
Ucapan Kiara tadi siang masih terngiang-ngiang di kepalanya.
"Buset dah tu cewek. Gimana tu cewek bisa bersikap seperti itu. Cewek-cewek lain berebut buat ada di samping gua tapi dia gua ajak ngomong juga ogah. Tu cewek judesnya kebangetan ya. Mana mau gua ama dia. Cuek judes jutek galak. Tapi tadi pagi gua liat tu cewek nangis. Ada apa ya?" Ray bergumam sendiri di dalam kamarnya yang tenang,nyaman,dan rapi tentunya.
"Ooooo gua tauuuu. Dia pasti lagi badmood ya kan. Atau mungkin singanya lagi bertamu? Eh coba aja besok gua mau ngomong ama tuh cewek. Gua pingin banget liat lesung pipit yang bisa bikin gua bahagia. Besok gua bawain bekal juga kali ya. Biar tambah akrab gitu." Ray menyusun rencananya besok untuk mencoba mendekati cewek berwajah manis tapi judes dan garangnya minta ampun.
Di kamar Kiara masih memikirkan Ray yang selalu mengusik ketenangannya. Dia tau cowok itu tampan. Bahkan baru sehari dia di sekolahnya sudah menjadi trending topik yang di bicarakan oleh semua murid,para gadis tentunya.
"Kenapa tu anak baik banget ke gua. Gua di ajak ngobrol mulu. Kagak capek apa ngobrol terus ga ada hentinya. Tapi gua suka liat tu cowok tersenyum." Kiara mengenang senyum Ray dan senyum tulus terukir di wajahnya. Setelah sekian lama hatinya merasakan kehangatan itu lagi. Tidak mungkin dia suka Ray bukan?. Begitu pikirnya. Gadis itu berkutat dengan perasaannya akan Ray. Dia masih belum bisa mempercayai orang lain. Masih belum bisa membuka hatinya untuk orang lain. Dia belum siap untuk kehilangan lagi.
Keesokan harinya di sekolah
"Hai. Gua mau ngomong sama lo" Ucap Ray tanpa basa basi
"Lo bicara ama gue?" tanya gadis itu dengan polosnya
__ADS_1
"Ya iya lah gua ngomong sama elu masak sama tembok" Ray kesal sekali dengan Kiara. Terlihat di wajahnya yang tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Kiara hanya tersenyum. Senyuman tulusnya itu membuat Ray terdiam melihat lesung pipit dikedua pipi Kiara menambah pesona Kiara. Tanpa sadar Ray menelan salivanya dan berharap hanya akan ada satu Kiara didunia ini.
"Iya deh iya lo mau ngomong apa?" suara Kiara membuyarkan lamunan Ray. Auto dong Ray salah tingkah. Wajahnya memerah malu
"Lo sakit Ray? pipi lo merah tuh"
sambung Kiara lagi
"Gu, gua gua" sial kenapa gua yang gugup sih sampek gagap pula batin Ray
"Ra gua pingin jadi temen lo" kata-kata itu meluncur cepat dari mulutnya. Dan sekarang jantungnya berdegup kencang seperti orang habis lari maraton.
"Ra jawab gua dong, mau gak?" tangan Ray menggapai tangan Kiara . Dingin gumamnya
Kiara tak segera menjawab jantungnya berdegup kencang kencang. Dia tidak pernah di perlakukan seperti ini sebelumnya. Dia pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Senyum yang sudah lama hilang itu telah kembali. Senyum tulus dan sayang. Gadis itu mengagguk seketika Ray terkejut dan bertanya lagi
__ADS_1
"Lo lo bener-bener mau jadi temen gua?" Ray bahagia
"Iya Ray gua mau, lo kok bisa sesenang itu sih?"
Lalu Ray memeluk Kiara. Maaf Ra gua reflek gumamnya. Kiara terkejut dan tanpa ia sadari air matanya menetes dia sudah lama tidak merasakannya.
"Gua kagak pernah ngajakin cewek temenan duluan dan ini for the first time i need a woman to be my friend" Ucap Ray masih memeluk Kiara
"Pleas be my friend forever" gumam Ray
Kiara senang dan melepas pelukannya dengan Ray
Lalu seperti rencananya kemarin Ray memasak makanan untuk Kiara.
Sandwich racikan turun temurun dari keluarga Ray. Kiara sangat senang dan memakan Sandwich itu sampai habis. Mereka bergurau sampai tertawa lepas. Dan untuk sekian lama Kiara kembali bisa tertawa lepas.
__ADS_1