
Seoul, Korea Selatan.
Kai menunggu Syifa di depan ruang kelasnya. Sejak bel pulang berbunyi, Kai langsung keluar kelas dan menunggu di depan ruang kelas Syifa seraya memperhatikan gadis yang tengah melakukan piket dari balik jendela.
Syifa seraya mengambil tasnya dan keluar kelas setelah selesai melakukan piket, namun ia dikejutkan dengan kehadiran Kai.
"Annyeong!" sapa Kai.
"Kamjagiya!" Syifa reflek memukul Kai karena membuatnya terkejut.
Alih-alih marah karena dipukul, Kai justru tertawa. "Bagaimana hari ini?" tanya Kai seraya menaikkan kedua alisnya.
Syifa menghela berat, ia menunjukkan raut wajah lelahnya pada Kai. "Bappeuseyo? (Apa kamu sibuk?)"
"Anieyo. Wae? (Tidak. Kenapa?)"
Syifa tidak menjawab apapun, ia hanya melihat Kai lekat.
Kai tersenyum, ia mengerti, pasti Syifa ingin mengajaknya pergi untuk menghilangkan rasa lelah gadis itu.
"Kita mau kemana sekarang?" tanya Kai seraya mendekatkan wajahnya di depan wajah Syifa.
"Tempat kemarin," jawab Syifa seraya mendorong wajah Kai menjauh.
Kai langsung menggandeng tangan Syifa. Kali ini mereka ke restaurant cepat saji tidak menggunakan sepeda, melainkan bus.
"Kalau di Jakarta, saat gue lagi lelah ataupun ada pikiran yang mengganggu, gue selalu naik busway sambil dengerin lagu, gue berdiri sambil ngelihatin kendaraan dan gedung-gedung di Jakarta, itu bisa bikin gue tenang, setidaknya gue bisa lupain sedikit masalah gue," cerita Kai pada Syifa saat menunggu bus datang.
"Se-sederhana itu?" tanya Syifa.
Kai mengangguk. "Itu hal sederhana yang bikin gue sadar, kalau yang hidup di bumi bukan cuma gue, yang punya permasalahan hidup juga bukan cuma gue. Saat lo naik kendaraan umum, lo akan lihat karakter masing-masing orang di sekeliling lo, ada yang cuek, peduli sama sekitar, bahkan yang emosian. Beda rasanya saat lo keliling Jakarta naik motor ataupun mobil pribadi," jelas Kai.
Bus pun tiba, Kai dan Syifa bergegas untuk naik bus. Kebetulan hari ini bus tidak ramai, jadi Kai dan Syifa bisa duduk.
Syifa memperhatikan wajah Kai, pria itu sepertinya menyimpan sesuatu yang ingin ia ceritakan, namun sepertinya sangat berat.
Syifa memasangkan earphone ke salah satu telinga Kai, membuat Kai mematung sejenak. Syifa memutarkan lagu 'Dust in the wind'.
__ADS_1
Kai menoleh, melihat Syifa yang tersenyum ke arahnya. Syifa mencoba untuk memancing agar Kai bisa bercerita. "Hari ini gimana? Atau ada yang pengen lo ceritain?" tanya Syifa.
Kai terdiam, ia menatap Syifa lekat, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela bus.
*****
Mereka sudah sampai di depan restaurant cepat saji, Syifa menunggu Kai yang tengah masuk membeli makanan.
"Kayak ada sesuatu sama Kai? Apa gue tanyain aja ya sama Kai? Tapi kira-kira sopan nggak ya kalau gue tanya?" ucapnya sendiri.
"Lo ngomong sendiri?" tanya Kai yang tiba-tiba datang.
"Ishh! Bikin kaget terus!" decak Syifa.
Kai terkekeh, ia memberikan Syifa burger, "Kali ini gue pesan burgernya, tanpa acar, gue juga pesan yang sama kayak lo," ucapnya.
"Makasih, Kai."
Kai tersenyum.
"Apa? Tanya aja, selagi gue bisa jawab, kalau gue nggak bisa jawab nanti gue minta bantuan google," jawab Kai.
Syifa mengulum bibirnya seraya memikirkan apa sebaiknya tidak usah bertanya saja, ia takut jika Kai merasa tidak nyaman.
