Perfect

Perfect
Bab 42


__ADS_3

Mendekati ujian kenaikan kelas membuat para murid harus belajar lebih extra, bahkan di jam kosong pun. Salma memberanikan diri untuk mendekati Rizky yang tengah sibuk mengerjakan soal matematika.


"Rizky," panggil Salma.


Rizky menoleh seraya menaikkan alisnya.


Salma duduk di kursi kosong yang berada di depan Rizky dan memutar posisi duduknya ke arah Rizky.


"Boleh minta ajarin yang soal nomor dua belas ngga, Ky?" tanya Salma ragu-ragu ketika melihat raut wajah Rizky yang datar.


Rizky memutar bukunya ke arah Salma, menunjukkan hasil coret-coretan matematika yang telah ia telah ia hitung.


Rizky menjelaskan rumus yang jauh lebih mudah dari yang diajarkan oleh Pak Ubin, sehingga membuat Salma jadi lebih mudah untuk memahami.


Eko dan Ali yang duduk di seberang nampak aneh saat melihat Rizky yang begitu dekat dengan Salma, mereka memang teman sekelas, harusnya tidak aneh jika mereka berdua dekat, tapi mengingat perlakuan Rizky yang sering berusaha menjauh dari Salma, membuat ini semua sangat aneh.


"Lo ngerasa ngga sih kalau Rizky sama Salma itu akhir-akhir ini dekat?" tanya Ali pada Eko yang ikut memperhatikan Rizky dan Salma seraya memutar-mutarkan bolpoinnya.


"Apa jangan-jangan karena Syifa dekat sama Kai di Korea?" tanya Eko balik.


"Masa sih? Rizky ngelakuin hal yang sama gitu kayak Syifa? Sedangkan belum tentu juga kalau Syifa itu dekat sama teman SMP lo itu si Kaisar," ucap Ali.


Salma terus memperhatikan Rizky, pria itu sangat mempesona, apalagi saat serius seperti ini. Rizky tersadar kalau sedari tadi Salma tidak menyimak apa yang sudah ia jelaskan.


"Mau sampai kapan ngelihatin gue terus?" tanya Rizky.


Salma tersadar, ia segera mengalihkan pandangannya.


"Udah paham belum?" tanya Rizky.


Salma menyeringai seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Belum," jawabnya.


Rizky mengusap wajahnya, ternyata dari tadi ia menjelaskan panjang lebar sama sekali tidak bermanfaat.


"Boleh ulang sekali lagi ngga? Janji deh gue akan fokus," ucap Salma seraya memasang wajah memelas.

__ADS_1


Rizky menghela napasnya, lalu mengangkat kedua sudut bibirnya sedikit. "Oke, gue jelasin sekali lagi, lo harus fokus."


"Siap!" ucap Salma dengan gaya memberikan hormat pada Rizky.


Rizky kembali menjelaskan rumus untuk mengerjakan soal matematika nomor dua belas dan kali ini Salma serius memperhatikan apa yang dijelaskan oleh Rizky.


"Gue udah paham," ucap Salma senang.


Rizky tersenyum, seraya menepuk pipi Salma pelan. "Bagus! Sebagai imbalannya nanti pulang sekolah lo harus beliin gue Boba," ucap Rizky.


Kedua mata Salma membulat saat pipinya ditepuk oleh Rizky. Pipi yang ditepuk kenapa jantungnya yang berdegup tidak beraturan?


"Kok pamrih sih?" tanya Salma.


"Jadi mau lo yang beliin gue boba atau gue yang beliin lo boba nih?" tanya Rizky seraya menaikkan satu alisnya.


"Gue yang beliin lo boba," jawab Salma.


"Oke," jawab Rizky tersenyum.


*****


Setelah bel pulang berbunyi, Rizky dan Salma bergegas pulang bersama. "Gue balik duluan ya," ucap Rizky pada Eko dan Ali yang makin terlihat bingung dengan kedekatannya dengan Salma.


"Jam 7 malam gue tunggu di cafe bestie ya, Ky," ucap Ali seraya mengingatkan kalau nanti malam mereka akan berkumpul.


Rizky hanya mengacungkan ibu jarinya, lalu pergi menyusul Salma yang sudah pergi meninggalkan kelas lebih dulu.


Rizky memberikan helm pada Salma saat mereka sudah tiba di parkiran. Salma pun memakai helm tersebut. Mereka segera meninggalkan area sekolah.


*****


Salma duduk sembari menunggu Rizky yang sedang memesan minuman Boba. Salma menoleh saat mendengar bahwa para gadis yang duduk tidak jauh darinya sedang membicarakan Rizky.


"Ya ampun itu cowok ganteng banget," ucap salah satu gadis.

__ADS_1


"Tinggi, ganteng, Ida banget," sahut gadis lain.


Tak berselang lama, Rizky pun menghampiri Salma sembari membawa dua minuman Boba.


"Nih," Rizky memberikan minuman Boba tersebut pada Salma. Gadis itu pun mengambil, lalu meminumnya. "Makasih, Ky" ucapnya.


"Sama-sama, Sal," sahut Rizky tersenyum.


"Ky, lo dari tadi jadi pembicaraan cewek-cewek yang duduk di kanan loh," ucap Salma.


"Ohiya?" Rizky ingin menoleh ke kanan, tapi dengan cepat Salma memegang wajah Rizky seraya mencegahnya.


"Jangan nengok," ucap Salma.


"Pasti Syifa senang banget punya pacar kayak lo, Ky," tambah Salma.


Kedua sudut bibir Rizky mengembang. "Gue juga senang banget punya Syifa," sahutnya.


Salma mengangguk mengerti. Ia paham kalau diantara Rizky dan Syifa, keduanya sama-sama beruntung, karena dapat merasakan rasanya dicintai dan mencintai.


"Oh iya, nih gue bayar boba, hari ini kan gue yang beliin boba karena lo udah jelasin Matematika tadi," ucap Salma seraya memberikan uang seratus ribu rupiah pada Rizky.


Rizky menolah uang pemberian Salma. Ia melihat Salma lekat. "Lo ngga usah bayar pakai uang," Rizky.


"Terus bayar pakai apa?" tanya Salma bingung.


Rizky memperhatikan wajah Salma seraya menarik napasnya dalam. "Lo cukup tanamin dalam hati lo kalau masih ada laki-laki yang baik, masih ada laki-laki yang menyayangi pasangannya, menjaga pasangannya dan ngga semua laki-laki itu sama seperti Papa lo," ucap Rizky.


Salma terdiam. Rizky seolah tahu kalau ia sudah menanamkan dihatinya kalau tidak ada lagi laki-laki yang baik, tidak ada lagi laki-laki yang bisa ia percaya.


"Ky," ucap Salma.


"Masih ada laki-laki yang baik, Sal," ucap Rizky.


Salma pernah berpikir kalau Rizky sama seperti Papanya, karena Rizky sering kali memberi perlakuan kurang mengenakan pada Salma, tapi ia sadar kalau Rizky melakukan itu karena bentuk rasa sayangnya pada Syifa dan tidak ingin membuat dirinya semakin mengharapkan Rizky lebih dari seorang teman.

__ADS_1


"Ya walaupun laki-laki baik itu bukan gue, tapi lo harus percaya kalau masih banyak laki-laki yang baik," tambah Rizky.


__ADS_2