Perfect

Perfect
Bab 37


__ADS_3

Seoul, Korea Selatan.


Syifa duduk di meja belajarnya seraya melihat ponselnya, tiba-tiba ia teringat kalau kemarin Rizky mengirim pesan singkat untuknya.


Syifa segera melakukan panggilan video pada Rizky. Dengan cepat Rizky menerima panggilan tersebut.


"Halo.." sapa Syifa.


Sebuah mood booster bagi Rizky saat melihat wajah Syifa, walaupun hanya melalui layar ponsel.


"Lo kemana aja sih? Kemarin gue chat nggak balas," ucap Rizky dari seberang.


Syifa tersenyum kaku, ia tidak bisa jujur dengan Rizky kalau kemarin ia sedang bersama Kai. "Gue sibuk banget, ada yang harus gue pelajarin soalnya," jawab Syifa bohong.


Rizky mengangguk mengerti. Kedua sudut bibir Rizky terus mengembang seraya memperhatikan wajah Syifa.


"Kenapa sih senyum-senyum gitu?" tanya Syifa.


"Senang aja bisa lihat lo," jawab Rizky malu-malu.


Melihat Rizky tersenyum malu-malu, membuat Syifa ikut tersenyum.


"Gimana hari-hari disana?" tanya Rizky.


Syifa menghela napasnya, ia sedikit menunjukkan wajah cemberutnya. "Capek, pusing deh pokoknya," jawab Syifa.


"Mungkin karena gue belum terbiasa kali ya sama bahasanya," tambah Syifa.

__ADS_1


"Harus tetap semangat, lo harus ingat, nggak mudah untuk dapatin ini semua."


Kedua sorot mata Syifa berkaca-kaca. Ia ingin sekali memeluk Rizky saat ini. "Ky, kangen," ucapnya.


Rizky terkekeh, sebenarnya Rizky merasa sedih, karena ia juga merasakan hal yang sama, bahkan Rizky sering dihantui overthinking yang ia rasakan setiap malam. Selalu muncul dipikirannya apa Syifa akan baik-baik saja disana? Apa Syifa bisa menjaga hati? Apa Syifa akan tetap menjadi miliknya? Atau mungkin ia akan kehilangan Syifa? Namun Rizky berusaha untuk biasa aja dan menunjukkan itu pada Syifa.


"Gue juga kangen," ucap Rizky.


"Tinggal tunggu beberapa bulan lagi dan kita akan ketemu," tambah Rizky.


"Lo disana punya teman, selain Riri dan Alan yang dari sekolah kita?" tanya Rizky seraya merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Punya, teman gue ini dari Jakarta juga," jawab Syifa


"Oh ya? Seru nggak anaknya?" tanya Rizky yang excited untuk mendengarkan Syifa berbicara.


"Kok bisa?" tanya Rizky lagi.


Syifa terkekeh, "Kata Kai sih iseng-iseng aja awalnya," jawab Syifa.


"Kai?" tanya Rizky.


"Iya, namanya Kaisar," jawab Syifa tanpa sadar.


"Cowok?" tanya Rizky dengan nada bicara yang sedikit berbeda dari pembicaraan sebelumnya.


Syifa terdiam, ia baru sadar kalau ia sudah menceritakan Kai pada Rizky.

__ADS_1


"Teman lo cowok?" tanya Rizky.


Syifa mengangguk tidak enak saat melihat raut wajah Rizky yang berubah.


Untuk beberapa menit Syifa dan Rizky hanya terdiam dan saling melihat satu sama lain melalui layar ponsel. Hingga akhirnya Rizky membuka suara. "Lo baik-baik disana ya, kalau pergi ke suatu tempat jangan sendirian, ajak Kai biar lo aman."


"Ky, are you okay?" tanya Syifa.


"Yes, i'am fine. Why baby?" tanya Rizky balik.


Rizky tersenyum, ia mengerti kenapa Syifa bertanya seperti itu, ia hapal sosok Syifa yang tidak selalu merasa tidak enak pada orang lain. "Gue nggak marah kok Syif, lo sama Kai cuma teman aja kan? Santai aja, Syif. Yang penting lo tahu batasan dan juga bisa jaga hati, karena di Jakarta ada orang yang nunggu lo," ucap Rizky.


Air mata Syifa menetes. Dadanya terasa sesak saat Rizky berkata seperti itu. Jika Syifa memiliki pintu kemana saja, mungkin Syifa akan langsung ke Jakarta dan memeluk Rizky dengan erat.


"Udah malam, istirahat yuk," ucap Rizky.


Syifa mengangguk.


"Rizky, i love you," ucap Syifa.


Rizky tersenyum, "I love you too. Udah jangan nangis."


Syifa menyeka air matanya dan memutus panggilan video tersebut.


Syifa melemparkan tubuhnya ke tempat tidur. Syifa merasa sangat bodoh karena sudah menceritakan Kai pada Rizky. Bagaimana jika Rizky jadi berpikiran yang tidak-tidak? Walaupun bibir Rizky berkata tidak apa-apa, tapi Syifa tidak tahu dengan hati Rizky, bisa saja pria itu bersikap biasa aja untuk menyembunyikan rasa kesalnya.


Syifa beberapa kali memukul kepalanya sendiri seraya merutuki perbuatan bodohnya itu. Harusnya malam ini berbagi cerita gembira pada Rizky bukan malah menceritakan Kai pada Rizky.

__ADS_1


__ADS_2