"Kok bengong? Lo mau tanya apa tadi?" tanya Kai seraya menyantap burger miliknya.
"Maaf kalau gue nggak sopan dan bikin lo nggak nyaman, tapi sejak lo cerita cara lo untuk tenangin diri lo, lo jadi kayak ada sesuatu yang dipikirkin," ucap Syifa.
"Apa ada sesuatu? Lo bisa kok cerita ke gue supaya beban lo sedikit berkurang," tambah Syifa.
Kai menghentikan makannya. Ia menarik napasnya panjang lalu membuang perlahan.
"Kalau gue cerita apa mungkin lo nggak akan nyalahin gue?" tanya Kai.
"Maksudnya?" Syifa tidak mengerti dengan ucapan Kai, memangnya Kai akan cerita apa? Sampai Kai berpikiran kalau ia akan menyalahkan Kai?
Syifa memegang tangan Kai, menyakinkan Kai kalau ia bisa menjadi pendengar yang baik.
__ADS_1
"Dua tahun yang lalu, adik gue diperkosa dan dibunuh sama ayah tiri gue. Gue nggak sempat nolongin dia, karena posisi gue saat itu nggak ada dirumah. Saat dia telpon dan minta tolong, gue langsung pulang, tapi gue kecelakaan, itu yang bikin gue nggak bisa pulang tepat waktu. Saat gue sampai rumah, adik gue udah dalam keadaan tanpa busana dan meninggal dunia. Saat itu dunia gue seolah berhenti, andai saat itu gue nggak keluar rumah, pasti adik gue masih ada sampai saat ini, masih bisa berantem sama gue, masih bisa rebutan makanan. Semua orang nyalahin gue karena gue nggak bisa jaga adik gue, termasuk mama gue." Terlihat jelas kedua mata Kai berkaca-kaca saat bercerita.
Syifa terdiam, ia tidak tahu kalau permasalahan Kai sedalam ini, karena selama bersama Kai, pria itu selalu ceria bahkan selalu membuat Syifa tertawa.
"Kai maaf, gue nggak bermaksud untuk.." belum selesai Syifa berbicara, Kai tersenyum ke arahnya seraya menyeka air matanya yang terjatuh.
"Maaf ya kalau gue cengeng," ucap Kai dengan air mata yang berusaha ia hapus namun terus berjatuhan.
Syifa memegang wajah Kai, menghapus air mata Kai. "Itu bukan salah lo, lo udah berusaha nolong adik lo, lo juga harus bisa maafin diri lo sendiri," ucap Syifa menenangkan pria itu.
Kai berusaha untuk tersenyum, "Makasih Syif, karena lo udah jadi satu-satunya orang yang nggak nyalahin gue dalam kejadian itu," ucapnya.
"Lo harus bisa berdamai sama diri lo sendiri, lo nggak boleh nyalahin diri lo lagi," ucap Syifa.
Kai mengangguk, ia menyeka sisa air matanya yang membasahi wajahnya.
"Kayaknya kalau kita udah balik ke Indonesia, kita harus keliling Jakarta naik busway deh," ucap Kai mencairkan suasana.
Syifa terdiam, ia tidak mungkin pergi berdua dengan Kai di Jakarta? Bagaimana jika Rizky tahu? Syifa tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Rizky jika ia pergi berdua dengan Kai.
Kai terkekeh seraya mencolek hidung Syifa. "Kenapa lo diam aja? Lo di Jakarta punya pacar ya? Takut ketahuan pacar lo ya?" goda Kai.
Syifa menepis tangan Kai kasar, lalu menantang Kai balik. "Kalau gue punya pacar kenapa?"
"Berarti gue nggak boleh baper sama lo," jawab Kai.
Syifa menyipitkan matanya, "Yaps, lo nggak boleh baper sama gue," ucap Syifa dengan penekanan.
"Lo beneran punya pacar?" tanya Kai serius.
Syifa mengangguk.
"Gue beneran nggak boleh baper dong?" tanya Kai lagi.
Syifa menggeleng. "Lo nggak boleh baper! Pokoknya nggak boleh!"
Kai mendekatkan wajahnya dengan wajah Syifa, membuat Syifa dapat merasakan wangi parfum Kai. Kalau lo yang baper gimana?" goda Kai.
__ADS_1