
Bel pulang sekolah berbunyi, seluruh siswa berhamburan meninggalkan ruang kelas, begitu juga Syifa. Tanpa basa-basi dengan Ersya, ia langsung keluar kelas menuju parkiran.
"Syifa.., " panggil seseorang yang menghentikan langkahnya.
"Eh, Adam, kenapa?” tanya Syifa ketika melihat orang tersebut.
"Ikut gue ke toko buku yuk, Syif" ajak Adam.
"Hmm, gimana ya, Dam, bukannya gue nggak mau, tapi.. " ucap Syifa menggantung.
"Nggak bisa, Syifa mau pergi sama gue" ucap Rizky yang tiba-tiba berada di belakang Adam.
Lagi-lagi Rizky muncul secara tiba-tiba, kedatangannya tidak bisa ditebak seperti Jailangkung.
Adam mengernyitkan keningnya. "Kalian mau pergi berdua?" tanyanya.
"Iya. Kenapa? lo mau ikut?" tanya Rizky datar.
"Jangan deh, gue mau berduaan aja, nanti lo ganggu lagi" tambah Rizky seraya tersenyum sinis pada Adam.
"Dam, gue duluan ya, Bye." Rizky menarik pergelangan tangan Rizky untuk pergi meninggalkan Adam, ia takut Rizky semakin bicara yang tidak karuan.
"Ky, kita mau kemana sih?” tanya Syifa penasaran.
"Udah lo ngga usah bawel, ikut aja” jawab Rizky seraya memakaikan helm ke kepala Syifa.
Senyum Syifa mengembang dengan sangat lebar, ingin sekali rasanya ia berteriak sekeras-kerasnya karena rasa bahagianya itu. Ia tidak pernah membayangkan bisa se-dekat saat ini dengan Rizky.
°°°°°
Syifa dan Rizky sampai di depan sebuah rumah mewah. "Turun,” Rizky memberhentikan motornya .
"Hah?"
“Turun, kita udah sampai."
Syifa segera turun dan mencopot helm nya. "Ini rumah siapa?” tanyanya bingung. Ia melihat sekeliling rumah itu. Rumah mewah yang nampak tidak berpenghuni.
“Rumah gue," jawab Rizky santai seraya turun dari motornya dan mengambil helm yang dipegang Syifa.
__ADS_1
"Ayo masuk" timpal Rizky menarik pergelangan tangan Syifa.
Langkah kaki Syifa terhenti di depan pintu besar berwarna putih. “Di rumah lo ada siapa?" tanya Syifa dengan wajah yang mulai tegang.
"Nggak ada siapa-siapa” jawab Rizky datar, seolah tak berdosa.
"Udah masuk aja" Rizky mendorong Syifa pelan untuk masuk ke dalam rumahnya.
Jantung Syifa berdegup sangat cepat, wajahnya menjadi pucat, mulai mengalir keringat dingin diseluruh tubuhnya. Lagi - lagi Syifa berhenti, ia merasa takut, perasaannya menjadi tidak tenang.
"Kok berhenti? ayo naik ke atas" Ajak Rizky.
"Lo ngga ada niat sesuatu kan, Ky?” tanya Syifa.
Pertanyaan Syifa membuat Rizky terkekeh. "Ya ampun Syif, gue ngga sebrengsek itu," jawab Rizky.
Syifa merasa malu atas pertanyaan tadi. "Hehe maaf Ky, gue takut lo khilaf" Sahutnya seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Rizky menggelengkan kepalanya, lalu kembali mengajak Syifa. “Udah ayo naik.”
Rizky dan Syifa mulai menaiki anak tangga. Sesampainya di rooftop , Syifa dibuat takjub dengan pemandangan yang terlihat dari atas, begitu indah untuk dipandang.
"Bagus banget" ucap Syifa kagum melihat pemandangan dari rooftop Rizky.
“Makasih Ky.”
“Oh iya Ky, gue boleh tanya sesuatu ngga?”
"Apa?" Rizky menoleh ke arah gadis yang berada di sampingnya.
"Gue perhatiin rumah lo sepi banget, orang tua lo, kerja? adik lo ? kakak lo?” tanya Syifa berbondong – bondong.
