
“Kita nggak naik motor?” tanya Syifa ketika melewati gerbang sekolah.
“Motor gue biar istirahat di parkiran” jawab Rizky santai.
“Panas, Ky!” ucap Syifa.
Rizky menghentikan langkahnya, menatap Syifa dengan tajam. “Takut skincare lo luntur?” tanya Rizky.
“Enak aja! gue itu cantik bawaan lahir, bukan karena skincare,” protes Syifa.
“Iya gue tau lo cantik” ucap Rizky mengacak-acak pucut rambut Syifa pelan.
Rizky memutar balikkan tubuhnya, kembali masuk ke dalam ke sekolah.
Syifa membulatkan kedua matanya, melihat Rizky heran. “Kok masuk lagi?” tanya Syifa seraya mengikuti Rizky.
Rizky menghentikan langkahnya, lalu tersenyum kecil. “Mau ngambil motor, nggak tega lihat lo kepanasan” ucapnya.
Kedua pipi Syifa memanas. Ia menahan senyumnya yang akan mengembang. “Tahan.. jangan blushing” ucapnya dalam hati.
°°°°°
Rizky menghentikan motornya di depan sebuah restoran yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Ia bermaksud mengajak gadis itu untuk makan siang berdua.
Mereka masuk ke dalam restoran tersebut. Rizky menyuruh Syifa untuk duduk terlebih dulu di salah satu kursi yang kosong.
Rizky mengambilkan makanan untuk Syifa. Beberapa siswi yang duduk tidak jauh dari Syifa melihat Rizky, dan memberitahu temannya kalo pria yang sedang mengambil makanan sangat tampan. Temannya pun langsung melihat Rizky, lalu menambahkan kalau pria itu sungguh idaman.
"Ya ampun itu cowok yang lagi pesan ganteng banget" ucap salah satu gadis.
"Tinggi, ganteng, ya ampun idaman" timpal gadis lain.
"Ajak kenalan aja" tambah gadis lain.
Syifa tersenyum saat mendengarnya. Pacarnya memang sangat tampan, jadi tidak salah jika ada wanita lain yang tertarik dengan Rizky.
Beberapa siswi itu semakin membicarakan Rizky. Apakah mereka harus mendekati Rizky? atau hanya melihat dari kejauhan?
Rizky sudah selesai mengambil makanan. Dia memberikannya pada Syifa. Beberapa gadis yang sedari tadi memperhatikan Rizky terkejut saat tahu kalau Rizky sudah memiliki pacar.
“Ah ternyata dia sudah punya pacar” ucap salah satu gadis.
“Pacarnya cantik” sahut gadis lain.
Rizky tersenyum lalu memberikan makanan pada Syifa. Syifa mengambilnya dan langsung memakannya. Syifa tampak sangat menikmatinya sampai tidak sadar kalo mulutnya belepotan.
Rizky mengakupkan dagunya memperhatikan Syifa sambil tersenyum. Syifa menatap Rizky yang terus menatapnya. “Lo nggak makan?” tanya Syifa.
Rizky lalu mengulurkan tangannya dan membersihkan mulut Syifa yang nampak blepotan. Kedua mata Syifa membulat. Pria itu benar-benar sangat manis.
Beberapa gadis yang dari tadi memperhatikan mereka dibuat sangat iri dengan perlakuan manis Rizky pada Syifa. “Mereka bikin iri aja deh” ucap seorang gadis.
“Pengin punya pacar kayak gitu” sahut gadis lain.
“Udah ganteng, romantis, perhatian. Nyari dimana sih cowok kayak gitu?” tambah gadis lain.
Syifa merasa malu dan menutup wajahnya dengan buku menu. Mendadak dia jadi gugup. “Rizky, jangan diam aja dong. Makan” ucap Syifa dari balik buku menu.
Rizky tersenyum lalu mengambil makanan itu dan memakannya.
__ADS_1
°°°°°
Mereka telah selesai makan. Rizky dan Syifa bangkit, lalu berjalan keluar dari restoran tersebut. Rizky terus menggenggam tangan Syifa tanpa peduli dengan orang-orang yang melihat ke arah mereka.
Saat berada di depan restoran, mereka bertemu Salma. Betapa terkejutnya Salma saat melihat Rizky dan Syifa benar-benar pergi berdua. Kedua mata Salma membulat saat melihat tangan Rizky yang menggenggam tangan Syifa.
“Kalian berdua ngapain disini?” tanya Salma.
Syifa menarik tangannya, bermaksud ingin melepaskan tangannya dari genggaman Rizky. Namun, Rizky meraihnya, ia terus menggenggam tangan Syifa.
“Abis makan” jawab Rizky jujur.
