
Rizky memutuskan untuk meninggalkan motornya di pinggir jalan, ia berlari sekuat tenaga untuk sampai ke bandara dengan cepat. Tidak peduli dengan terik matahari yang menyorot ke arahnya.
Syifa menuruni mobil, berjalan masuk ke dalam bandara sambil menarik kopernya yang berwarna biru muda. Kedua mata Syifa terlihat berkaca-kaca. "Are you okay, Syif?" tanya Riri, salah satu anak beasiswa.
"Yes, i'm fine," jawab Syifa dengan mengembangkan kedua sudut bibirnya sedikit.
Dibibir, senyum bisa saja terlukis dan bicara baik-baik saja, namun di dalam hatinya ada rasa sedih yang tertahan.
"Syifa.," panggil seseorang dari arah belakang dengan suara keras. Suaranya hampir membuat orang yang berada di bandara melihat kearahnya.
Syifa segera menoleh, melihat kearah orang tersebut Orang tersebut berlari ke arahnya dengan bibir yang menunjukkan senyuman.
"Ri.. Rizky.. " ucap Syifa dengan air mata yang menetes di pipi bulatnya.
Rizky langsung memeluk tubuh Syifa dengan erat, tidak peduli dengan keadaan disekitarnya. "Gue pikir lo.." Belum selesai berbicara, Rizky langsung meletakkan jari telunjuknya di atas bibir mungil Syifa.
"Nggak mungkin gue nggak temuin lo, gue rela bolos, bahkan naik motor dengan kecepatan diatas rata-rata, cuma untuk ketemu lo," ucap Rizky.
Orang-orang yang berada di sekeliling mereka, terdiam, sorot matanya masih melekat ke arah mereka.
"Syifa ayo, sebentar lagi pesawatnya berangkat," ucap Bu Jasmin seraya mencairkan suasana.
Perlahan Syifa melepaskan pelukan Rizky. "Gue berangkat dulu ya," ucap Syifa dengan suara sedikit gemetar.
"Gue janji akan tunggu lo, gue janji akan sering telepon lo, video call lo. Gue janji," ucap Rizky menggenggam tangan gadis yang berada di hadapannya dengan erat.
"Gue nggak akan paksa lo untuk nunggu gue lagi, karena gue tahu, perasaan setiap orang bisa berubah seiring berjalannya waktu," ucap Syifa.
"Kenapa Tuhan harus mempertemukan kita untuk dipisahkan? Kenapa kita nggak bisa sama-sama terus?" tanya Rizky dengan nada sedikit tinggi.
"Tuhan memisahkan kita untuk dipertemukan kembali. Gue yakin itu, karena Tuhan punya skenario yang jauh lebih baik," jawab Syifa.
"Seberapa jauh jarak kita, jika Tuhan menakdirkan lo dan gue untuk bersama, pasti kita akan dipersatukan kembali tanpa kita duga sebelumnya," tambah Syifa seraya meyakinkan Rizky.
Syifa melepaskan genggaman tangan Rizky. "Gue berangkat ya, Ky. Lo jaga diri baik-baik ya, sampai jumpa tahun depan."
Dengan berat hati, Rizky harus melepaskan kepergian gadis yang sudah berhasil membuatnya jatuh cinta. Syifa berjalan meninggalkan Rizky kembali menarik kopernya.
Kedua sudut bibir Rizky mengembang , sorot matanya terlihat berkaca-kaca "Syifa, gue tunggu lo di tahun depan," ucap Rizky dengan suara keras.
Syifa menoleh, sambil menunjukkan sebuah senyuman yang sangat manis.
"Tenang Syif, Rizky nunggu lo kok," ucap Riri sambil mengandeng tangan Syifa.
Syifa berusaha untuk menahan air matanya agar tidak membasahi pipi halusnya. Ia tidak ingin seorang pun melihatnya menangis.
" Cinta itu terlihat manis, ingat hanya terlihat, tapi jika dirasakan, kalian akan tahu, dibalik rasa manis itu ada pahit yang tersimpan," ucap Bu Jasmin.
