
Senin, hari yang berat bagi murid di seluruh sekolah yang ada di Indonesia, tidak terkecuali SMA Trita Unasa.
Jam tangan dipergelangan tangan Syifa menunjukkan pukul 06.05 WIB. Gadis itu melihat cermin yang berada di depannya. "Sya, kenapa ya, gue sering jadi pusat perhatian orang? apa ada yang salah sama gue?” tanya Syifa dengan polos.
Ersya menggelengkan kepalanya melihat kepolosan Syifa yang sudah akut. "Padahal lo udah berdiri depan cermin, tapi masih aja nggak tau”.
"Maksudnya?” tanya Syifa tak mengerti.
Tangan Ersya merangkul tubuh mungil Syifa dengan lembut. "Lo itu jelas- jelas cantik, itu alasannya, kenapa lo selalu jadi pusat perhatian".
“Sya, seluruh wanita di muka bumi ini, semua cantik” ucap Syifa.
“Tapi, lo beda Syif, lo punya sisi yang lebih menarik dibanding gadis lainnya, termasuk gue” jelas Ersya.
“Tapi, Sya..” belum selesai Syifa menjelaskan sesuatu pada Ersya, gadis itu langsung menarik tangan Syifa untuk segera ke kelas. Mengingat jam yang terus berjalan. “Udah ayo ke kelas”.
°°°°°
Syifa dan Ersya berjalan keluar kamar asrama menuju kelasnya. Saat Syifa dan Ersya menginjakkan kaki di lapangan, Syifa sudah menjadi pusat perhatian.
Dengan rambut yang digulung ke atas, membuat penampilan Syifa semakin cantik, lebih tepatnya enak untuk dipandang.
“Haii," sapa seorang laki-laki berparas tampan yang berada di hadapan Syifa. Pria itu bukanlah Rizky, ataupun Adam.
Wajah Syifa nampak heran melihat laki-laki yang berdiri di hadapannya. Karena, ini adalah kali pertamanya melihat pria itu. "Hai," sahut Syifa membalas sapaan pria itu dengan datar.
"Lo, Syifa ya?” tanya pria itu.
"Iya."
"Gue Juna, anak kelas 11 IPA 1" ucapnya seraya menyodorkan tangan kanannya pada Syifa.
"Udah ya kenal-kenalannya, udah hampir telat nih” Ersya menepis sodoran tangan Juna yang diarahkan pada Syifa.
“Kita duluan ke kelas ya, Bye Ka!” Ersya segera menarik pergelangan tangan Syifa untuk meninggalkan Juna.
Ersya terus menarik pergelangan tangan Syifa hingga di kelas. “Kenapa sih lo tarik-tarik tangan gue?” tanya Syifa bingung.
Ersya menatap Syifa dengan tajam. "Gue bilangin nih ke lo, jangan mau dekat-dekat sama Juna, satu sekolah tuh tau, dia tuh, Playground".
“Hah? Playground?”
“Playboy, maksudnya, maaf typo” Ersya menyeringai tak berdosa.
“Pokoknya, lo jangan dekat-dekat sama dia!” tambah Ersya dengan penuh penekanan.
"Iya tau kok Sya, lagi pula gak se-gampang itu bisa dekatin gue, di hati gue kan ada Rizky, jadi nggak semudah itu, buat orang lain masuk ke hati gue".
"Bagus deh, gue dukung lo, sama Aladdin lo itu".
Kedua sudut bibir Syifa mengembang sangat lebar. Setidaknya, kini Ersya mendukungnya untuk bersama Rizky.
"Oh ya Sya, gue ke kelas Rizky dulu ya."
" Iya, jangan lama-lama."
Syifa menaruh tasnya di kursinya, ia pun berjalan menuju ruang kelas Rizky yang berada tepat di sebelah ruang kelasnya. Ia mengintip dari balik tembok, kelas itu nampak ramai, terlihat Rizky sedang mengobrol bersama seorang gadis, gadis itu seperti yang ia lihat di kantin bersama Rizky.
Syifa memberanikan kakinya untuk memasuki ruangan kelas Rizky, berpasang-pasang mata melihatnya dan bisikan-bisikan menganggu terdengar di telinganya. Namun, Syifa tidak memedulikannya.
"Eh, ada ukhti cantik” ucap Eko ketika melihat kedatangan Syifa ke kelasnya.
