
Syifa menyoret beberapa tanggal yang sudah ia lewati. Tak terasa waktunya di SMA Trita Unasa tersisa satu bulan. Syifa menakupkan wajahnya di atas tempat tidur. “Satu bulan lagi..” ucap Syifa sendu.
“Setelah pertukaran pelajar kan lo akan balik lagi kesini, ketemu lagi sama Rizky” sahut Ersya.
“Apa gue masih akan ketemu Rizky dengan perasaan yang sama?” tanya Syifa.
“Banyak orang yang nyerah sama jarak, Sya” tambah Syifa.
“Iya sih ya. Aduh gue bingung, gue nggak ahli dalam percintaan” sahut Ersya yang merasa otaknya tidak bisa digunakan untuk berpikir.
Syifa menenggelamkan wajahnya tepat di atas kedua tangannya yang dilipat. Ia benar-benar tidak ingin berpisah dengan Rizky, tapi di satu sisi ia juga ingin mengikuti program pertukaran pelajar.
Ersya menepuk bahu Syifa. Membuat gadis itu mengangkat kepalanya, melihat Ersya. “Gue yakin, cinta Rizky ke lo bukan hanya sekedar cinta-cintaan anak sekolah. Rizky pasti akan nunggu dan nyambut kedatangan lo lagi dengan perasaan yang sama,” ucap Ersya menenangkan Syifa.
Kalimat yang penuh arti dan berguna bagi Syifa untuk menenangkan perasaannya. Syifa benar-benar merasa beruntung memiliki Ersya. Gadis itu selalu menenangkan Syifa dan mendukungnya.
“Udah ah sedih-sedih nya, gue mau hangout dulu sama Ali. Lo jangan sedih lagi ya” ucap Ersya seraya mengambil sling bag miliknya.
“Mau gue bawain apa?” tanya Ersya.
“Cukup lo pulang bawa cerita senang lo sama Ali aja itu udah cukup” jawab Syifa dengan senyum yang terpaksa ia lukis.
“Hahaha.. gue jalan dulu ya” Ersya berjalan keluar kamar, lalu menutupnya ketika sudah berada di luar.
Syifa menutup wajahnya dengan bantal guling yang berada tidak jauh darinya. Sejujurnya ia tidak ingin ditinggal sendiri saat ini, tapi apa boleh buat? Ia tidak bisa melarang Ersya untuk pergi dengan Ali.
°°°°°
Ali berdiri di samping motornya, bermain ponsel selagi menunggu Ersya keluar. Tak lama kemudian Ersya muncul.
"Ali," panggil Ersya.
Ali mengangkat kepala, menatap Ersya dari atas ke bawah. Ia dibuat terpukau dengan penampilan Ersya yang menurutnya berbeda saat sekolah.
"Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu? Nggak cocok ya bajunya? Atau dandannya terlalu menor?" tanya Ersya berbondong-bondong.
Kedua sudut bibir Ali mengembang sedikit. "Pacar gue cantik banget sih" ucapnya.
Ersya tersipu malu mendengarnya. Ersya berjalan lebih dekat ke arah Ali. "Ayo," ajak Ali.
"Kita mau kemana?" tanya Ersya yang masih belum mengetahui tempat tujuan yang akan ia datangi.
"Tempat yang cocok untuk orang pacaran" jawab Ali.
Mereka berdua pun segera memakai helm masing-masing dan naik ke motor. Bersiap untuk berangkat.
°°°°°
Ali dan Ersya telah sampai di parkiran mal. Ersya turun terlebih dulu dari motor Ali, melepaskan helm dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Ersya meremas jari-jarinya, ia bingung apa yang harus ia lakukan saat ini.
Ali melihat Ersya yang meremas jari-jarinya langsung memegang tangan Ersya tanpa ragu. "Jangan grogi gitu ah, gue udah jinak kok" ucap Ali mencairkan suasana.
Mata Ersya terbebelak ketika Ali memegang tangannya. Jantungnya berdegup cepat, napasnya terasa susah untuk diatur, seolah ia kehilangan oksigen di sekelilingnya.
__ADS_1
Tempat pertama yang dikunjungi oleh Ali dan Ersya tak lain dan tak bukan adalah bioskop.
Ersya merasakan jantungnya yang kembali berdegup cepat. Baginya, ini adalah pertama kalinya ia memasuki bioskop dengan seorang laki-laki, apalagi saat ini Ersya dan Ali berstatus pacaran.
"Mau nonton apa?" tanya Ali yang melihat beberapa judul dan jam tayang film.
"Bebas, gue ikut lo aja" jawab Ersya.
"Lo maunya apa? Horor? Romance? Komedi? Thriller? Action? Apa berita gosip?"
Ersya mengernyitkan keningnya.
Ali menutup wajahnya dengan telapak tangannya sendiri. "Eh salah, maaf, ingatnya di rumah, nggak ada berita gosip di bioskop" ucap Ali tertawa kecil.
"Horor aja deh" ucap Ersya menentukan pilihannya.
"Lo berani?" tanya Ali.
"Berani dong" jawab Ersya sombong.
Ali mendekatkan wajahnya dengan wajah Ersya, "Awas lo pas scene hantunya keluar, nanti lo meluk gue" goda Ali.
"Ihh, apaan sih" ucap Ersya malu - malu.
"Gue beli tiketnya dulu ya, lo tunggu di sini. Kalau di dekatin cowok lain, bilang udh sold out" ucap Ali yang masih diiringi tawa kecilnya.
"Udah sana" Ersya mendorong tubuh Ali pelan.
