Perfect

Perfect
Bab 47


__ADS_3

Kai melihat kalender yang menunjukkan kalau hari ini adalah tanggal 16 Mei, hari kelahirannya. Tidak ada seorang pun yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya, termasuk sang Mama.


Kai mengambil ponselnya, lalu menelpon Syifa.


"Syif," lirih Kai.


"Kai, lo kenapa?" tanya Syifa dari seberang.


"Kita ketemuan di taman dekat sekolah ya," ucap Kai lalu mematikan sambungan telepon.


Mendengar suara Kai yang tidak seperti biasanya, membuat Syifa khawatir dan bergegas keluar dari asrama menuju taman yang berada di tidak jauh dari Sekolah.


Syifa berlari dengan sangat kencang, tidak peduli dengan orang-orang yang melihatnya, karena dipikirannya saat ini adalah Kai harus baik-baik saja.


Tidak hanya Syifa yang bergegas ke taman, Kai juga. Ia segera mengambil jaket dan memakai sepatu.


*****


Kai duduk sendirian di kursi taman seraya memainkan ponselnya.


"Kai, lo baik-baik aja kan?" tanya Syifa ketika berada di depan Kai.


Kai nampak bingung melihat Syifa yang terengah-engah dan berkeringat. "Lo abis maraton?" tanyanya.


"Gue berusaha lari secepat mungkin, karena gue takut lo kenapa-napa," jawab Syifa seraya mengatur napasnya.


Kai memeluk Syifa dan mengelus punggung gadis itu dengan lembut. "Jangan khawatir, gue baik-baik aja kok."


"Kenapa tadi suara lo lirih banget pas nelpon? Gue kan jadi khawatir," ucap Syifa yang masih di peluk oleh Kai.


Kai terkekeh, ia melepas pelukannya. Perlahan tangannya merapikan beberapa helai rambut Syifa yang berantakan. "Se-khawatir itu lo sama gue?"


Syifa mengangguk lemah.


Kai tersenyum. "Gue baik-baik aja."


"Oh iya Syif, kalau hari ini ada yang ulang tahun, kira-kira lo mau nyanyiin lagu selamat ulang tahun ngga?" tanya Kai.

__ADS_1


Syifa terdiam sejenak. Kedua matanya menatap Kai lekat.


"Kai," ucap Syifa.


"Iya Syif." Kai terlihat senang, ia pikir kalau Syifa tahu hari ini adalah hari ulang tahunnya.


"Gue cari toilet sebentar ya, udah ngga tahan," ucap Syifa.


Kai menghela. Ia pikir Syifa tahu, ternyata gadis itu ingin ke toilet.


Syifa segera pergi meninggalkan Kai. Sebenarnya Syifa tidak ingin ke toilet, melainkan ke toko kue untuk membeli kue ulang tahun untuk merayakan ulang tahun Kai tanpa sepengetahuan pria itu.


Kurang lebih sudah dua puluh menit Kai menunggu Syifa, tapi gadis itu tidak kunjung datang.


Kai berdiri, melihat sekelilingnya, gadis itu tidak menunjukkan wujudnya sedikitpun. "Syifa kemana sih, ke toilet lama banget?"


"Selamat ulang tahun, Kai."


Kai menoleh, melihat Syifa tersenyum seraya membawa kue ulang tahun berukuran kecil ditangannya.


Kai terdiam, tidak memberikan respon apapun.


"Tiup dulu, meleleh ini lama-lama lilinnya."


"Sebelum ditiup, berdoa dulu," tambah Syifa.


Aryasa masih mematung. Kedua sorot matanya melihat Syifa dengan berkaca-kaca.


Syfia menghela napasnya dan mendekati pria itu.  "Kok malah bengong, cepat tiup, Kai."


Kai memejamkan matanya dan menarik napasnya dalam. "Ya Tuhan, jangan pernah ambil kebahagiaan kecil ini, dan terima kasih telah menghadirkan Syifa di dalam hidup hamba," ucap Kai, lalu meniup lilin tersebut.


Kedua sudut bibir Kai mengembang. Tangannya mengacak-acak pucuk rambut gadis di hadapannya dengan gemas. "Makasih Syif. Lo udah bikin hari ulang tahun gue di kali ini berbeda."


"Sama-sama Kai," ucap Syifa senang.


"Lo tahu ngga Syif, lo adalah orang pertama yang kasih gue ucapan selamat ulang tahun," ucap Kai seraya menyeka air matanya yang berada di ujung mata.

__ADS_1


"Wah berarti ucapan dari gue spesial banget nih," goda Syifa.


"Lo orang spesial dalam hidup gue, Syif," ucap Kai.


Kai dan Syifa saling menatap satu sama lain. Mereka bergerak mulai mendekat. Namun Kai segera memalingkan pandangannya dari Syifa saat seragamnya menyentuh kue yang dipegang oleh Syifa.


Syifa berusaha untuk menyembunyikan senyumnya. Jujur, ia tidak bisa berbohong dengan perasaannya sendiri, semakin dekat dengan Kai, membuatnya semakin nyaman dan berharap lebih dari pria itu.


"Maaf ya kuenya kecil," ucap Syifa mencairkan suasana.


Kai mengambil kue dari tangan Syifa dan ditaruh di kursi. Ia pun menarik pinggang Syifa agar gadis itu lebih dekat dengannya.


Jantung Syifa berdegup kencang saat wajah Kai tepat di depan wajahnya.


Kai menutup matanya Syifa dengan telapak tangannya, lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir mungil Syifa.


Syifa merasakan sebuah sentuhan hangat yang menyentuh bibirnya.


Setelah beberapa detik, Kai membuka telapak tangannya yang menutupi wajah Syifa, lalu menjauhkan bibirnya dari bibir Syifa.


Kai menarik napasnya panjang, "Gue suka sama lo, Syif," ucapnya.


Kedua mata Syif membulat. Apa ia tidak salah dengar? Kai menyukainya?


"Lo ngga lagi bercanda kan, Kai?" tanya Syifa tak percaya.


"Ngga. Gue serius, gue suka sama lo," ucap Kai.


"Kai, lo kan tahu gue punya pacar," ucap Syifa.


"Gue tahu, gue salah. Tapi perasaan gue ngga bisa dibohongi. Izinin gue buat gue suka sama lo, Syif," ucap Kai.


Syifa terdiam.


"Lo ngga bisa balas perasaan gue ngga apa-apa. Yang penting lo udah tahu perasaan gue ke lo gimana," ucap Kai dengan raut wajah yang serius.


"Satu hal lagi yang perlu lo tahu, gue akan terus suka sama lo, ya walaupun gue tahu kalau, kalau hati lo milik orang lain," tambah Kai.

__ADS_1


__ADS_2