Perfect

Perfect
Bab 22


__ADS_3

Minggu. Hari ini, Rizky berencana mengajak Syifa untuk bertemu dengan papanya dan tante Sinta. Mungkin bisa dibilang adalah pengenalan calon menantu ke mertua. Upss!


Syifa melirik jam tangannya, menunjukkan pukul sebelas siang. Ia sudah rapi dengan dress berwarna baby blue, yang membuat penampilannya nampak manis.


“Rizky lama banget sih,” ucap Syifa yang menunggu Rizky di depan gerbang asrama.


Tak lama kemudian, sebuah mobil Honda CR-V berwarna putih berhenti di depan Syifa.


Rizky segera turun dari mobil, berjalan menghampiri Syifa.


Syifa mengerutkan keningnya. Syifa cukup terkejut melihat Rizky yang datang tidak dengan motor kesayangannya.


Rizky tersenyum manis saat melihat gadis itu. Ia menatapnya begitu dalam dan hangat. “Ayo,” ajak Rizky.


“Kita mau kemana?” tanya Syifa.


“Ke rumah papa” jawab Rizky.


Kedua mata Syifa membulat. Kakinya seolah tidak ingin melangkah. “Hah? Ke rumah papa?” tanya Syifa memastikan.


“Iya. Masih kurang jelas?” tanya Rizky balik.


“Harus banget hari ini? Nggak bisa lain waktu aja?”


“Nggak.”


“Ky, gue udah cantik kan?”


“Udah,” jawab Rizky singkat dan jelas.


Syifa mendengus sebal. “Ih, serius Ky, gue beneran udah cantik?” tanya Syifa lagi.


“Cantik,”


“Cantik banget,” tambah Rizky.


“Beneran? Nggak bohong?”


Rizky tersenyum, perlahan tangannya merapikan beberapa helai rambut Syifa yang sedikit berantakan. “Lo udah cantik, Syifa” ucap Rizky.


Syifa merasakan degupan jantungnya yang bergerak sangat cepat. Syifa benar-benar tidak tenang. Kalau ia tau hari ini akan bertemu dengan orang tua Rizky, pasti akan berdandan lebih rapi lagi.


“Tenang aja, jangan panik. Lo cuma mau ketemu bokap sama tante Sinta doang, bukan ketemu Pak Presiden.”


“Udah ayo. Masuk,” Rizky membukakan pintu mobil untuk Syifa.


Syifa tersenyum puas. “Makasih,” ucap Syifa sambil masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil, Syifa tidak henti-hentinya untuk merapikan riasan wajah dan tatanan rambutnya, entah sudah berapa kali ia bolak-balik membuka kaca.


Sesekali Rizky melirik ke arah Syifa. Kedua sudut bibirnya mengembang sedikit. “Udah cantik, Syif” ucapnya.


“Beneran?”

__ADS_1


“Iya.”


“Santai aja, Syif.”


“Nggak bisa santai,Ky. Gue takut nanti papa sama mama lo nggak suka sama gue.”


Rizky memberhentikan mobilnya, lalu menatap Syifa dengan lekat. “Tante Sinta bukan mama gue,” ucap Rizky.


“Ky, gue boleh minta sesuatu ke lo?”


“Apa?”


“Jangan panggil Tante Sinta dengan sebutan tante lagi, panggil dia mama. Bisa?”


Rizky diam, tak menjawab.


“Ky, gue cuma minta itu aja dari lo. Mulai sekarang panggil Tante Sinta dengan sebutan mama ya,” pinta Syifa.


“Lo nggak ada permintaan yang lain? Bunga? Coklat? Boneka? atau apa gitu?” tanya Rizky.


“Nggak ada. Permintaan gue udah bulat. Dan, gue cuma mau, lo panggil Tante Sinta dengan sebutan mama,” tegas Syifa.


Rizky menarik napasnya panjang, lalu menganggukan kepalanya.


Syifa tersenyum puas, Rizky mengiakan permintaannya. Walaupun sebenarnya Syifa tidak ingin ikut campur dalam permasalahan keluarga Rizky.


Rizky tersenyum simpul. Rizky meraih tangan kanan Syifa, dan menggenggamnya erat. “Gue akan ngelakuin itu. Demi lo.”


Syifa mengeratkan genggaman Rizky, menganggukkan kepalanya pelan. “Makasih, Ky. Gue senang banget lo nurutin permintaan gue.”


°°°°°


Langkah Syifa terasa sangat berat, rasanya begitu susah untuk masuk ke dalam rumah papa Rizky. Jantungnya berdegup sepuluh kali lebih cepat dari biasanya ketika ia bertemu dengan Rizky.