Rizky menarik napasnya panjang, kemudian tersenyum kecil. "Gue tinggal sendiri, gue anak satu-satunya, ama gue udah meninggal, apa gue pergi ninggalin gue sama mama waktu gue SMP, karena kepergian papa sama wanita lain, membuat ama gue jadi stress dan sakit-sakitan, sampai akhirnya mama gue meninggal, sejak saat itu gue nggak mau ketemu papa gue lagi, gue jadi benci sama dia, bahkan gue nolak saat dia ngajak gue tinggal bareng sama istri barunya, lebih baik gue tinggal sendiri disini, gue ngga mau ninggalin rumah ini, begitu banyak kenangan gue sama mama disini, banyak perjuangan yang mama lakuin buat gue disini," ucap Rizky dengan gumpalan air mata yang terlihat jelas di ujung kedua matanya.
"Mama lo pasti bangga punya lo, Ky. Lo anak yang kuat, tapi, lo juga ngga boleh jadi benci sama papa lo," ucap Syifa berusaha menenangkan hati dan pikiran Rizky.
Rizky tersenyum seraya menghapus kesedihannya. “Lo juga harus bangga, karena lo cewek pertama yang gue ajak kesini” ucap Rizky.
"Hah? serius? wah gue merasa bangga banget" sahut Syifa sedikit tertawa.
__ADS_1
Angin berhembus mengenai wajah Syifa, membuat beberapa helai rambutnya sedikit berantakan.
Rizky tersenyum, lalu merapikan helaian rambut Syifa yang sedikit berantakan. "Cantik,” gumam Rizky dalam hati.
Syifa merasakan jantungnya berdegup kencang setelah melihat Rizky dari jarak yang sangat dekat. Tubuhnya menegang seketika. Rizky benar-benar terlihat sempurna.
"Baru kali ini gue merasa benar-benar jatuh cinta sama seseorang" ucap Syifa.
Rizky dibuat mematung sejenak. Kemudian ia menyandarkan kepalanya di pundak Syifa, ia menggenggam tangan kiri gadis itu dengan erat. "Gue pinjam pundak lo sebentar ya, gue udah lama ngga ngerasain kayak gini sama mama gue, Syif.”
Tangan kanan Syifa mengelus pucuk kepala Rizky dengan lembut, sentuhan itu membuat Rizky terbuai dan memejamkan matanya.
Matahari seolah bergeser dengan cepat. Sinarnya kini mulai meredup, senja pun mulai menunjukkan keindahannya.
Rizky membuka matanya perlahan, ia melihat Syifa yang tertidur di sebelahnya. "Syif, bangun” Rizky menepuk pipi halus Syifa pelan.
Syifa terbangun, melihat langit sudah mulai gelap, ia segera beranjak dari duduknya. "Ya ampun udah sore, gue pulang ke asrama dulu ya, Ky."
"Gue antar."
Rizky dan Syifa keluar dari rumah, Rizky segera menyalakan mesin motornya, ia kembali memakaikan helm ke kepala Syifa. “Biar aman" ucapnya dengan senyum yang muncul dari bibir tipisnya.
Sepanjang perjalanan Syifa memegang tubuh Rizky dengan erat, karena pria itu menaiki motor tersebut dengan kecepatan di atas normal.
"Ky, pelan - pelan naik motornya.”
"Pegangan," ucap Rizky seraya menarik tangan Syifa untuk memegang bagian pinggangnya.
Rizky tersenyum melihat wajah gadis itu dari spion motornya, gadis itu nampak takut, entah mengapa hati dan pikirannya menjadi berubah pada gadis aneh itu. "Ky, kenapa lo jadi kayak gini sih?” gumamnya dalam hati .
Rizky dan Syifa telah sampai di pintu gerbang Asrama. “Makasih Ky,” ucap Syifa menuruni motor Rizky.
"Iya sama-sama, harusnya gue yang berterima kasih sama lo, karena lo udah rela pinjamin gue pundak lo tadi.”
"Santai aja Ky, jangankan pundak, hati gue aja rela gue kasih ke lo," ucap Syifa diiringi tawa kecilnya.
Rizky mengernyitkan keningnya. "Hah?”
"Hehe, becanda Ky, jangan diambil serius” ucap Syifa terkekeh.
__ADS_1
“Gue balik dulu ya, Syif.” Rizky menyalakan mesin motornya, dan beranjak pergi.
Syifa tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Rizky yang sudah mulai menjauh.