
Syifa membuka pintu kamar asrama secara pelan, ia melihat Ersya yang sedang membaca buku di meja belajarnya. "Dari mana lo jam segini baru pulang? " tanya Ersya dengan sedikit nada tinggi.
Syifa menelan ludahnya dengan kasar, melihat Ersya yang tidak ramah padanya. “Gue pergi sama Rizky” jawab Syifa pelan.
"Enak ya lo, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui" sindir Ersya.
Syifa menatap Ersya heran, ia tidak mengerti dengan maksud ucapan Ersya. “Maksudnya, Sya?” tanyanya.
"Lo itu **** beneran apa pura-pura **** sih! lo bisa lolos test sekaligus bisa dapatin Rizky secara bersamaan! hebat banget lo!” jelas Ersya dengan nada yang mulai meninggi.
"Sya lo kenapa sih? lo marah karena gue lolos? gue bisa mundur Sya, demi pertemanan kita" ucap Syifa.
"Asli lo ****! pikiran macam apa kayak gitu, lo mau mundur cuma karena gue? nggak usah pencitraan deh lo! ngga butuh gue teman kayak lo!” Ersya berjalan keluar kamar asrama meninggalkan Syifa.
Air mata Syifa perlahan turun membasahi pipi halusnya, di benaknya muncul pertanyaan "Apakah salah jika dirinya lolos?"
Air matanya turun semakin deras. Ia memegang bagian dadanya yang terasa sesak, kata-kata Ersya seolah menusuk hatinya, sakit sekali, namun hanya dengan menangislah ia bisa menumpahkan apa yang sedang dirasakan saat ini.
Syifa mengatur napasnya perlahan, lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur, matanya terlihat sembab karena tangisannya, tanpa sadar ia tertidur dengan keadaan masih menggunakan seragam sekolah dan sepatu yang masih menempel di kakinya.
Setelah merasa tenang, dan berhasil mengendalikan emosinya, Ersya kembali masuk ke dalam kamar. Ia melihat Syifa yang tertidur pulas, ia berjalan menghampiri gadis itu, perlahan ia mencopot sepatu yang masih menempel di kaki Syifa. Kedua sudutnya sedikit terangkat. "Lo enak ya, Syif, semua yang lo mau bisa lo milikkin, gue iri sama lo, Syif” ucap Ersya pelan dengan tetesan air mata yang terjatuh.
"Sebenarnya gue nggak tega marah sama lo, cuma gue ngga bisa ngontrol emosi gue saat bicara sama lo," timpalnya lagi dengan air mata yang masih berjatuhan.
°°°°°
Pagi itu, sinar matahari perlahan masuk dari sela-sela jendela kamar yang terbuka, jam dinding berbentuk Doraemon menunjukkan pukul delapan pagi. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul delapan, membuat Syifa segera bangkit dari tempat tidurnya.
"Sya kita telat," ucap Syifa seraya menarik handuk yang digantungnya di dekat pintu kamar mandi.
“Telat kemana?” tanya Ersya datar.
“Sekolah lah, Sya” jawab Syifa.
"Ini hari Minggu, Syif. Libur " ucap Ersya.
Syifa membuang napas secara kasar "Syukurlah, gue kira kita akan telat." Syifa merebahkan tubuhnya kembali di tempat tidur. Sesekali ia melirik ke arah Ersya, gadis itu diam sambil membaca bukunya. Syifa kembali dalam posisi duduknya dan menghampiri Ersya.
"Sya.,” panggil Syifa.
Ersya menarik napasnya perlahan, ia berusaha mengontrol emosinya agar tidak meletup-letup. "Apa?” sahutnya dengan nada bicara yang mulai melembut.
"Gue minta maaf, Sya.”
Ersya menutup bukunya, dan melihat Syifa dengan lekat. "Santai aja Syif, bukan salah lo kok" ucapnya dengan nada bicara yang sudah tidak menunjukkan emosi.
__ADS_1
"Sya, gue nggak mau pertemanan kita putus cuma karena hal ini, gue rela nggak ikut program pertukaran pelajar agar gue bisa selalu sama lo," ucap Syifa. Kedua matanya membendung butiran-butiran air mata yang siap meluncur.
Brakkk ..
Ersya menggebrak meja belajarnya, ia melihat Syifa dengan lekat. "Lemah banget sih lo! cuma karena gue, lo ngundurin diri, cupu lo! lo harus buktiin ke gue kalau lo bisa berhasil di program itu.”
"Lo harus tetap maju, lo harus buktiin sama gue kalau lo bisa, jangan bikin gue kecewa, cukup gue aja yang gagal" timpal Ersya lembut.
