Perfect

Perfect
Bab 12


__ADS_3

Syifa dan Ersya memasuki ruang kelas Rizky dengan senyum yang menghias wajah cantik mereka. Namun, senyum di bibir Syifa harus memudar saat melihat Rizky yang duduk berdampingan dengan Salma. Rizky nampak tertawa lepas dengan gadis itu.


Syifa berusaha menunjukkan senyumnya, menahan rasa cemburunya, meski ia sadar, ia tidak pantas cemburu pada seseorang yang belum menjadi pasangannya.


“Hai, bee” sapa Ali saat melihat kedatangan Ersya.


“Bee? lo manggil gue lebah?” tanya Ersya polos.


“Nggak gitu. Cuma ya seterah lo aja deh ngartiinnya” ucap Ali.


“Hehe canda kok” ucap Ersya dengan manja.


“Tau kok, sayang” sahut Ali tak mau kalah.


Syifa menatap Rizky yang tampak tidak begitu peduli dengan kehadirannya. Pria itu tetap berbincang dengan Salma.


Syifa berusaha menenangkan hatinya dan menunjukkan senyumnya, meski saat ini ia ingin sekali meneteskan air matanya. Apa ini yang dinamakan sakit tapi tak berdarah?


“Ersya, gue balik ke kelas duluan ya” ucap Syifa pelan.


Ersya menoleh ke arah temannya itu, ia mengerutkan keningnya. “Katanya lo mau ketemu..” ucapnya menggantung.


“Nggak jadi, gue balik duluan ya” Syifa tersenyum kecil, lalu beranjak pergi.


Ersya merasa kasihan dengan teman


ya itu. Gadis yang mencintai seseorang tapi tidak dihargai, jangankan untuk dihargai, dianggap kehadirannya pun tidak.


Syifa masuk ke dalam kelasnya, lalu duduk di kursinya. Muncul pertanyaan di benaknya, apa Rizky benar-benar tidak menyukainya? apa harus menyerah secepat ini?


Terkadang sikap Rizky membuat Syifa berpikir kalau pria itu menyukainya. Entah Syifa yang terlalu berharap atau memang Rizky yang memberikan harapan. Syifa pun tidak mengerti.


°°°°°


Sepasang bola mata Rizky melihat sekeliling kantin, namun ia tidak menemukan sosok yang ia cari. "Gue ke kelas duluan ya" ucap Rizky bangkit dari duduknya.


"Ikut Ky," ucap Salma yang ikut bangkit dari duduknya.


"Udah lo disini aja, gue lagi ingin sendiri."


Salma hanya diam dan menuruti ucapan Rizky, ia duduk kembali sambil melihat punggung pria itu yang perlahan menjauh.


Rizky berjalan meninggalkan area kantin, ia berjalan menuju kelas, namun bukan kelasnya, melainkan kelas Syifa. Rizky melihat dari balik jendela kelas, gadis itu terduduk sendirian, ia sedang asyik membaca novel miliknya. Kedua sudut bibir Rizky mengembang, ia perlahan masuk ke dalam kelas dan menghampiri Syifa.


"Lo nggak ke kantin?" tanya Rizky berada di tengah-tengah pintu.


Suara itu seketika membuat Syifa melihat ke sumber suara, laki-laki berparas tampan sedang berjalan perlahan ke arahnya.


"Syif, lo nggak ke kantin?" tanya Rizky mengulang pertanyaannya ketika sudah berdiri di hadapan Syifa.


"Malas ke kantin, lagi asyik baca" jawab Syifa datar, mengingat perlakuan Rizky yang dingin padanya.


"Mau gue beliin makanan?” tanya Rizky.


Syifa menggelengkan kepalanya, ia tetap fokus pada novel yang sedang ia baca, tanpa menoleh ke arah pria itu.


"Lo mau makan apa?”


"Nggak.”


Rizky melihat Syifa yang tidak biasa bersikap dingin kepadanya, ia memperhatikan Syifa dengan lekat, gadis itu tampak diam tidak seperti biasanya.


"Lo sehat?”


"Sehat" jawab Syifa singkat.


Rizky menghela napasnya perlahan, “Salma itu bukan siapa - siapa gue, hanya sebatas teman aja” jelas Rizky dengan tenang.


Perkataan Rizky membuat Syifa menatapnya, gadis itu tidak menduga Rizky akan berkata seperti itu, namun ia tetap harus mengontrol dirinya agak tidak terlihat senang. "Ya terus apa masalahnya sama gue?”


Kedua sudut bibir Rizky menunjukkan sedikit senyuman, lalu berkata “Siapa tau aja lo cemburu sama Salma."


"Apaan sih!”


Rizky mengacak-acak pucuk rambut Syifa pelan, "Lo tunggu di sini, gue beliin makanan dulu ya," ucap Rizky berjalan menuju keluar kelas.


Kedua sudut bibir Syifa mengembang, lagi-lagi perlakuan kecil Rizky dapat membuat hatinya bergejolak riang.


