
Di bawah pohon besar yang hijau, Adam duduk menatap langit-langit biru yang menghiasi hari ini. Langit, cuaca, serta hembusan angin sangat bagus hari ini, namun tidak sama dengan suasana hati Adam.
"Dam .. "
Adam sangat kenal dengan suara yang memanggilnya, suara itu terdengar sangat lembut.
Syifa memberanikan dirinya untuk duduk di samping pria itu. Sesekali ia melirik Adam yang terlihat beda. “Maaf gue..”
“Andai gue tau rasanya akan sesakit ini, lebih baik dari awal gue nggak kenal lo.”
“Dam, maaf..” ucap Syifa.
"Kenapa sih lo nggak terima gue?” tanya Adam seraya menatap Syifa dengan lekat.
"Bukannya gue nggak mau, gue takut untuk benar-benar memahami perasaan seseorang.”
"Kenapa sih lo selalu ngejar Rizky? jelas-jelas Rizky itu nggak nganggap lo!” ucap Adam dengan nada sedikit tinggi.
"Setidaknya lo coba buka hati lo buat gue, Syif. Coba untuk nerima perasaan gue" ucap Adam.
"Coba untuk memulai semuanya sama gue, Syif .. " timpal Adam lagi.
Syifa terjebak dalam suasana yang dapat membunuhnya, dadanya terasa sesak, keringat dingin mulai mengalir pada tubuhnya, jantungnya berdegup dengan sangat cepat. "Perasaan atau suatu hubungan itu bukan untuk bahan percobaan, Dam. Gue harap lo bisa ngerti," ucap Syifa segera bangun dari duduknya dan beranjak pergi.
“Gue kurang apa Syif? gue nggak kalah ganteng dari Rizky, gue juga pintar. Apa kurangnya gue, Syif?”
“Lo terlalu mengejar orang yang lo cintai, sampai lo lupa kalau di depan mata lo ada orang yang benar-benar tulus mencintai lo.”
Syifa terdiam. Dadanya terasa sesak sekali, ia sangat merasakan bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan. Sakit, sangat sakit. Tapi bagaimanapun juga, cinta tidak bisa dipaksakan.
“Cinta itu nggak bisa dipaksa!” ucap seseorang.
Adam dan Syifa menoleh, melihat ke arah sumber suara
Kedua mata Syifa terbuka saat melihat sosok Rizky yang berada di belakangnya. Pria itu berjalan sembari tersenyum menuju ke arahnya.
“Cinta itu tulus dari hati, jadi nggak bisa dipaksa dengan alasan lo yang tulus mencintai dia” ucap Rizky seraya menepuk bahu Adam.
“Nggak usah sok ngajarin gue!” Adam melepaskan tangan Rizky dari bahunya dengan kasar.
“Lo nggak usah dekatin Syifa kalau tujuan lo cuma buat mainin perasaan dia!” ucap Adam penuh dengan.
Rizky tersenyum, kemudian menggenggam tangan Syifa. “Ayo, gue perlu ngomong berdua sama lo” ucap Rizky.
Syifa menganggukkan kepalanya, seraya mengiakan ajakan Rizky.
Adam mengepal tangannya kuat, ia berusaha menahan emosinya saat melihat Syifa pergi bersama Rizky.
°°°°°
Syifa melepaskan pegangan tangan Rizky dengan kasar, membuat Rizky menghentikan langkahnya. “Kenapa?” tanya Rizky datar.
“Rizky mau ngomong apa?” tanya Syifa balik.
“Nggak."
“Tadinya katanya perlu ngomong berdua."
“Nggak jadi."
"Lo sebenarnya suka nggak sih sama gue?" tanya Syifa.
"Yakin mau tau jawabannya?"
Syifa memberanikan diri untuk memandang Rizky. “Rizky udah suka sama seseorang ya?” tanya Syifa
Rizky terdiam sejenak, ia berpikir sebentar lalu kembali membuka suara, “Iya,” jawabnya singkat.
Syifa memegang ujung roknya, hatinya terasa hancur saat mendengarnya. “Anak sekolah sini?” tanya Syifa penasaran.
“Iya,” jawab Rizky.
“Cewek itu beruntung banget disukain sama Rizky” ucap Syifa pedih.
Syifa mengatur napasnya, berusaha menahan air mata yang ingin terjatuh. Ia menundukkan kepalanya, enggan untuk melihat ke arah Rizky.
__ADS_1
Rizky mengangkat dagu Syifa, membuat kedua mata gadis itu menatapnya dengan lekat. Perlahan kedua sudut bibir Rizky mengembang, tidak seperti senyuman kecil yang selalu Rizky tunjukkan, melainkan sebuah senyuman hangat yang sangat tulus.
