
...Ketidak jujuranmu, membuatku ragu dengan bibir indahmu yang mengucap cinta,...
...~...
Rizky dan Adam sangat beruntung hari ini, keduanya lolos dari panggilan pak Ridwan karena adanya rapat guru dadakan. Setelah istirahat, seluruh siswa-siswi dipulangkan untuk belajar di rumah masing-masing.
Rizky bergegas membawa tasnya keluar dari dalam kelasnya.
"Gue balik duluan ya," ucap Rizky pada Ali dan Eko yang masih sibuk memasukkan buku mereka ke dalam tas.
"Oke, hati - hati brother," sahhut Ali dan Eko dengan kompak.
Tanpa ke kelas Syifa terlebih dahulu, Rizky langsung menuju parkiran.
"Rizky," panggil seseorang dari belakang.
Suara itu membuat langkah kaki Rizky terhenti , namun tidak menoleh. "Ada apa?" tanyanya dengan ketus.
Seseorang itu berjalan ke depan Rizky, "Ky, gue minta maaf," lirih seseorang yang tidak lain adalah Syifa.
Rizky menghela napasnya berat, "Gue maafin," jawab Rizkya datar.
"Serius udah maafin? Tapi kok masih cuek?" tanya Syifa yang tidak yakin kalau Rizky sudah tidak marah padanya.
"Nggak usah berisik, kan udah gue maafin," sahut Rizky dengan nada sedikit tinggi.
Jlebbbbb! Seketika kata-kata Rizky menusuk hati Syifa. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca.
"Se-marah itu lo sama gue? Gue punya alasan kenapa gue gak kasih tau lo," ucap Syifa.
Rizky menatap Syifa dengan kesal, "Lo hampir kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup karena kelakuan bejat seseorang, dan Lo diam aja? Nggaak habis pikir gue sama lo."
"Bukan gitu Ky, ada cara lain untuk nyelesain ini semua," ucap Syifa yang tidak disudutkan oleh Rizky tanpa pria itu mendengar alasannya terlebih dahulu.
"Cara apa ? Laporin kepala sekolah? Guru? Mereka nggak akan percaya, Adam itu kelihatan polos, salah satu siswa yang berprestasi juga, nggak akan ada yang percaya kalau dia ngelakuin hal brengsek kayak gitu," jelas Rizky, mengingat kredibilitas Adam di sekolah sangat tinggi, ucapan tanpa bukti akan membuat Syifa terlihat bodoh saat melaporkan Adam pada pihak sekolah.
Syifa menggenggam tangan Rizky, "Tapi gue nggak mau lo dihukum karena mukulin Adam," lirih Syifa.
"Lo pikir gue mau lihat lo diperlakuin kayak gitu? Gue rela dihukum demi lo, karena perlakuan Adam udah keterlaluan," Sahut Rizky dengan nada yang masih meninggi.
Syifa terdiam, gadis itu perlahan melepaskan genggaman tangannya. Melihat Rizky dengan tatapan sendu.
"Udah sana masuk ke asrama, gue mau balik," Ucap Rizky yang kembali melanjutkan perjalanan dan meninggalkan Syifa.
Syifa melihat Rizky yang perlahan menjauh, mencoba menahan agar air matanya tak jatuh.
Sakit, sangat saki. Namun apa boleh buat, ini adalah konsekuensi yang harus ditanggung oleh Syifa.
°°°°°
Rizky membuang tasnya ke sembarang arah, merebahkan tubuhnya di sofa. Matanya terpejam. Namun hatinya berseteru, seolah menyesal dengan perlakuannya pada Syifa.
Rizky memegang kepalanya yang terasa pusing. Kejadian hari ini sungguh membuatnya lelah.
Drttttttttt. Ponsel Rizky berdering, dengan cepat ia mengambil benda berbentuk kotak tersebut dari dalam sakunya. Ia melihat tertera nama Salma di layar ponselnya.