"Dasar cowok aneh, kadang dingin, kadang perhatian, tapi kok gue suka ya?" ucap Syifa pada dirinya sendiri.


Rizky memasuki area kantin dan berjalan menuju penjual batagor "Pak, batagor campur satu porsi ya di bungkus, sama air mineralnya satu" ucapnya pada Pak Agus, penjual batagor.


"Ky, " Panggil Eko.

__ADS_1


"Oy.. " sahutnya.


"Bukannya lo tadi udah makan ya? kok beli batagor?" tanya Salma yang menghampiri Ken.


"Buat Syifa" jawab Rizky.


Salma dan Eko saling berpandangan melihat satu sama lain mendengar jawaban Rizky , seketika jawaban pria itu membuat senyum Salma memudar.


"Ini batagor sama air mineral jadi lima belas ribu.”


"Iya pak, makasih " ucap Rizky memberikan uang lima belas ribu pada pak Agus.


"Gue duluan ya, takut Syifa nunggu lama" ucap Rizky seraya menepuk bahu Eko, lalu berjalan menuju kelas Syifa.


Salma hanya melihat punggung Rizky yang berjalan semakin jauh meninggalkannya "Mereka pacaran?" tanya Salma pada Eko.


“Kok pada pacaran sih? Ali istirahat sama Ersya, Rizky sama Syifa, lah gue?” tanya Eko pada dirinya sendiri.


°°°°°


"Ini makan dulu" Rizky menaruh batagor dan air mineral di atas meja Syifa.


"Nih .. " Syifa memberikan uang dua puluh ribu pada pria yang duduk di sampingnya.


“Udah makan aja. Gratis."


"Gratis? lo lagi ulang tahun?” tanya Syifa.


"Emang harus ulang tahun dulu, baru bisa beliin lo makanan?” tanya Rizky balik.


"Udah, makan aja, kapan lagi lo di beliin makanan sama cowok ganteng kayak gue" tambah Rizky lagi.


"Kepedean!” sahut Syifa dengan penekanan.


Tok .. Tok .. Tok ..


Syifa dan Rizky menoleh ke arah pintu. "Maaf gue ganggu ya?" tanya Adam yang berdiri di depan kelas.


“Iya ganggu banget" Sahut Rizky dengan tidak ramah.


"Sini Dam masuk .. " ucap Syifa menyuruh Adam masuk.


Dengan senyum yang muncul dari bibir Adam dan kepercayaan diri yang tinggi, ia berjalan menghampiri Syifa dan duduk di hadapan gadis itu.


"Lagi asyik baca tadi , jadi malas ke kantin" ucap Syifa seraya menyantap Batagor yang diberikan oleh Rizky.


"Makan yang banyak , biar Lo nggak sakit" ucap Adam.


Syifa menganggukkan kepalanya pelan, seraya mengiakan perkataan Adam.


Rizky menunjukkan senyum sinisnya. "Nggak usah sok perhatian, saat Syifa nggak makan tadi, lo kemana? nggak ada kan?”


SKAKMAT! Seketika ucapan Rizky membuat Adam diam seribu bahasa. Rizky memang hebat membuat lawan bicaranya kalah telak. Senyum sinisnya muncul melihat Adam berhenti bicara.


"Wih ada apa nih kumpul bertiga gini ?" tanya Ersya yang baru saja memasuki ruang kelas.


"Bakar - bakar" jawab Rizky dengan nada sedikit tinggi.


"Santai aja Ky, jangan nge-gas " sahut Ersya dengan tawa kecilnya.


Rizky memasang raut wajah datar, “Dari mana lo? lo lebih milih pacaran dari pada istirahat sama teman lo?”


“Mangkanya lo ajak teman gue pacaran, supaya dia nggak sendirian lagi” sahut Ersya santai.


Adam dan Diandra membelalakkan kedua matanya saat mendengar penuturan konyol Ersya.


"Gue ke kelas ya, Syif" ucap Rizky seraya bankit dari duduknya.


"Loh, kok ke kelas sih?” tanya Syifa.


"Udah ada Adam, ada Ersya juga, jadi gue balik ke kelas aja, yang penting lo udah nggak sendirian” jawab pria itu.


“Mangkanya ajak teman gue pacaran, kalau lo nggak mau dia sendirian!” ucap Ersya lagi dengan penekanan.


Rizky mendekatkan wajahnya pada telinga Syifa,. "Makan yang banyak, habisin sama bungkusnya kalau perlu" bisik Rizky diiringi senyum yang membuat ketampanannya berlipat ganda.


Kedua sudut bibir Syifa membentuk sebuah senyuman , lalu berkata "Makasih ya Ky batagornya.”


"Sama – sama” sahut Rizky seraya mengacak-acak pucuk rambut Syifa pelan.


°°°°°


Jam pelajaran telah selesai, Rizky bergegas keluar kelas tanpa menunggu Ali dan Eko seperti biasanya.

