Perfect

Perfect
Bab 7


__ADS_3

Pagi itu, seluruh murid SMA Trita Unasa berkumpul di depan Mading sekolah. Melihat nama ketiga anak beasiswa yang berhasil lolos seleksi program pertukaran pelajar.


Mata Syifa terbuka lebar saat melihat namanya terpampang jelas di mading, ia berhasil mendapat posisi teratas dalam seleksi ini.


“Demi apa gue lolos? Oh my God, gue lolos.. " ucap Syifa excited.


"Tunggu, tunggu, nama gue kok nggak ada ya, Syif?"


Syifa terdiam, ia baru menyadari bahwa nama Ersya tidak ada dalam ketiga nama tersebut. Ia bingung harus berkata apa, karena ia juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


"Nama gue nggak ada, berarti gue ngga lolos untuk program pertukaran pelajar, Syif" ucap Ersya berjalan meninggalkan mading dengan tatapan kosong.


"Sya, tunggu," Syifa berjalan mengikuti Ersya.


“Sya, lo mau kemana?" tanya Syifa yang melihat Ersya berjalan lunglai.


Ersya tidak menggubris ucapan Syifa, ia tetap berjalan saja tanpa menoleh ke arah temannya itu.


"Sya!” Syifa menarik pergelangan tangan Ersya untuk memberhentikan langkahnya.


Ersya menoleh, melihat Syifa dengan tatapan kesal. "LO YANG SIBUK NGURUSIN HATI, TAPI LO MALAH LOLOS UNTUK PROGRAM ITU, SEDANGKAN GUE YANG SERIUS BELAJAR MALAH GAGAL!"


Syifa membuat kerutan-kerutan kecil di keningnya, baru kali ini ia melihat Ersya begitu marah. Hal ini membuat dirinya bertanya, apa semua ini salahnya?


"INI GAK ADIL!"


"KENAPA HARUS LO YANG LOLOS UNTUK PROGRAM ITU?”


"Karena, Syifa berhak untuk ikut serta dalam program itu," sahut seorang pria yang tiba-tiba ikut berbicara.

__ADS_1


Syifa membalikkan tubuhnya, lalu melihat ke arah sumber suara. "Rizky.," dirinya terkejut melihat sosok Syifa yang berada di belakangnya.


"Nggak semua hal yang lo mau bisa lo milikkin.”


Wajah Ersya semakin menunjukkan kekesalannya pada Syifa. Ia mengepal tangannya dengan erat. "KENAPA HARUS LO YANG LOLOS?" tanyanya dengan nada tinggi.


"Cuma karena hal ini lo marah sama Syifa? lo waras?" tanya Rizky dengan menunjukkan senyum nakalnya.


"LO DIAM! NGGAK USAH IKUT CAMPUR!” Ersya mengarahkan jari telunjuknya ke arah Rizky yang berada di samping Syifa.


“Santai, jangan nunjuk-nunjuk” ucap Rizky tenang.


"LO DIAM! NGGA USAH IKUT CAMPUR!”


"Sorry, gue harus ikut campur, karena ini berhubungan dengan Syifa" sahut Rizky.


Seketika kata-kata Rizky membuat Syifa kembali terkejut. Jantungnya berdegup dengan cepat, ia memegang ujung roknya dengan kuat, seraya merasakan tubuhnya yang mulai gemetar.


“Karena Tuhan tau, mana yang pakai hati, dan mana yang pakai nafsu!” ucap Rizky sarkas.


“INI NGGA ADIL!”


"Kalau lo ngga bisa nerima kekalahan, lebih baik lo ngga usah ikut kompetisi!" ucap Rizky dengan sedikit nada tinggi.


Wajah Ersya semakin menunjukkan kekesalannya pada Syifa, ia tidak memandang Syifa lagi sebagai temannya. "GUE BENCI LO, SYIF!” Ersya berjalan meninggalkan Syifa dan Rizky di koridor sekolah.


Saat Syifa ingin mengejar Ersya, Rizky menarik pergelangan tangannya, untuk menghentikan langkahnya. “Nggak usah dikejar, biarin aja, dia butuh waktu sendiri” ucap Rizky.


Mata Syifa terlihat berkaca-kaca, ia sangat sedih melihat Ersya yang sekarang membencinya. "Gue disini cuma punya Ersya, tapi sekarang Ersya benci sama gue, " lirih Syifa.

__ADS_1


Rizky tersenyum kecil, lalu merangkul tubuh munggil Syifa. "Lo ngga usah sedih, masih ada gue, " ucapnya lembut.


"Dia kalah karena dia terlalu ambisius, beda sama lo yang santai tapi pasti,” ucap Rizky berusaha menenangkan Syifa.


"Apa gue ngundurin diri aja ya?” tanya Syifa.


"Lo mau ikutan nggak waras kayak Ersya? gue tanya sama lo sekarang, kalau dia yang diposisi lo, apa dia mau ngundurin dirinya demi lo? nggak, Syif! lo baik boleh, tapi jangan bodoh, ngorbanin diri lo demi orang lain!"


Ucapan Rizky membuat Syifa berpikir, ini yang ia impikan dari dulu, ini tujuannya masuk ke SMA Trita Unasa, ini kesempatan yang bagus untuk masa depannya.


"Nanti pulang sekolah gue tunggu di parkiran ya, izin keluar asrama biar gue yang urus" ucap Rizky kembali berbicara.


Syifa mengernyitkan keningnya, melihatnya lekat. “Mau kemana?” tanyanya.


"Udah pokoknya lo ikut aja, pulang sekolah gue tunggu di parkiran, gue ke kelas dulu ya” ucap Rizky dengan mengacak-acak pucuk rambut Syifa pelan.


“Jangan sedih lagi” ucap Rizky seraya mencubit pipi Syifa pelan.


°°°°


Syifa melangkahkan kakinya memasuki ruang kelas, terlihat Ersya yang sedang asyik memainkan ponselnya, perlahan Syifa mendekatinya. “Sya..," Panggilnya pelan.


"Hmm, " Sahut Ersya yang asik memainkan ponselnya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Syifa.


"Gue.. " belum selesai Syifa berbicara, Ersya langsung memotong ucapannya. "Lo senangkan dibelain sama Aladdin lo itu?” ucap Ersya tidak ramah.


Senyum di bibir Syifa memudar, ia tidak menyangka Ersya masih marah padanya. "Gue minta maaf Sya," ucap Syifa lembut.


Ersya menaruh ponselnya dengan kasar, lalu melihat Syifa dengan tajam. "Udah deh lo diam! Ngga mood gue ngomong sama lo!”

__ADS_1


Seketika ucapan Ersya membuat Syifa terdiam, hatinya terasa sakit mendengar ucapan itu, ingin sekali rasanya ia menangis saat itu juga, tapi ia tidak ingin terlihat cengeng. Syifa berusaha keras menahan rasa sakit dan sedihnya itu.


__ADS_2