"Ky, keadaan lo baik-baik aja kan?" tanya gadis itu dari seberang.
"Baik-baik aja kok," jawab Rizky dingin.
"Lo beneran pacaran sama Syifa?" tanya Salma langsung pada inti obrolannya.
"Iya," jawab Rizky singkat.
"Hmm, mana ada cewek yang bohongin pacarnya? Nggak jujur! Rela nyembunyiin sesuatu yang penting demi ngelindungin cowok lain," ucap Salma berusaha memanasi Rizky yang emosinya masih naik turun.
__ADS_1
Rizky merubah posisinya menjadi duduk, "Udah ngomongnya?"
Salma terdiam.
"Gue tanya sama lo sekarang, apa yang akan lo lakuin kalau lo ada di posisi Syifa saat ini?" tanya Rizky dengan nada yang terdengar ketus.
Salma kembali terdiam.
"Gue memang marah sama dia, gue kecewa, tapi hal itu nggak bikin gue harus benci sama dia, apalagi untuk ninggalin dia," ucap Rizky.
"Dan , perlu lo ingat, gue nggak suka ada orang lain yang ikut campur dalam urusan gue, apalagi tentang hubungan gue!" Rizky langsung memutus panggilan tersebut.
Rizky kembali pada posisi tidurannya. Menaruh ponselnya kembali di saku celana dan tenggelam dalam kelelahan.
Waktu seolah bergerak semakin cepat. Siang pun berubah menjadi petang. Tepat, dimana senja mulai menunjukkan keindahannya.
...Cinta memang indah untuk dituliskan dalam secarik kertas, apalagi saat dipadukan dengan kerinduan, namun semua itu akan hambar, ketika ketidakjujuran mulai menghampiri....
Rizky memainkan alat musik kesayangannya di rooftop . Perlahan jari jemarinya memetik senar gitar hingga menjadi sebuah irama yang mengiringi senja.
...Perih bagiku...
...Menahan marahku...
...Tapi kuakan lakukan...
...Bahkan lebih dari itu...
...Aku yang minta maaf walau kau yang salah...
...Aku kan menahan walau kau ingin pisah...
...Karna kamu penting...
...Lebih penting...
...Jika kamu salah aku akan lupakan...
...Walau belum tentu kau lakukan yang sama...
...Karna untukku kau lebih penting dari egoku....
Rizky menghentikan nyanyiannya. Mengambil ponsel yang berada disampingnya, mencari kontak Syifa, ingin sekali ia menghubungi gadis itu, namun niat itu diurungkan.
Rizky kembali mencari kontak Syifa, lagi-lagi niatnya untuk menghubungi gadis itu, diurungkan . "Kok gue jadi labil gini ya," gerutunya seraya menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Arghhh! Cinta bikin ribet," decak Rizky seraya mengusap wajahnya gusar.
°°°°°
Syifa menatap langit senja yang menemaninya saat ini , menarik napasnya panjang, merasakan hembusan angin yang menyapanya, seraya berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Andai waktu bisa diulang .. " Ucap Syifa
"Kalau waktu bisa diulang, semua manusia akan terlahir tanpa penyesalan di dalam hidupnya dan kehidupan nggak akan berjalan seperti sekarang," Sahut Ersya yang berada di belakang Syifa.
Ersya menghampiri sahabatnya, merangkulnya perlahan, " Bulan nggak akan hadir dengan tenang, tanpa kehadiran bintang disisinya."
"Begitu juga Rizky, dia nggak akan tenang kalau nggak ada lo di sampingnya," timpal Ersya lagi.
Perlahan kedua sudut bibir Syifa mengembang. Wajah cerianya kembali hadir diparas cantik yang ia miliki. Ucapan Ersya membuat perasaan Syifa sedikit senang saat mendengarnya.
...Sebuah hubungan, bukan hanya sekedar aku dan kamu yang saling mencintai, tapi juga kepercayaan dan kejujuran yang disatukan di dalamnya....
