Perfect

Perfect
Bab 48


__ADS_3

Kai termenung sendirian seraya melihat fotonya bersama Syifa. Setelah satu bulan lalu Kai mengungkapkan perasaannya pada Syifa, membuat kedekatan diantara mereka menjadi renggang, bahkan setiap kali bertemu dengan Kai, Syifa selalu menghindar. Tapi hari ini adalah hari terakhir Kai di Korea, Kai ingin sekali bertemu Syifa dan memeluk gadis itu dengan sangat erat untuk terakhir kalinya, karena Kai tahu, jika sudah kembali ke Jakarta nanti, kehidupannya dan Syifa akan kembali seperti sebelumnya, dimana mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing dan tidak mengetahui kalau mereka hidup di negara yang sama.


Kai mengirim sebuah pesan singkat pada Syifa, berharap gadis itu akan membacanya.


Tring!


Sebuah pesan singkat dari Kai muncul di layar ponsel Syifa. "Syif, hari ini gue pulang ke Jakarta. Terima kasih buat semuanya, gue nggak pernah nyesal ketemu sama lo." Tulis Kai pada pesan singkat tersebut.


Detak jantung Syifa seolah berhenti. Perlahan air matanya terjatuh. Syifa langsung bangkit dan berlari keluar kelas.


Syifa mencoba menghubungi Kai beberapa kali, namun pria itu tidak menjawab panggilan tersebut.


Tangis Syifa pecah, ia tidak bisa menahan rasa sedihnya, ia juga tidak bisa membohongi perasaanya sendiri kalau ia juga menyukai Kai.


"Gue pikir lo ngga akan sedih kalau gue pergi," ucap Kai yang berdiri di belakang Syifa.


Syifa menoleh, dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. "Kai," lirihnya.


Syifa hampir saja menyerah dan marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa bertemu dengan Kai sebelum pria itu kembali ke Jakarta. Namun semesta masih mengizinkan mereka untuk bertemu dan membuat kenangan perpisahan.


Kai memajukan beberapa langkahnya dan memeluk Syifa dengan sangat erat. Walaupun perpisahan mereka hanya sementara, tapi Kai terasa sangat berat untuk meninggalkan Syifa.


Syifa terus terisak dalam pelukan Kai. "Jangan nangis, Syif," ucap Kai seraya menahan air matanya yang ingin terjatuh karena melihat tangis Syifa yang semakin menjadi.

__ADS_1


Kai melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata Syifa. "Jangan nangis ya," ucapnya.


Syifa semakin sedih melihat Kai yang berpura-pura kuat di depannya.


Kai mengatur napasnya, dadanya terasa sesak saat menahan tangisnya. "Syif, gue senang banget kenal lo, gue senang kita ngehabisin waktu bareng."


Syifa menyeka air matanya yang terus terjatuh dengan deras. "Kita masih bisa ngehabisin waktu bareng lagi, kan?"


Kai mengangguk seraya tersenyum. Sekuat Kai menahan rasa sedihnya, tetap saja, air matanya tetap terjatuh.


"Gue suka sama lo, Syif," ucap Kai keras.


"Gue ngga bisa bohongin perasaan gue lagi, gue juga suka sama lo, maaf gue udah cuek dan pura-pura ngga suka sama lo."


Syifa mengangguk.


Kai melepaskan pelukannya, menghapus air mata Syifa. "Udah ya jangan nangis," ucapnya.


Syifa menyeka air matanya sendiri, "Lo juga jangan nangis," ucapnya terbata-bata karena terlalu terisak dalam tangisnya.


"Gue berangkat ya, Syif," ucap Kai.


Syifa mengangguk. Dadanya sampai terasa sangat sakit karena menangis terlalu keras.

__ADS_1


Entah kenapa Syifa merasa perpisahannya dengan Kai jauh lebih menyedihkan dibanding perpisahannya dengan Rizky.


Syifa melambaikan tangannya pada Kai, begitu juga Kai yang melambaikan tangannya. Syifa bisa melihat jelas kalau Kai berusaha untuk tersenyum, namun mata Kai menunjukkan kalau ia sangat sedih.


"Kai, i love you," ucap Syifa.


"I love you too, Syifa," balas Kai dengan lantang.


Syifa memaksakan bibirnya untuk tersenyum, agar Kai tidak sedih lagi, walaupun sebenarnya Syifa ingin menangis sekencang-kencangnya.


Kai melangkahkan kakinya meninggalkan Syifa dengan membawa koper dan tas yang ia gendong.


Melihat Kai yang sudah cukup jauh, Syifa menangis sekencang-kencangnya, tidak peduli dengan matanya yang akan sembab. Syifa mengingat banyak sekali momen yang telah ia buat dengan Kai. Kini Syifa menyadari perasaannya, bahwa cintanya pada Kai jauh lebih besar dibandingkan perasaannya pada Rizky.


Air mata Kai tidak berhenti menetes, bahkan tangis Kai membuat dadanya terasa sangat sakit. Ini perpisahan sementara, tapi mengapa rasanya sesakit ini? Bagaimana nanti jika Kai melihat Syifa bersama dengan orang lain?


...Terima kasih sudah menjadi pendengar yang baik...


...Terima kasih sudah membuat kenangan bahagia selama kita bersama...


...Memang benar, setiap pertemuan pasti ada perpisahan, walaupun perpisahan ini menyakitkan, tapi aku tidak menyesal karena bertemu denganmu....


...Untuk gadis yang telah membuatku berhenti menyalahkan diriku sendiri, sekali terima kasih dan aku mencintaimu....

__ADS_1


Kai melihat langit berwarna biru cerah dengan gumpalan awan putih yang menyatu. Hembusan angin mencoba untuk membuatnya terasa lebih baik, tapi ternyata tidak, justru hembusan angin membawanya untuk mengingat momen-momen yang pernah ia lakukan bersama dengan Syifa. Kai harusnya paham kalau rasanya akan sesakit ini, bahkan rasa sakit ini belum seberapa, karena Kai belum melihat Syifa bersama dengan kekasihnya. Mungkin Kai sudah bisa sedikit lega karena Syifa juga menyukainya, tapi bukan berarti ia bisa memiliki Syifa sepenuhnya, karena di hati Syifa masih ada orang lain yang jauh lebih dulu mengisi hatinya.


__ADS_2