Kedua sudut bibir Syifa mengembang, ia perlahan mendekati Ersya dan memeluknya dengan erat. "Ersya,” Syifa yang terisak dalam tangisannya.
Ersya membalas pelukan Syifa dengan erat. “Gue minta maaf ya, seharusnya gue terima kegagalan gue dan nggak nyalahin lo, gue sayang lo, Syif.”
"Gue juga sayang lo, Sya, jangan marah lagi ya sama gue.”
Ersya menganggukan kepalanya pelan yang diiringi senyum yang muncul di bibir mungilnya.
"Jangan mundur, maju terus. Lihat, hari indah sudah menyapamu di depan sana.”
°°°°°
Rizky termenung sendiri di rooftop rumahnya, ia memikirkan apa yang telah ia lakukan kemarin. "Aduh, gue bodoh banget sih, kok bisa ya gue ngajak Syifa ke rumah, bahkan gue cerita permasalahan keluarga gue ke dia. Aduh Ky , lo bodoh banget sih" ucap Rizky seraya memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Itu cewek bisa jaga rahasia nggak ya? tapi mayoritas cewek itu mulutnya bocor, aduh gue merasa orang paling bodoh" gerutunya lagi.
"Wehhh," teriak dua orang dari arah belakang Rizky, yang tidak lain tidak bukan adalah Eko dan Ali.
"Mau ketemu sama lo, kangen," goda Ali yang berjalan menghampiri Rizky.
"Unchh, iya nih kangen banget sama lo, Ky, " timpal Eko dengan manja.
Rizky merasa jijik melihat kedua sahabatnya itu. "Sorry, gue masih suka cewek!" ucapnya dengan lantang.
Ucapan Rizky membuat Eko dan Ali saling melihat satu sama lain. "Wahh jangan-jangan lo suka ukhti yang cantik itu ya?" goda Eko lagi dengan tawa terbahak-bahak.
“Ukhti yang cantik siapa?” tanya Rizky polos.
Ali memukul kepala Rizky pelan. "Masih kaku aja lo, ya Syifa lah si anak beasiswa yang wajahnya Masyallah banget.”
"Heh ingat! calon pacar lo itu temannya Syifa!" Eko menepuk bahu Ali dengan kasar.
"Oh iya, Astagfirullah, ingat harus jaga hati buat Ersya" ucap Ali.
"Gue kalau lihat Syifa tuh kayaknya adem gitu, polos, natural gitu, ah pengen jadi pacarnya Syifa deh" sahut Eko dengan wajah yang penuh harap.
Rizky merangkul tubuh Eko dengan kasar. "Lo ngaca! dia bidadari, sedangkan lo itu apa?” ucap Rizky penuh penekanan.
__ADS_1
"Ih parah ya, lo kalau ngomong nyakitin,” ucap Eko.
"Ekhm, ekhm, bidadari coy" sahut Ali diiringi tawa jahilnya.
"Akhirnya Rizky mengakui kecantikan Syifa” ucap Eko menambahkan.
"Apaan sih, udah ah ayo ke kamar gue” ucap Rizky salah tingkah.
"Ngapain ke kamar lo? nggak ah, gue takut nanti dua garis biru lagi” sahut Ali dengan tawa bahagianya.
"Nggak akan jadi dua garis biru lah, kan kita bertiga” timpal Eko dengan tawa yang tak kalah dari Ali.
"Haha, jadi tiga garis biru” sahut Ali dengan tawanya.
"Itu garis biru apa ban bajaj, kok tiga?" Eko tertawa terbahak-bahak.
Rizky menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua sahabatnya yang aneh. Entah kenapa dia bisa bersahabat dengan orang-orang seperti ini.
Drttttttt..
Ponsel Rizky berdering, di layar ponsel terlihat nama Salma, dengan segera Ken mengangkat telepon tersebut.
"Halo Sal, kenapa?"
"Ky, temenin gue ke toko buku yuk"
"Sorry, Sal, gue nggak bisa, gue ada acara soalnya" ucap Rizky berbohong.
"Acara apa? penting nggak?”
"Ya acara, penting banget, udah dulu ya Sal, Bye!" tanpa menunggu sahutan dari Salma, Rizky langsung memutuskan teleponnya.
"Rizky laku keras coy” goda Eko.
“Hahaha, kayak barang grosiran tanah abang,” tambah Ali.
“Emang di tanah abang banyak yang grosir ya?” tanya Eko
“Banyak, coba aja lo kesana”
“Waktu itu gue kesana ngga ada”
“Ada!”
“Ngga!”
__ADS_1
"Berisik lo, udah ayo ke kamar gue” ucap Rizky berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Ali dan Eko yang masih sibuk berdebat tentang tanah abang.