Perfect

Perfect
Bab 13


__ADS_3

Pukul 06.05 WIB. Terlihat beberapa murid berkerumun di pinggir lapangan. Mereka mempertontonkan Adam yang tengah berlutut di hadapan Syifa.


"Gue cinta sama lo, Syif, gue mau lo kasih kesempatan gue untuk jadi pacar lo," ucap Adam yang tidak merasa malu pada posisi berlututnya.


"Dam, bangun, nggak enak dilihatin," ucap Syifa menarik pergelangan tangan Adam, menyuruh pria itu untuk bangkit.


"Biarin Syif, biar orang - orang tau, kalau gue serius sama lo.” Adam masih kekeuh pada posisi berlututnya.


"Lo mau kan jadi pacar gue?" tanya Adam.


Syifa menggigit bibirnya kuat-kuat, jantungnya berdegup cepat, dirinya sangat bingung saat ini. Jika ia menjawab Iya, berarti Syifa setuju jika Adam menjadi kekasihnya, tapi, jika Syifa menolaknya, sama saja ia mempermalukan Adam di depan banyak orang. Dan, Syifa tidak ingin melakukan itu.


Rizky yang melihat kejadian konyol itu dari kejauhan memperlihatkan senyum sinisnya. “Drama!".


Rizky berjalan menghampiri kerumunan yang membentuk sebuah lingkaran di pinggir lapangan. "Drama lo!” ucapnya ketika berada di dalam kerumunan.


Seluruh pasang mata mengedarkan pandangannya ke arah Rizky. Kedua sudut bibir pria itu mengembang.


“Syifa itu nggak mau jadi pacar lo," ucap Rizky, lalu menggenggam tangan Diandra dengan erat.


Jantung Syifa kembali berdegup normal saat Rizky menggenggam tangannya, ia merasa tidal perlu lagi menjawab ucapan Adam. Dalam hati Syifa sangat bersyukur berkali-kali atas kedatangan Rizky.


Adam bangkit dan melepaskan genggaman tangan Rizky pada Syifa. "Lo tuh cuma mainin dia aja" ucap Adam dengan sedikit nada tinggi.


Rizky tersenyum kecil. "Lo tau dari mana gue cuma mainin dia? lo ada bukti? nggak usah sok jadi orang paling suci!" ucap Rizky tak mau kalah.


"Lo yakin bisa bikin dia bahagia?” tanya Rizky dengan tidak ramah.


Adam menarik kerah seragam Rizky, "Yakin. Gue bisa bahagiain dia, karena gue bukan pengecut kayak lo!”.


Rizky melepaskan tangan Adam dari kerah seragamnya dengan kasar. “Percaya diri banget lo!”.


“Kasihan ya cowok kayak lo, cintanya bertepuk sebelah tangan. Jadi halu!” tambah Rizky dengan penuh penekanan.


Brukkk...


Pukulan keras mendarat di wajah tampan Rizky. Keluar darah segar dari dalam hidungnya. Seluruh pasang mata yang melihat kejadian itu nampak terkejut, tidak biasanya Adam yang dikenal baik dan ramah mampu memukul Rizky.


Tanpa ucapan, Rizky membalas pukulan Adam tanpa jeda sedikit pun, tidak peduli dengan berapa pasang mata yang melihat.


"Udah Ky, udah." Syifa sedikit berteriak dan menarik-narik bagian belakang seragam Rizky.


Ali dan Eko pun ikut memisahkan Rizky dengan Adam. "Udah Ky, kayak anak kecil aja berantem" ucap Ali.

__ADS_1


"Lawan.. lawan .. lawan .. " sorak siswa yang melihat kejadian seru itu.


“Hajar terus Ky, jangan kasih ampun!” celetuk salah satu siswa.


“Adam bangun jangan mau kalah” timpa siswa lain.


“Dasar teman nggak ada akhlak ya lo pada, bukannya pisahin malah ngedukung” gerutu Eko saat melihat teman-temannya malah sibuk mendukung Rizky dan Adam yang terus saling memukul.


"Rizky .. Adam ... Stop!" ucap seseorang dari luar kerumunan. Siapa lagi kalau Pak Ridwan, sang guru killer yang paling hindari oleh para murid.


"Kalau bukan karena Pak Ridwan, mati lo sama gue!" Rizky melepaskan Adam dari pukulannya. Raut wajah pria itu terlihat sangat kesal.


Adam bangkit dan merapikan seragamnya yang sedikit berantakan.