°°°°°
__ADS_1
Kring...
Bel masuk berbunyi, bertanda seluruh siswa-siswi diwajibkan untuk memasuki ruang kelas.
Proses belajar mengajar dilakukan dengan hikmat hari ini. Tak ada lagi perkelahian yang terjadi di pagi yang dingin.
"Ky , lo masih marahan sama Syifa?" bisik Ali pada Rizky.
"Harus banget lo tahu?" tanya Rizky sinis.
"Ya ampun Ky, sama sahabat sendiri aja nggak ngasih tahu," Sahut Eko yang sama penasaran seperti Ali.
"Lo pacaran ya sama Syifa?" tanya Ali.
"Kok gue baru tahu kalau lo pacaran?" tambah Eko.
"Pasti pacaran sih, kalau nggak, Rizky nggak mungkin se-marah itu sama Adam," sahut Ali yang sudah hapal dengan sifat Rizky.
"Iya gue pacaran sama Syifa, lo berdua puas karena udah tahu?"
Ali dan Eko menunjukkan cengiran tak berdosa, "Puas banget," kompak mereka.
Salma yang mendengar obrolan mereka, hanya diam dan merasakan hatinya yang terasa sakit.
"Gue yang kenal lo lebih dulu dari dia, tapi kenapa harus dia yang lo pilih?" gumam Salma dalam batinnya.
Dua jam pelajaran berlalu, kini saatnya seluruh siswa dan siswi merasakan kesegaran udara yang memanggil mereka di kantin.
Kedua bola mata Rizky melihat ke arah sekeliling kantin. Gadis yang ia cari tidak kunjung ia lihat.
"Nyari Syifa?" tanya Ali yang melihat Rizky sedang mencari seseorang.
" Ke kelasnya aja sana," suruh Eko.
"Harus banget gue ke kelas Syifa?" tanya Rizky datar.
"Lo mau terjadi sesuatu lagi sama Syifa? Lo nggak sayang dia?" tanya Ali berbondong-bondong.
Rizky bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kantin tanpa berpamitan kepada dua sahabatnya.
"Nyelonong aja terus," decak Eko.
"Ya namanya juga Rizky," sahut Ali menepuk bahu Eko pelan.
Rizky berjalan dengan cepat menuju kelas Syifa. Ia melihat dari balik jendela, gadis itu sedang menyandarkan kepalanya ke dinding.
"Syif," panggil Rizky pelan seraya memasuki ruang kelas.
Syifa terdiam melihat kedatangan Rizky. Pria itu langsung duduk di kursi kosong yang berada di sebelah Syifa.
"Lo sakit?" tanya Rizky khawatir melihat wajah Syifa yang nampak pucat.
"Cuma pusing sedikit aja," jawab Syifa pelan.
Rizky menempelkan telapak tangannya pada kening Syifa, ia merasakan kening yang hangat. "Lo demam Syif," ucap Rizky khawatir.
"Lo udah minum obat? Ke UKS aja yuk, atau mau ke dokter aja?" tanya Rizky berbondong-bondong.
Kedua sudut bibir Syifa mengembang. Ia melihat Rizky lekat, " Lo udah nggak marah lagi sama gue?" tanya Syifa.
Rizky melihat gadis disampingnya dengan tatapan sendu, ia langsung menyandarkan kepala Syifa di pundaknya. Ia menggenggam erat tangan Syifa.
...Kamu boleh nangis, tertawa, ataupun marah sama aku , aku akan terima semuanya. Tapi, aku nggak mau lihat kamu seperti ini....
Syifa merasakan genggaman tangan Rizky yang erat di tangannya yang mampu menenangkan pikirannya.
__ADS_1
...Saat aku lelah atau merasa terancam, kamu selalu ada untukku, meskipun dengan sikap yang berbeda setiap kalinya, tapi bagiku, kamu tetaplah pria dingin yang membuatku jatuh hati....