__ADS_1


Ali dan Eko saling menatap satu sama lain, mereka merasa heran dengan tingkah temannya itu hari ini.


“Kok dia jalan ke kelas sebelah?” tanya Ali.


“Mau ketemu Ersya kali” jawab Eko tak berdosa.


“Mau ngapain dia ketemu pacar gue?”


“Mau nikung” jawab Eko tertawa.


“Sialan lo kalau ngomong sembarangan aja!” gerutu Ali.


Salma hanya terdiam saat melihat Rizky yang mulai sadar dengan kehadiran Syifa. Walaupun hatinya terasa sakit, tapi ia harus mencoba untuk membiasakan dirinya untuk tidak menyukai pria itu lagi, meskipun sangat sulit.


°°°°°


Dikelas 10 IPA 2 sudah nampak sepi, tersisa Ersya dan Syifa sedang merapikan dan memasukkan buku ke dalam tas mereka.


"Ekhm.. "


Suara itu membuat Ersya dan Syifa menoleh bersamaan "Eh ada Rizky, " ucap Ersya yang melihat pria itu berdiri di depan pintu.


"Gue duluan ya, Syif," ucap Ersya seraya cepat-cepat memasukan bukunya.


"Bareng dong."


"Lo sama Rizky aja ya, Bye !” ucap Ersya berjalan keluar kelas.


Rizky menepuk bahu Ersya, saat gadis itu melintas di dekatnya. “Pengertian banget sih lo.” ucap Rizky diiringi senyum manisnya.


“Jelas!!” sahut Ersya.


"Syif.., " ucap Rizky berjalan masuk menghampiri Syifa yang masih memasukkan bukunya ke dalam tas.


"Kenapa Ky?" tanya Syifa.


"Syifa..," panggil dua orang yang berada di depan pintu kelas secara bersamaan.


"Ih, lo ngapain sih lo! ikut-ikutan aja " ucap Juna yang melihat Adam berada di depan kelas Syifa dan memanggil gadis itu.


"Lo yang ikut-ikutan!” sahut Adam dengan sedikit nada tinggi.


Rizky dan Syifa menoleh ke arah Adam dan Juna yang sedang debat di depan pintu kelasnya.


"Syifa, pulang sekolah kita jalan dulu yuk" ajak Juna.


“Jangan mau jalan, capek!” sahut Rizky.


"Kita makan siang bareng aja yuk, Syif" ajak Adam.


“Jangan mau juga, nanti disuruh bayar sendiri," sahut Rizky tak berdosa.


Juna dan Adam mengepal tangan mereka kuat-kuat. Rasanya ingin segera memukul Rizky dengan keras.


Rizky tersenyum kecil, lalu menggenggam tangan Syifa. “Syifa mau pergi sama gue" ucapnya dengan santai.


Syifa menatap masker lekat, ia heran dengan perkataan pria itu. Dengan segera Rizky memberikan kode kepada Syifa agar mengerti maksudnya. Untung saja gadis itu mengerti apa maksud Rizky.


“Lo benar mau pergi sama Ky?” tanya Adam dan Juna bersamaan.


“Iya kan kita mau pergi berdua?” ucap Rizky seraya mengedipkan matanya pada Syifa yang sedari tadi terlihat bingung.


"I.. i.. iya, maaf ya, gue udah ada janji sama oli geat" ucap Syifa yang mengerti kode yang diberikan oleh Rizky.


"Ayo Syif," ucap Rizky seraya menarik pergelangan tangan Syifa dan berjalan meninggalkan Adam dan Juna berdua di dalam kelas.


Kedua sudut bibir Syifa mengembang, ia melihat tangannya yang digenggam erat oleh Rizky. Sesekali ia melihat ke arah pria itu, ia masih tidak menyangka bisa berjalan beriringan dengannya. Ini bukan mimpi, tapi sangat sulit untuk dikatakan nyata.


“Ky, gue boleh tanya nggak?”


“Apa?” Rizky memberhentikan langkah kakinya dan menatap Syifa dengan lekat.


“Lo sebenarnya suka nggak sih sama gue?” tanya Syifa setelah mengumpulkan keberanian.


Rizky terdiam sejenak, ia menatap gadis itu, “Kalau suka kenapa? kalau nggak suka kenapa?” ucap Rizky berbalik bertanya pada Syifa.


“Kalau lo nggak suka, gue bisa mundur” jawab Syifa pasrah.


Rizky mendekatkan wajahnya dengan wajah gadis itu, “Apa karena Adam? atau Juna? jadi lo mau mundur, lo lebih suka mereka?” tanya Rizky.


“Bukan karena mereka, lagi pula gue nggak suka mereka, gue cuma lelah aja berharap dapatin lo” jawab Syifa jujur.


“Kalau lo lelah, istirahat dulu, gue nggak suka dengar lo bilang nyerah, apalagi mundur.” Bisik Rizky seraya tersenyum kecil.

__ADS_1


__ADS_2