
Seoul, Korea Selatan.
Syifa tengah duduk di perpustakaan seraya memutar bolpoinnya, buku yang berada dihadapannya seperti tidak menarik baginya.
Syifa menyandarkan kepalanya di atas meja.
Tuk.. tuk.. tuk..
Syifa mendongakkan kepalanya, melihat orang yang mengetuk mejanya.
Sebuah senyuman menyapa Syifa yang terlihat bingung dengan kehadiran Kai. "Hai," sapa pria itu.
Syifa menutup buku dihadapannya dan menggeser posisi duduknya seraya mempersilahkan Kai untuk duduk disampingnya.
Tring!
Sebuah notifikasi muncul di layar ponsel Syifa, tertera nama Rizky. Syifa dengan cepat menutup layar ponselnya.
Kai melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu menyodorkan tangannya pada Syifa. Syifa menaikkan satu alisnya seraya menatap Kai bingung.
"Ayo ikut gue," ajak Kai.
"Kemana?" tanya Syifa.
Kai tersenyum. Ia langsung menarik tangan Syifa untuk mengikutinya. Syifa hanya diam, menuruti Kai yang mengajaknya entah kemana.
Sampai di parkiran, Kai melepaskan tangannya seraya menunjuk sebuah sepeda yang terparkir disana. Kini Syifa mengerti.
Kai dan Syifa berboncengan menaiki sepeda. Tawa lepas terlihat dari wajah Syifa, begitu pula dengan Kai.
Mereka berdua nampak saling bercerita satu sama lain, walaupun baru beberapa hari mengenal, mereka berdua seolah sangat akrab.
Kai memarkirkan sepeda di depan salah satu toko makanan cepat saji.
__ADS_1
"Lo tunggu sini ya," ucap Kai.
Syifa mengangguk.
Setelah hampir sepuluh menit menunggu, Kai akhirnya keluar dengan membawa burger dan hotdog serta dua minuman.
"Buat lo." Kai memberikan burger dan minuman tersebut pada Syifa.
Syifa tersenyum dan mengambilnya. Mereka duduk di kursi yang berada tidak jauh dari toko makanan cepat saji tersebut.
Syifa melihat burgernya, lalu melihat hotdog yang dipegang oleh Kai. "Kenapa?" tanya Kai.
Syifa tersenyum kaku, "Maaf Kai, mau tuker nggak? Gue nggak suka acar," ucapnya sungkan.
Kai tersenyum, ia langsung menukar hotdog miliknya dengan burger yang Syifa pegang. "Maaf, gue nggak tahu kalau lo nggak suka acar. Lain kali gue kalau beli nggak pakai acar deh, janji," ucap Kai seraya menunjukkan jari kelingkingnya pada Syifa.
Syifa terkekeh seraya membalas jari keliling Kai yang pertanda menyetujui ucapan pria itu.
"Gue sebenernya waktu ikut tes program pertukaran pelajar disini itu nggak terlalu berharap untuk lolos, soalnya gue nggak fasih bahasa Korea dan ternyata keberuntungan berpihak sama gue," ucap Kai seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Serius? Wah, lo beruntung banget Kai, tapi gimana lo pahamin pelajaran disini kalau lo sendiri agak susah gunain bahasanya?" tanya Syifa.
"Gue bisa bahasa Korea cuma dasar-dasarnya aja, kalau ada orang yang ngomongnya cepat gue masih bingung, gue tahu apa yang diomongin, tapi gue masih susah untuk jawabnya," jelas Kai.
Syifa terkekeh, pantas saja Kai jarang sekali berkomunikasi menggunakan bahasa Korea.
"Gwaenchanha, geogjeongma dowajul salam-i iss-eunikka (Nggak apa-apa, jangan khawatir, ada aku yang bisa bantu kamu)," goda Syifa seraya menyenggol bahu Kai.
Kai terdiam sejenak, Kai nampak berusaha berpikir apa yang diucapkan oleh Syifa.
Kai tersenyum, ia menyentil kening Syifa pelan. "Nal gyesog nollyeo (Teruslah menggodaku)."
Kai sesekali melirik Syifa yang nampak lahap menyantap hotdog miliknya. Kedua sudut bibir Kai mengembang, bersama Syifa saat ini membuatnya merasa nyaman.
__ADS_1
Kai mengambil ponsel dari dalam sakunya, lalu memotret Syifa tanpa sepengetahuan gadis itu. Kai mengunggah foto tersebut ke instastory di akun instagram miliknya dengan tulisan, 'terima kasih' dengan emoticon bunga matahari yang ia letakkan dipojok kanan dengan ukuran yang sangat kecil.
*****
Kai dan Syifa kembali berkeliling Seoul menggunakan sepeda yang disediakan oleh asrama. Mereka berdua tidak mempunyai tujuan yang jelas, namun Kai terus mengayuh pedal sepeda dan hanya mengikuti jalan seraya mengobrol dengan Syifa.
Tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras, membuat Kai terpaksa berhenti dan berteduh di halte bersama Syifa.
Syifa menadangi air hujan yang terjatuh dengan telapak tangannya. Ia terlihat sangat senang saat melihat banyak air yang terkumpul di telapak tangannya.
Kai melepaskan blazernya dan menyisakan kemeja putih panjang yang ia pakai, lalu memakaikan blazer tersebut pada Syifa.
Kai menakupkan wajah Syifa dengan telapak tangannya. Kedua mata Syifa membulat, ia merasakan detak jantung yang seolah berhenti mendadak saat melihat wajah Kai yang sangat dekat tangannya. Begitu juga dengan Kai yang merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Kai dan Syifa saling menatap satu sama lain untuk beberapa menit, hingga akhirnya tatapan tersebut sirna ketika klakson bus berbunyi.
Mereka berdua sangat salah tingkah, Kai menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia bingung harus melakukan apa untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Blazernya lo pakai aja, nanti lo kedinginan," Syifa membuka pembicaraan setelah beberapa detik lalu hanya saling diam.
"Nggak apa-apa, lo pakai aja blazer gue," ucap Kai masih dengan rasa gugupnya.
Syifa tersenyum, ia menyenggol bahu Kai. "Lo kenapa sih? Kayak gugup gitu?" goda Syifa.
“Hm.. hujannya kayaknya udah reda deh Syif. Pulang yuk,” ucap Kai mengalihkan pembicaraan.
Kai langsung membawa sepedanya untuk menghindari Syifa yang mengetahui kalau Kai gugup.
Syifa berlari kecil seraya mengikuti Kai yang berjalan lebih dulu di depannya.
...Kali ini hujan turun dengan suasana yang berbeda...
...Tidak ada air mata yang ikut terjatuh bersama derasnya air hujan...
__ADS_1
...Sebuah sentuhan terasa sangat nyata dan nyaman...
...Detak jantung yang tidak beraturan pun seolah mendukung untuk berkata bahwa hari ini sangat luar biasa...