Seketika Rizky dan gadis itu menoleh ke arah Syifa yang berdiri di tengah-tengah pintu. Dengan senyum manisnya, Syifa berjalan menghampiri Rizky. "Haii, Ky" sapa Diandra dengan percaya diri.
"Hai," sahut Rizky datar.
"Hai, kenalin gue, Salma” ucap gadis itu menyodorkan tangan kanannya pada Syifa.
__ADS_1
Kedua sudut bibir Syifa mengembang sedikit "Gue, Syifa" sahutnya membalas sodoran tangan Salma.
"Sini duduk, Syif" ucap Salma dengan ramah.
Syifa pun mengangguk, lalu duduk di sebelah Ali. Penglihatannya fokus kepada Rizky dan Salma yang sedari tadi mengobrol dengan asyik. Senyum di bibir Syifa seolah tak ingin muncul. Ia beranjak bangun dari duduknya.
"Lo mau kemana?” tanya Rizky ketika melihat Syifa bangkit.
"Balik ke kelas."
"Oh, yaudah."
Sahutan Rizky membuat semangat Syifa untuk memulai hari ini pudar, ia segera keluar dari kelas itu menuju kelasnya. Tidak ada senyum yang keluar dari bibir mungil Syifa, melainkan bibir yang maju beberapa sentimeter.
Syifa memasuki kelasnya dengan raut wajah cemberut, keceriaan tidak tampak di wajah cantiknya.
"Kenapa lo?" tanya Ersya.
Syifa menoleh “Lo kenal Salma?” tanyanya.
"Kenal, kenapa?"
"Dia dekat sama Rizky, ya?"
"Dekatlah, dia kan teman satu kelasnya, ya tapi gitu, you know lah, Rizky orangnya cuek aja" jelas Ersya.
Ersya menepuk bahu Syifa, kedua sudut bibirnya mengembang. "Nggak usah takut buat maju, lo tenang aja , akan ada gue yang siap dukung di belakang lo."
" Ersya, lo tuh ya, paling bisa bikin gue senang” Syifa langsung memeluk tubuh temannya itu dengan erat.
"Lo nggak usah takut buat gagal dapatin Rizky, gue yakin lo pasti bisa, pokoknya harus semangat".
"Semangat".
“Selain keluarga, ada hal lain yang berharga, yaitu persahabatan“.
°°°°°
Ersya dan Syifa berjalan melewati kerumunan di depan kelas 11 IPA 1 . Yaps, di depan kelas Rizky. Nampak Rizky dan teman-temannya tengah berbincang. Entah apa yang tengah mereka bahas.
“Hai, Sya” sapa Ali pada Ersya.
“Hai, Li” sahut Ersya dengan senyum yang membuatnya tampak manis.
Kedua mata Rizky lurus ke depan menyorot pada Syifa yang tengah berdiri di samping Ersya. Rizky memperhatikan Syifa dengan lekat. Tanpa sadar, kedua sudut bibir Rizky mengembang sedikit. “Cantik." ucapnya pelan.
“Lo ngomong apa barusan, Ky?” tanya Eko yang mendengar ucapan pria yang duduk tepat di sampingnya.
Kedua mata Rizky terbuka sempurna. Apa yang barusan ia katakan? Rizky menggelengkan kepalanya cepat, menyadarkan dirinya untuk kembali ke jiwa dan raganya yang masih sehat.
“Mau ke kantin ya?” tanya Ali.
“Iya." jawab Ersya.
“Ke kantin bareng yuk” ajak Ali.
Kedua mata Ersya membulat, tidak seperti biasa, Ali mengajaknya ke kantin bersama. “Gimana, mau nggak?” tanya Ali.
“Gue ke kantin sama Syifa, tapi kalau lo mau ikut, silahkan."
Ali menoleh ke arah kedua temannya. Tangannya menepuk bahu kedua temannya itu. “Gue ke kantin dulu ya, jangan kangen” ucap Ali.
“Idih, nggak akan gue kangen sama lo” tajam Rizky.
“Udah Ky, ayo kita ikut aja” ajak Eko.
“Ayo.” Ali langsung menarik tangan Rizky, untuk mengikutinya ke kantin, bersama dengan Syifa dan Ersya, tidak terlupa juga untuk mengajak Eko.