__ADS_1
Syifa, Riri dan Yekal melihat ke arah Bu Jasmin lekat. "Kenapa? Ada yang salah sama ucapan ibu?" tanya Bu Jasmin saat sorot mata para muridnya penghujaninya.
"Nggak Bu!"
Rizky melihat Syifa dari kejauhan, kedua sudut bibirnya perlahan mengembang. "Sampai jumpa tahun depan," ucapnya pelan dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Gue pergi bukan untuk ninggalin lo, gue ngelakuin ini semua karena ini udah jadi tujuan awal gue masuk ke sekolah, maaf kalau gue egois, Ky," ucap Syifa dalam hati.
...Purnamaku tak akan kembali lagi...
...Purnamaku akan pergi dari hati...
...Aku bersiap sepi...
...Aku bersiap sunyi...
...Aku bersiap gelap...
...Dan aku tak akan tertidur lelap...
...Mimpi mimpiku berdusta...
...Bayanganku tak setia...
...Dimana keadilan ??...
...Aku tak pernah merasa!...
...Ruang waktu mendiskriminasi bahagia...
...Lantas apa bedanya suka dan duka...
...Aku tak bisa menjelaskan, karena bagiku sama...
...Purnamaku yang akan bersinar terang...
...Hanya sebatas hayalan...
...Kini, sinarnya remang remang...
...Sebelum ronanya akan menghilang...
Rizky membalikkan tubuhnya , berjalan keluar dari bandara dengan raut wajahnya yang sendu.
Entah sejak kapan aku mencintaimu, tapi yang pasti, saat ini aku benar-benar merasa kehilanganmu.
Ponsel Rizky berdering, ia segera mengambil ponselnya dari dalam saku, tertera panggilan dari Salma di layar ponselnya. "Halo Sal, kenapa?" tanyanya.
__ADS_1
"Lo dimana Ky?" tanya Salma dari seberang.
"Di Bandara," jawab Rizky.
"Ngapain? Lo nggak sekolah?"
"Nggak mood sekolah hari ini."
"Ky, lo harus sekolah, lo nggak boleh jadi murung cuma karena Syifa," oceh Salma melalui telepon.
"Udah ya Sal, gue lagi pengin sendiri." Rizky langsung memutuskan teleponnya tanpa menunggu sahutan dari Salma.
Rizky merasakan rintikan hujan yang perlahan mengenai wajahnya. Ia mendongakkan kepalanya, menikmati hujan yang turun semakin deras.
...Saat hujan turun, aku mengingatmu. ...
...Saat angin berhembus aku mengingatmu...
...Bahkan saat aku memejamkan mataku ...
...Aku terus mengingatmu...
°°°°°
Rizky pulang ke rumah dalam keadaan basah kuyup. Ia seolah tidak mempedulikan dirinya, ia terus masuk dan menaiki tangga. "Kamu habis mandi hujan?" tanya seseorang.
Langkah kaki Rizky terhenti, ia menoleh, melihat pak Surya yang berada di lantai bawah. "Papa sering banget kesini," ucap Rizky.
"Kamu kenapa basah-basahan?" tanya Pak Surya sambil berjalan mendekati Rizky.
"Lagi pengin mandi hujan," jawab Rizky dengan nada bicara yang terdengar dingin.
"Mandi sana, setelah itu turun ya, Papa tunggu di ruang tamu," ucap Pak Surya keras.
Rizky masuk ke dalam kamarnya, mengganti pakaian dan segera turun menemui pak Surya di ruang tamu.
"Papa suka banget sih kesini," ucap Rizky ketika sudah berada di ruang tamu.
"Sini duduk." Pak Surya menyuruh anak laki-lakinya itu duduk disampingnya.
"Kamu lagi ada masalah? Wajah gantengnya hilang," tanya Pak Surya.
"Pacar kamu pergi?" tanya Pak Surya lagi.
Rizky menganggukkan kepalanya pelan.
Perlahan kedua sudut bibir pak Surya mengembang , tangannya menepuk pundak Rizky pelan. "Sebagai seorang laki-laki, kamu harus mengerti apa artinya menunggu," ucap Pak Surya.
__ADS_1