu, masih tersisa tiga puluh menit lagi, tapi nampaknya para murid sudah mulai gelisah, sudah banyak dari mereka yang mulai menengok kanan dan kiri, bahkan memanggil teman mereka dengan suara yang sangat pelan, namun masih bisa terdengar oleh Bu Silvi.
Waktu tersisa tiga puluh menit lagi, tapi dari jumlah empat puluh soal, Ali baru mengerjakan dua puluh soal.
Adam yang duduk di seberang Ali mengintip lembar jawaban Ali yang baru terisi dua puluh soal. Adam dengan sengaja mengetuk-ngetuk mejanya pelan agar Ali melihat ke arahnya. Ternyata kode yang ia berikan berhasil, Ali melihat ke arahnya.
Ali membuang napasnya lega. Tidak berpikiran panjang lagi, Ali langsung mengisi lembar jawabannya dengan jawaban yang diberikan Adam. Setelah selesai mengisi semuanya, ia melihat kembali ke Adam, lalu menunjukkan ibu jarinya pada pria itu.
Tak ingin mendapatkan jawaban gratis dari Adam seorang diri, Ali melihat ke arah Eko yang juga melihat ke arahnya. Ali mendirikan lembar jawabnnya sedikit agar Eko dapat melihat jawabannya.
Eko menaikkan kedua alisnya seolah tak percaya dengan semuan jawaban yang Ali berikan. Ali menunjuk lembar jawabannya, lalu menunjuk Adam yang duduk di seberang.
Eko mengerti, Ali mendapat semua jawaban itu tidak murni dari pikirannya, melainkan dari Adam. Dengan cepat Eko mengisi jawaban yang belum isi, mengingat waktu terus berjalan.
Bel berbunyi, menandakan bahwa waktu telah habis. Semua murid diperbolehkan meninggalkan ruang kelas dengan paket soal dan lembar jawaban yang mereka tinggal di atas meja mereka masing-masing.
__ADS_1
Ali menepuk pundak Adam saat pria itu sedang menaruh alat tulisnya ke dalam tas. "Makasih bro," ucap Ali, membuat Rizky, Eko, Ersya dan Salma melihatnya bingung.
"Sama-sama," jawab Adam tersenyum.
Eko menghampiri Ali dan Adam. "Makasih juga bro." Eko merasa terbantu karena Ali memberikan contekan yang ia dapat dari Adam.
"Ada apa nih?" tanya Ersya.
Ali mendekati Ersya, lalu berbisik. "Dikasih contekan sama Adam tadi."
Ersya mendesis, lalu memukul tubuh Ali. "Ih! Aku kan suruh kamu belajar biar ngga nyontek!"
Ali menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya menyeringai. "Udah belajar, tapi tiba-tiba lupa."
Adam melihat Rizky yang diam saja tidak ikut bersuara seperti yang lain.
"Syifa kabarnya disana gimana, Ky?" tanya Adam seraya membuka pembicaraan pada Rizky.
"Baik-baik aja," jawab Rizky datar.
Adam mengangguk. Ia paham, pasti Rizky masih menyimpan rasa kesalnya karena Adam hampir melecehkan Syifa waktu itu.
__ADS_1