“Ayo masuk, “ ajak Rizky.


“Gue takut.”


Rizky kembali meraih tangan Syifa, dan menggenggamnya erat. “Jangan takut, Syif, ada gue,” ucap Rizky menenangkan.


Syifa memberanikan diri untuk masuk dan bertemu dengan orang tua Rizky. Ia meyakinkan dirinya, bahwa keluarga Rizky akan menyukainya.


Syifa dan Rizky berjalan masuk ke dalam rumah. Kedua matanya fokus melihat dua orang tengah berada di ruang makan.


Syifa berinisiatif untuk menyalami papa dan mama Rizky dengan sopan.


“Ini Syifa, pa. Pacar Rizky,” ucap Rizky.


“Jadi ini yang namanya Syifa,” sapa Pak Surya hangat.


Syifa melihat papa Rizky yang tersenyum ramah ke arahnya. Syifa pun segera membalas senyuman itu.


“Cantik. Rizky pintar cari pacarnya” ucap Tante Sinta yang ikut bersuara.

__ADS_1


“B aja,” sahut Rizky datar.


Syifa menyenggol bahu Rizky pelan, membuat pria itu melihat ke arahnya. “Jangan kayak gitu. Harus sopan,” bisik Syifa.


“Kenalin, ini papa gue,” ucap Rizky memperkenalkan ke Syifa.


“Ini, mama gue,” lanjut Rizky.


Ucapan Rizky membuat pak Surya dan tante Sinta menatap Rizky tak percaya. Sebelumya, Rizky tidak pernah memanggil Tante Sinta dengan sebutan mama. Jangankan memanggil mama, bersikap baik saja tidak.


Kedua sudut bibir Tante Sinta mengembang sedikit. Sorot matanya terlihat berkaca-kaca, ia sepertinya sangat terharu dengan ucapan Rizky yang memanggilnya mama.


“Udah ah kenal-kenalannya. Sekarang kita makan aja,” ucap Pak Surya mencairkan suasana.


Syifa dan Rizky segera mengambil kursi mereka dan duduk. Mereka semua segera menyantap makanan yang telah dihidangkan dia atas meja.


“Syifa satu kelas sama Rizky?” tanya Tante Sinta sembari menyantap makanan.


“Nggak Tante, Syifa di kelas sebelah,” jawab Syifa.


“Syifa, ceritain dong ke Om, kok kamu bisa sih bikin Rizky jatuh cinta sama kamu? Rahasianya apa?” tanya Pak Surya. Untuk membuat suasana semakin hangat dan akrab.


“Ah nggak, Om. Sebenarnya yang jatuh cinta duluan itu Syifa, Om,” jelas Syifa sedikit tertawa.


“Rizky..,” panggil Tante Sinta.


“Iya, Ma,” sahut Rizky sembari melihat ke arah Tante Sinta.


“Gimana makanannya, enak?” tanya Tante Sinta dengan lembut.


“Enak, Ma. Rizky suka” jawab Rizky.


“Tambah lagi ya, sayang,” Tante Sinta mengambilkan beberapa potong daging, lalu menaruhnya di piring Rizky.


“Makasih, ma,” ucap Rizky seraya tersenyum kecil.


Syifa melirik ke arah Rizky sembari tersenyum. Pria itu benar-benar menuruti kemauannya. Walaupun ini hal kecil, namun untuk Tante Sinta, ini sangat berpengaruh besar.


Syifa menoleh ke arah Tante Sinta, senyumnya terus terlukis. Ia bisa merasakan betapa senangnya Tante Sinta saat dipanggil mama oleh Rizky.


°°°°°


Setelah selesai makan bersama, Tante Sinta mengajak Syifa untuk mengobrol berdua di taman belakang rumah.


“Makasih ya, Syif,” ucap Tante Sinta seraya memegang kedua tangan Syifa.


“Untuk apa, Tante?” tanya Syifa.


“Dari dulu, Tante pengin banget dipanggil mama sama Rizky. Tapi, Rizky selalu nganggap Tante itu nggak ada,” ucap Tante Sinta.


“Dan hari ini, kamu udah memberikan sosok Rizky yang sudah Tante tunggu selama ini,” jelas Tante Sinta.


“Makasih, Syifa.” Tante Sinta memeluk tubuh Syifa dengan erat.

__ADS_1


Kedua sudut bibir Syifa mengembang, perlahan tangannya membalas pelukan hangat Tante Sinta. “Sama-sama, Tante.”


__ADS_2