“Lo harus tanggung jawab” ucap Rizky pelan.
“Tanggung jawab apa? gue kan nggak ngelakuin apa-apa?” tanya Syifa bingung.
“Lo udah bikin gue jatuh cinta."
Syifa terdiam, otaknya berpikir keras, apa maksudnya dari ucapan Rizky. Syifa merasakan jantungnya yang berdegup dengan cepat.
“Maksudnya?” tanya Syifa masih tidak mengerti ucapan Rizky.
"Kalau lo udah jatuh cinta sama seseorang, kenapa harus minta tanggung jawabnya sama gue?" tanya Syifa tidak mengerti.
"Karena, gue jatuh cintanya sama lo,” ucap Rizky memperjelas ucapannya.
“A.. apa? jatuh cinta?” tanya Syifa memastikan bahwa ia tak salah dengar.
“Masih kurang jelas ucapan gue?” tanya Rizky seraya mendekatkan wajahnya dengan wajah Syifa.
“Gue jatuh cinta sama lo,” bisik Rizky dengan lembut.
Suara Rizky terdengar sangat hangat. Membuat kedua pipi Syifa memerah. Jantungnya berdegup semakin tidak beraturan. “Ini serius? nggak bohong?”
“Nggak”.
Syifa tersenyum senang, jika saat ini ia punya sayap, pasti ia sudah terbang ke udara. “Apa yang bikin lo jadi jatuh cinta sama gue?” tanya Syifa memastikan.
“Apa seseorang harus punya alasan untuk mencintai?”
Syifa terdiam. Benar juga! bahkan sampai detik ini Syifa tidak mempunyai alasan bagaimana bisa ia jatuh cinta pada Rizky sejak pandangan pertama.
Rizky terkekeh pelan. Tangannya mengacak-acak pucuk kepala Syifa pelan. “Kalau pun gue tanya sama lo alasan lo jatuh cinta sama gue, pasti lo nggak akan bisa jawab,” ucap Rizky.
“Karena nggak perlu ada alasan untuk mencintai seseorang," tambah Rizky.
Lagi-lagi Syifa dibuat terdiam. Sejak kapan Rizky bisa jadi seperti ini, dari mana pria itu belajar kata-kata seperti itu. Syifa mengulum bibirnya, menahan agar tidak berteriak kegirangan.
Syifa tidak bisa lagi menahan senyumnya, kedua sudut bibirnya mengembang dengan sangat lebar. Sangat terlihat jika Syifa begitu bahagia. Bukan hanya Syifa saja, Rizky pun begitu, baru kali ini senyum di bibirnya tidak memudar sedikit pun.
°°°°°
Rizky memasuki ruang kelasnya. Saat ia masuk seisi kelas yang ramai langsung hening seketika. Beberapa pasang mata menatapnya heran. Rizky tidak peduli dengan teman-temannya yang terlihat heran. Ia lebih memilih duduk di kursinya dan memasang earphone di telinganya.
“Teman lo kenapa?” tanya Gaeun pada Ali dan Eko yang ikut terheran-heran melihat Rizky.
“Kesambet kali” jawab Eko enteng.
“Lagi senang banget kayaknya tuh anak” ucap Ali akhirnya ikut bersuara.
“Tumben dia bisa berekspresi kayak gitu, biasanya diam aja kayak batu” ucap Gaeun.
Ali dan Eko menghampiri Rizky yang berada di tempat duduknya. Pria itu nampak asyik dengan earphone miliknya. “Lagi senang lo ya?” tanya Ali membuka pembicaraan.
“Iya,” jawab Rizky.
Ali mendekatkan wajahnya dengan wajah Rizky, membuat jarak diantara keduanya sangat tipis. “Muka lo kelihatan senang banget, kayak orang dapat warisan” ucap Ali.
“Jauh-jauh lo dari gue!” Rizky mendorong wajah Ali dengan kasar.
“Tadi pagi baku hantam, sekarang lo malah kelihatan senang. Lagi kenapa sih lo hari ini?” tanya Eko penasaran.
“Nanya terus lo berdua kayak Dora!” ucap Rizky.
“Eh, lo nggak pernah belajar apa ya? pepatah mengatakan, malu bertanya sesat di jalan. Jadi kalau lo nggak pengen tersesat, lebih baik bertanya” ucap Eko.
Rizky dan Ali terdiam sejenak, mencerna ucapan temannya itu dengan matang. Lalu saling melihat satu sama lain. “Beda konteks, *****!” Ali memukul kepala Eko dengan buku tulis yang berada di atas meja.