Menunggu Ali yang sedang memesan tiket, Ersya berinisiatif membeli makanan dan minuman untuk menjadi teman saat menonton di dalam. Ia membeli satu popcorn berukuran sedang dan dua cup minuman.
"Udah dong, mau masuk sekarang?"
"Boleh."
Ali dan Ersya berjalan ke kursi yang mereka pesan. Kursi tersebut tepatnya berada di pojok kiri, dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari layar.
"Harus banget ya di pojok?" tanya Ersya.
"Harus. Biar berasa kayak orang pacaran beneran" jawab Ali tersenyum.
Kurang lebih sepuluh menit Ali dan Ersya menunggu film yang mereka ingin tonton di mulai. Sepanjang melihat trailer film, Ersya hanya diam.
Sesekali Ali melirik Ersya. " Sya .." panggil Ali.
"Apa?"
"Kok lo diam aja sih?" tanya Ali berbisik.
Ersya melihat ke arah Ali dengan sorot mata yang tajam "Gue harus ngapain? Reriak - teriak? Nari perut ? Atau bikin tiktok?"
Ali menghela napasnya berat, " Oke, lebih baik lo diam aja" ucap Ali yang kembali melihat layar besar.
90 Menit berlalu ...
Lampu bioskop kembali menerangi seisi teater, bertanda film telah selesai. Orang - orang mulai keluar dari dalam teater. "Li, keluar yuk” ajak Ersya.
__ADS_1
"Sebentar, masih ramai tuh” Ali menunjuk orang-orang yang berada di pintu exit.
Ali melihat ke arah gadis yang berada di sebelahnya. Gadis itu nampak diam kembali setelah mengajak Ali meninggalkan teater, meremas jari-jarinya erat. Ali mengernyitkan keningnya, "Lo kenapa? Kesambet? atau Kerasukan?" tanya Ali.
Ersya menggigit bagian bibir bawahnya, mendekatkan wajahnya dengan telinga Ali, "Pengin pipis" bisik Ersya.
Ali menelan ludahnya kasar, melihat Ersya lekat, gadis itu terlihat sungguh sudah tidak tahan ingin ke toilet, " Ayo, kita keluar sekarang," Ali bangkit, menarik pergelangan tangan Ersya.
Sampai di depan pintu teater, Ersya melepaskan pegangan tangan Ali dan berlari menuju toilet.
Kedua sudut bibir Ali mengembang, ia melihat telapak tangannya yang tadi memegang tangan Ersya. Ia mendekatkan telapak tangannya ke hidungnya, menghirup aroma parfum yang menempel di sana. "Wangi banget" ucap Ali yang terbuai dengan aroma parfum Ersya.
Setelah hampir dua menit di dalam toilet, Ersya berjalan keluar dengan rambut yang terurai, serta senyum yang menghiasi bibir mungilnya, membuat Ali terpesona dengannya.
Ali tersadar dan menepuk pipinya pelan, " Sadar Li, sadar, jangan bucin."
"Udah? Nggak kebelet pipis lagi?" goda Ali setelah Ersya berada di hadapannya.
"Ihhh sebel! Udah ayo pulang” kesal Ersya memukul Ali pelan.
"Jangan pulang dong, gue masih mau berduaan sama lo" ucap Ali keceplosan.
Ersya mengernyitkan keningnya, melihat Ali dengan tajam
.
Ali menepuk bibirnya pelan, " Hmm, maksudnya jangan pulang dulu, kita main dulu, atau makan gitu" elak Ali.
"Lo tenang aja, makan, main, atau beli sesuatu, pokoknya semua disponsorin sama gue" Ali menunjukkan cengiran tak berdosa.
"Nggak ah Li, nggak enak, masa semuanya lo yang bayar, lo aja uang dari orang tua" ucap Ersya dengan raut wajah sungkan.
Ali mengambil dompet disakunya, membukanya, lalu mengeluarkan beberapa card dan menunjukkannya pada Ersya, "Santai aja, uang gue unlimited kok."
"Lebih baik kita pulang aja, uangnya lebih baik disimpan untuk keperluan lo" sahut Ersya lembut.
Reflex! Ali mengacak-acak pucuk rambut Ersya pelan, "Cewek idaman" ucap Ali diiringi senyumannya.
Mendengar ucapan Ali, kedua pipi bulat Ersya mulai terasa memanas, kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, namun senyum itu tertahan, saat Ali menatap wajah Ersya lekat "Yaudah, next time kita pergi lagi ya."
Ersya menganggukkan kepalanya pelan, seraya menahan senyum yang ia ingin lukiskan di wajahnya.
°°°°°
"Makasih ya Li," ucap Ersya memberikan helm yang tadi ia gunakan pada Ali.
Ali mengambil helm tersebut dan menaruhnya dibagian depan motornya, "Sama-sama Sya, jangan kapok pergi sama gue ya”.
"Udah sana pulang" usir Ersya.
"Iya, iya gue pulang, dadah Ersya" Ali melambaikan tangannya pelan dan menutup kaca helmnya.
Ersya segera masuk ke dalam asrama, tubuhnya sedikit bergidik merinding saat melihat lorong asrama yang sepi dan gelap, namun rasa takut itu seketika menghilang saat ia mengingat kembali perlakuan Ali padanya. Gemas , lucu dan berkesan.
Ersya membuka pintu kamar asrama pelan, melihat teman satu kamarnya tertidur pulas. Ia menarik napasnya perlahan, "Baru gue mau cerita, eh, lo udah tidur" ucap Ersya sendiri.
__ADS_1
Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, bibirnya melukis sebuah senyuman yang sangat manis. "Kok gue jadi baper ya?".