"Rizky, Adam, ikut bapak ke ruang BK" ucap Pak Ridwan yang berjalan terlebih dahulu. Lalu, diikuti oleh Rizky dan Adam.


°°°°°


"Siapa yang duluan mukul?" Pak Ridwan menghentakkan telapak tangannya di meja, sehingga membuat benda berbentuk kubus tersebut bergetar.


Rizky dan Adam diam, tak menjawab apapun.


"Jawab!” bentak pak Ridwan.


"Saya pak" ucap Adam jujur.


"Gara - gara cewek pak" jawab Rizky santai.


Kedua mata pak Ridwan terbelalak, "Apa? cewek? siapa?" tanya Pak Ridwan.


"Syifa," jawab Rizky dan Adam bersamaan.


"Kok Syifa? kenapa?” tanya pak Ridwan penasaran.


"Saya nggak suka Rizky dekat sama Syifa, Pak" jawab Adam.


Kedua sudut bibir pak Ridwan membentuk sedikit senyuman. "Syifa, anak baru yang cantik itu ya, pantas sih kalau kalian sampai berantem," ucap Pak Ridwan diiringi tawa kecilnya.


"Terus, kenapa kamu mukul Adam?” tanya Pak Ridwan pada Rizky.


"Saya salah pak kalau ngelindungin Syifa dari cowok sok suci kayak dia?" raut wajah Rizky menunjukkan kemarahan, namun ia tetap mengontrol emosinya di depan Pak Ridwan.


"Sudah.. sudah.., lebih baik kalian masuk ke kelas masing-masing , jangan berantem lagi.”

__ADS_1


"Baik pak.”


Rizky dan Adam membuka pintu ruangan pak Ridwan. Beberapa murid menunggu di depan ruangan tersebut, tidak terkecuali dengan Syifa.


"Lo takut gue kenapa-napa ya?" Rizky tertawa kecil saat melihat wajah Syifa yang sangat khawatir.


Kedua sudut bibir Rizky mengembang, "Gue baik - baik aja kok" ucapnya lembut.


Adam mengepal tangannya kuat-kuat, menahan emosinya, hatinya terasa sakit saat melihat Syifa begitu khawatir pada Rizky.


"A.. Adam nggak apa-apa kan?” tanya Syifa gugup.


" Iya," jawab Adam singkat.


Rizky menggenggam tangan Syifa, lalu menarik tubuh gadis itu lebih dekat dengannya, “Ayo ke kelas” ucapnya.


Syifa menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak peduli berapa banyak pukulan yang mendarat di wajahku , yang terpenting untukku saat ini , adalah menjaga kamu dari pria lain."


°°°°°


Syifa memasuki ruang kelasnya, seluruh pasang mata yang ada di dalam kelas, melihat Syifa dengan lekat. "Lo pakai skincare apa Syif, sampai dua cowok ganteng sekolah ngerebutin lo" ucap salah satu siswi di kelas itu.


"Syifa, lo pasti punya jimat pemikat ya?" timpal siswi lain.


"Kurang masuk akal ya, ada cewek yang diperebutkan dua cowok ganteng di sekolah” sahut siswi lain.


Syifa mengabaikan ucapan-ucapan itu, ia lebih memilih diam, dan duduk di kursinya tanpa membalas ucapan teman–temannya.


“Di sekolah ini banyak kok cewek yang cantik, tapi kenapa harus Syifa yang diperebutin?” nyinyir siswi lain.


Ersya menghela napasnya, ia sudah tidak sabar lagi dengan mulut sampah teman-teman di kelasnya. Ia bangkit lalu menghentakkan tangannya di meja.


Brakkkk!


“Lo semua pada punya masalah hidup apaan sih? hobi banget nyinyirin orang!” ucap Ersya dengan nada tinggi.


“Kenapa jadi lo yang emosi?” tanya salah satu siswi yang tidak mau kalah dengan Ersya.


“Gue udah nggak bisa sabar dengarin bacot-bacotan sampah kalian!” jawab Ersya dengan nada yang tidak menurun sama sekali.


“Kalau lo nggak bisa jadi kayak Syifa, lo harusnya introspeksi diri. Bukan malah nyinyir! Iri bilang bos!” tambah Ersya.

__ADS_1


Syifa menarik-narik tangan Ersya, menyuruh temannya itu untuk duduk, dan menyudahi perdebatannya. “Sya udah, duduk," ucap Syifa menenangkan Ersya.


“Ternyata benar ya, fungsi mulut itu ada dua. Satu buat makan, dan satunya lagi buat nyinyirin orang!” sindir Ersya.


__ADS_2