
Jakarta, Indonesia.
Rizky, Ali dan Eko sedang berkumpul di kantin untuk menghabiskan waktu istirahat mereka. Eko beberapa kali melihat Rizky, ia ingin sekali memberitahu Rizky apa yang ia lihat di instagram kemarin.
"Ky, Syifa disana gimana?" tanya Ali.
Eko menghela lega saat Ali membuka pembicaraan tentang Syifa.
Rizky menyedot minuman di depannya lalu melihat Ali. "Katanya sih pusing disana, mungkin karena bahasanya beda kali ya," ucap Rizky.
Ali dan Eko mengangguk mengerti.
"Syifa cerita disana kalau dia punya teman baru," ucap Rizky.
Kedua mata Eko membulat, ia melihat Rizky sangat lekat.
"Wihh, cantik nggak tuh temannya?" tanya Ali menyeringai.
Rizky tersenyum sedikit, sangat sedikit. "Cowok, namanya Kai," jawab Rizky.
Ali terdiam seraya melihat Eko. "Cowok? Syifa cerita ke lo?" tanya Ali lagi.
Rizky mengangguk.
"Ky," ucap Eko pelan.
"Hm."
"Lo baik-baik aja kan, Ky?" tanya Eko.
Rizky terkekeh. "Kenapa? Gue baik-baik aja kok."
Eko memberikan ponselnya pada Rizky, menunjukkan hasil screenshot dari instastory milik Kai kemarin. "Ini instastory Kaisar, teman SMP gue."
Rizky terdiam seraya melihat foto tersebut dengan detail, didalam foto tersebut ada Syifa yang tengah memegang hotdog.
"Jadi yang dimaksud Kai itu Kaisar teman lo?" tanya Ali pada Eko.
Eko mengangguk. "Kaisar satu bulan lebih dulu ke Korea dari pada Syifa, mungkin mereka di sekolah yang sama," jelas Eko.
Rizky mengembalikan ponsel Eko.
__ADS_1
"Sorry Ky, gue harus kasih tahu lo, tapi gue juga senang sih kalau Syifa ceritain Kaisar ke lo, berarti Syifa sama Kaisar ya benar-benar teman aja," ucap Eko seraya menenangkan Rizky.
Rizky memukul tubuh Eko pelan seraya terkekeh. "Santai aja Ko, gue percaya sama Syifa," ucap Rizky.
"Ya tapi kalau tiba-tiba hati dia berubah pilihan, gue bisa apa? Yang penting saat ini gue support Syifa dulu, urusan nanti siapa yang Syifa pilih, itu hak dia," tambah Rizky.
Ali mengambil ponsel Eko dan meng-stalk akun instagram Kaisar. "Ganteng juga ya," ucapnya.
Eko menyenggol tangan Ali untuk menghentikan ucapannya.
"Kaisar orangnya gimana, Ko?" tanya Rizky yang ingin mengetahui sosok Kai tanpa bertanya pada Syifa.
"Famous banget sih dulu pas SMP, kalau sama cewek juga nggak asal berteman aja, agak cuek, yang pasti Kaisar itu pintar banget," jelas Eko.
Ali memukul meja pelan seraya menunjuk wajah Eko. "Tuh kan apa gue bilang, Kaisar itu ganteng, mangkanya dia famous," ucap Ali.
"Kalau Ersya lihat Kaisar, kira-kira akan naksir nggak?" tanya Rizky.
Ali terkekeh, "Ya pasti naksir lah," jawabnya.
Rizky dan Eko kompak melempar pilus ke arah Ali. Pikiran Ali terkadang konyol. "Ersya itu cewek lo woy! Lo rela kalau Ersya sama Kaisar?" ucap Eko.
"Gue belajar dari Rizky, siapapun yang dia pilih itu hak dia," ucap Ali seraya menaikkan kedua alisnya pada Rizky.
"Ajaran sesat! Yang namanya cinta itu harus diperjuangin, bukan malah dilepas gitu aja kayak burung dara," oceh Eko.
"Rasanya ngga akan sama lagi Ko, kalau udah ada orang baru yang masuk," ucap Rizky.
"Nah, mau sekeras apapun lo berjuang, kalau dihatinya bukan lo lagi, akan sia-sia," sahut Ali, mendukung ucapan Rizky.
"Lagi bahas apa sih kayaknya seru banget?" tanya Ersya yang tiba-tiba datang dengan Salma.
Rizky, Ali dan Eko melihat Ersya dan Salma dengan bingung, sejak kapan Ersya dan Salma menjadi dekat. "Pemandangan langka banget lihat Ersya sama Salma barengan gini," ucap Eko.
Ersya melirik Salma sinis, "Dia aja nih yang ngikutin gue ke kantin," ucapnya.
Salma mendesis, "Ih geer banget lo, gue ke kantin nyari Rizky," sahut Salma seolah tak mau kalah dari Ersya.
Ali bangkit, ia menggandeng tangan Ersya, "Guys, duluan ya, mau pacaran dulu," ucapnya seraya terkekeh.
"Dasar bucin lo! gue doain biar cepat putus!" oceh Eko.
__ADS_1
"Sialan lo!"
******
Ali mengajak Ersya pergi dari kantin karena ingin berbicara sesuatu pada gadis itu. Mereka berdua duduk di dekat kolam ikan. "Sya, aku boleh tanya sesuatu nggak?" tanya Ali.
"Tanya apa?" Raut wajah Ersya sangat serius, karena wajah Ali menunjukkan hal yang sama juga.
"Tapi pertanyaan ini nggak menyangkut soal kita," ucap Ali.
"Terus siapa?" tanya Ersya penasaran.
"Syifa," jawab Ali.
Ersya menaikkan satu alisnya seraya melihat Ali bingung. Kenapa tiba-tiba Ali ingin menanyakan tentang Syifa?
"Syifa? Kenapa kamu nanya tentang Syifa?" Ersya sangat penasaran.
"Selama Syifa di Korea cerita sesuatu nggak ke kamu? tentang hari-hari Syifa disana atau teman baru disana gitu?" tanya Ali berbondong-bondong.
Ersya semakin penasaran, "Kamu kenapa sih? aneh banget tiba-tiba nanya Syifa."
"Jawab aja," ucap Ali.
Ersya menghela, "Semenjak Syifa di Korea, Syifa agak beda, udah nggak pernah cerita apa-apa lagi, bahkan jarang banget nge-chat aku," jelas Ersya.
"Gawat!" ucap Ali seraya mengusap wajahnya.
"Kenapa?" tanya Ersya.
Ali menarik napasnya panjang dan membuangnya secara perlahan, lalu mulai menceritakan apa yang Rizky katakan dan Eko tunjukkan padanya.
Kedua mata Ersya membulat. Dunia sangat sempit, bagaimana Kai dan Syifa bertemu diantara banyaknya manusia di bumi?
"Aku takut cowok itu suka sama Syifa, atau malah sebaliknya," ucap Ersya.
"Itu yang aku takut juga," ucap Ali.
"Tapi Rizky baik-baik aja setelah tahu ini?" tanya Ersya lagi.
"Dimulut sih nggak apa-apa, nggak tahu di hatinya," jawab Ali.
__ADS_1
Kini Ersya merasa kasihan pada Rizky, tapi ia juga tidak bisa menghakimi Syifa yang dekat dengan Kai, karena mereka hanya berteman, ya walaupun pada awalnya semua orang berteman, namun seiring berjalannya waktu yang membuat keduanya sering bertemu dan memberi dukungan satu sama lain, tak menyangkal jika akan ada rasa muncul, entah dari Kai atau dari Syifa? atau bisa juga keduanya.