“Kan itu perumpaan aja, lo berdua mah otaknya dangkal!” gerutu Eko.
“Lo lagi kenapa sih? jangan bikin penasaran dong” ucap Ali sangat ingin tahu alasan mengapa Rizky sangat terlihat senang.
“Lo dapat warisan, Ky? atau lo dapat perusahaan bokap lo yang setiap bulan menghasilkan uang miliaran itu?” tanya Eko.
“Usttt! kata Pak Ustadz nggak boleh ngomongin kekayaan, Riya’ hukumnya.” Jawab Rizky sedikit tertawa.
__ADS_1
“Serius Ky! jangan bikin penasaran!” ucap Ali dan Eko bersamaan.
“Jangan serius-serius ah, nanti bubar” sahut Rizky tenang.
“Selama sahabatan sama Rizky, baru kali ini gue lihat dia bahagia banget” bisik Eko pada Ali.
“Iya gue juga begitu, biasanya mah meneng bae. Ora senyum-senyum” sahut Ali seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Rizky melihat ke arah kedua sahabatnya, lalu bertanya, “Sekarang tanggal berapa?”.
“Empat belas” jawab Eko dan Ali kompak.
“Kenapa?” tanya Ali.
“Gak apa-apa” jawab Rizky dengan senyum yang masih terlukis di bibirnya.
Eko mendengus sebal, baru kali ini ia benar-benar dibuat penasaran dengan Rizky. “Cuih, jawabannya kayak cewek!”
Salma bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Ali dan Eko yang berada di depan Ken. “Lo pasti mau nanya Rizky kenapa, iya kan?” tebak Eko.
Salma menganggukkan kepalanya cepat
“Lagi kesambet dia” ucap Eko tanpa pikir panjang.
“Usttt! Kalau ngomong sembarangan aja lo” sahut Ali.
“Sebelumnya gue belum pernah lihat Rizky senang banget, baru kali ini. Apa jangan-jangan karena Syifa?” tanya Salma dalam hati.
°°°°°
Pelajaran berakhir, tidak seperti biasanya. Rizky segera membuka blazernya, dan memasukkan ke dalam tas, hanya menyisakan kemeja putih dan juga dasi. Lalu, bergegas keluar kelas.
Ali dan Eko saling melihat satu sama lain. “Kok tingkah Rizky sama persis kayak waktu lo pertama jadian ya?” ucap Eko.
“Emang iya?” tanya Ali.
“Iya. Pulang buru-buru banget, eh taunya ke kelas sebelah” jawab Eko.
Menyedari ucapan Eko, Ali langsung melihat temannya itu dengan lekat, “Jangan-jangan Rizky..” Ali dan Eko segera mengambil tasnya dan berlari keluar kelas.
“Syifa mana?” tanya Eko pada Ersya yang kebetulan bertemu dengannya di depan pintu kelas.
“Pulang duluan” jawab Ersya.
“Kemana? sama siapa?” tanya Ali berbondong-bondong.
“Kalian kenapa sih?” tanya Ersya melihat tingkah kedua pria itu.
“Feeling gue mengatakan kalau Rizky buru-buru keluar kelas itu karena ada sesuatu sama Syifa” ucap Eko.
“Hahaha.. Rizky? Syifa?” kalian nggak tau?” tanya Ersya seraya tertawa.
Eko dan Ali menatap Ersya lekat. “Emangnya mereka kenapa?” tanya Ali.
“Mereka itu pacaran” jawab Ersya.
Kedua mata Ali dan Eko terbelalak, mulutnya terbuka sempurna. “Hah? Gue nggak salah dengar?” tanya Eko memastikan.
“Kok bisa?” tanya Ali.
Ersya mengangkat bahunya seraya tersenyum, “Mungkin Rizky dapat hidayah” jawab Ersya enteng.
“Tapi nggak tau juga sih, soalnya Syifa nggak cerita secara detail” tambah Ersya.
“Pantas aja tuh anak dari tadi kelihatan senang” ucap Eko.
“Tuh kan! bener dugaan gue, Rizky itu sebenarnya suka tapi gengsi” ucap Ali.
“Berarti gue doang nih yang jomlo?” lirih Eko.
Ali menepuk bahu Eko kasar. “Tenang, nanti di jalanan gue cariin cewek” ucap Eko.
“Yaelah Li, masa nyarinya di jalanan” gerutu Eko.
Salma yang mendengar ucapan mereka bertiga dari balik pintu, harus menelan kekecewaan. Bagaimana bisa ia kalah dengan gadis seperti Syifa?
__ADS_1