__ADS_1
°°°°°
Terdengar suara riuh keramaian di kantin, suaranya bagai orasi dari para pendemo. Setiap sudut kantin dipenuhi oleh berbagai macam kegiatan. Ada yang bermain karambol, bermain catur, asyik mengghibah, makan bersama , bahkan bikin konten untuk channel YouTube. Sungguh luar biasa!
"Hello guys, welcome back to my YouTube channel. Hari ini suasana kantin ramai banget, sumpek guys" ucap seseorang pada kamera yang ia bawa.
"Maju tuh kuda," ucap siswa yang bermain catur.
“Raja lo majuin sini, jangan diumpatin” sahut siswa yang juga bermain catur.
"Ehh lo tau nggak sih, si Nanda abis diselingkuhin tau” ucap Siswi yang asyik mengghibah.
"Serius si Nanda diselingkuhin?" sahut siswi lain.
Yaps, itulah suasana yang setiap hari terjadi di kantin SMA Trita Unasa. Semua asyik dengan kegiatannya masing-masing. Apa setiap kantin di seluruh sekolah di Indonesia seperti ini? semoga saja tidak.
"Makan dimana?" tanya Ersya.
"Disana aja” Ali menunjuk ke arah meja kosong. Mereka berjalan kesana dan menempati tempat yang kosong.
"Makan bakso aja ya biar gampang pesannya" ucap Eko.
“Iya" kompak yang lainnya.
"Ka' Dal bakso lima mangkok, campur semua" ucap Eko sedikit berteriak.
"Siap Hyung” sahut Ka' Dal.
Ersya membuat kerutan-kerutan kecil di keningnya, mendekatkan wajahnya dengan Eko "Hyung? nggak salah dengar kan gue kalau lo di panggil hyung?" Ersya memastikan pendengarannya tidak salah.
Eko menjauhkan wajahnya dari Ersya, menghela napasnya berat “Jangan salah, banyak orang yang bilang gue itu mirip Sehun," ucap Eko dengan kepercayaan diri yang mencapai dua ratus persen.
"Lo mirip Sehun? Astagfirullah, coba banyak-banyak istighfar deh, Ko" Ucap Ersya.
"Nah bener tuh kata Ersya" sahut Ali menambahkan.
Rizky melihat Syifa yang sedari tadi hanya diam, mulai dari depan kelas, gadis itu tidak mengeluarkan satu kata pun. Tidak seperti biasanya.
“Lo kenapa? sakit?” tanya Rizky pada Syifa, dengan raut wajah tenang.
“Nggak kok” jawab Syifa.
Rizky menganggukan kepalanya, seraya mengiakan ucapan Syifa. Lalu fokus ke layar ponselnya.
"Ini pesanannya” ucap Ka' Dal yang tiba - tiba datang dan membawa lima mangkuk bakso.
“Oke, makasih."
"Sama-sama."
Mereka berlima menyantap bakso dengan lahap, suasana riuh, ditambah perut yang kosong dan diisi oleh satu mangkok bakso. Satu bakso berukuran besar, serta beberapa bakso kecil di sekelilingnya yang ditambahkan sayuran, membuat bakso itu terlihat lezat, menjadi suatu kenikmatan yang haqiqi.
Eko memberhentikan makannya, melihat ke arah teman-temannya. "Gue cocok kali ya, kalau main di drama Hotel Del Luna" ucap Eko membuka pembicaraan.
Ucapannya membuat teman-temannya ikut memberhentikan makannya, melihat Eko dengan sorot mata yang tajam. “IYA, JADI HANTUNYA!” ucap Ali penuh penekanan.
Plakkk!! Eko memukul kepala Ali pelan.
"Yeh, kampret, muka gue tuh cocok jadi lawan mainnya Shin Min Ah, Kim So Hyun, Park Yoo Jung, bahkan Song Hye Kyo” ucap Eko melakukan pembelaan.
“Kasian banget para cewek cantik itu, kalau main drama bareng lo!” ucap Ersya ketus.
"Gue yang mirip Zayn Malik aja nggak sombong" Sahut Rizky menyombongkan dirinya.
“Iya, iya, tau deh yang ganteng mah. Bebas” ucap Ali dan Eko dengan kompak.
Rizky diam-diam memperhatikan Syifa yang ikut tertawa. Perlahan kedua sudut bibirnya ikut terangkat, meskipun tidak terlihat jelas.
__ADS_1