Salma mengulum bibirnya, ia tidak kuat melihat Rizky yang terus menggenggam tangan Syifa. Hatinya terasa sangat panas. Namun, ia tidak tidak bisa secara terang-terangan mengaku pada Rizky kalau ia tidak suka melihat kedekatan Rizky dengan Syifa.
“Gue sama Syifa duluan ya, Sal” ucap Rizky seraya mengambil helm dan memakainya.
“Lo baliknya hati-hati Sal” tambah Rizky seraya menepuk bahu Salma pelan.
Rizky memberikan helm pada Syifa, lalu menyalakan mesin motornya. “Salma, duluan ya” ucap Syifa.
Salma terdiam. Ia tidak berkata apapun, selain melihat kepergian Rizky dengan Syifa. “Gue udah cinta sama lo sejak awal kita satu kelas Ky, dan sekarang gue kalah sama cewek yang baru banget jatuh cinta sama lo” ucap Salma dalam hati.
Rizky melajukan kecepatan motornya sedang. Sesekali ia melihat Syifa melalui spionnya. Gadis itu nampak berbeda dari biasanya. “Loh kok diam aja?” tanya Rizky membuka pembicaraan.
“Hah?” tanya Syifa yang kurang jelas mendengar ucapan Rizky.
“Lo kenapa diam aja?” tanya Rizky mengulang pembicaraannya.
“Iya” jawab Syifa enteng. Ia sungguh tidak mendengar ucapan Rizky dengan jelas.
Rizky menghela napasnya kasar, lalu memberhentikan motornya di tepi jalan. Ia melepas helmnya, lalu berbicara pada Syifa melalui spion. “Gue tanya apa, lo jawabnya malah iya” gerutu Rizky.
“Hehehe.., kurang dengar soalnya, jadi gue iyain aja” sahut Syifa tak berdosa.
“Terus gue harus ngapain? Nanti gue kalau gue agresif, lo risih” ucap Syifa.
“Justru agresif lo itu yang bikin gue jatuh cinta” sahut Rizky.
Syifa menahan senyumnya. Ia merasa kedua pipinya memanas. “Ih, apaan sih” ucap Syifa salah tingkah.
Rizky tersenyum kecil, lalu kembali memakai helmnya, dan melanjutkan perjalanan kembali ke sekolah.
°°°°°
“Makasih Ky,” ucap Syifa seraya memberikan helmnya pada Rizky.
“Nggak usah bilang makasih, gue cuma ngajak makan doang. Belum ngasih yang berharga buat lo” sahut Rizky.
“Gue nggak pengin lo ngasih apa-apa kok ke gue, cukup sering berdua sama lo aja gue udah senang banget” ucap Syifa menunjukkan wajah cerianya.
Rizky menuruni motornya. Menatap Syifa dengan lekat, lalu mendekati Syifa. “Makasih,” ucapnya lalu mencium pipi gadis itu dengan pelan.
Kedua mata Syifa membulat saat merasakan sesuatu yang hangat mendarat di pipi kanannya. Jantungnya mulai berdegup tidak beraturan. Syifa berusaha mengontrol dirinya. Ia merasa kegugupannya semakin tak bisa dikendalikan.
“Lo masuk sana” suruh Rizky.
“Lo pulang duluan aja” ucap Syifa.
“Udah sana masuk, gue tungguin sampai lo masuk” sahut Rizky.
__ADS_1
“Yaudah, gue masuk duluan ya, lo hati-hati pulangnya. Bye” Syifa melambaikan tangannya pada Rizky, lalu berjalan masuk ke dalam asrama.
Syifa tidak bisa menahan bibirnya untuk mengembang. Ia sangat senang sekali hari ini. Ia tidak pernah membayangkan kalau Rizky akan mencium pipinya. Bagaimana tidak? untuk mendapatkan hati Rizky saja butuh perjuangan yang sangat besar, bagaimana ingin membayangkan seperti apa rasanya dicium Rizky. Sungguh tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
°°°°°
Rizky melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur, membayangkan saat ia mencium pipi Syifa. Saat itu jantungnya berdegup dengan tidak semestinya. Entah dorongan dari mana sampai ia bisa melakukan itu dengan begitu cepat.
Rizky bangkit, lalu berpikir sejenak. “Aduh, gue bodoh banget sih, kenapa gue ngelakuin hal kayak tadi? nanti kalau Syifa jadi berpikir gue cowok yang nggak benar gimana?”
“Gue bodoh banget sih!” gerutunya sendiri.
Saat Rizky sedang asyik dalam lamunannya, tiba-tiba ia dikagetkan dengan kedatangan kedua sahabatnya yang kurang waras, yaitu Eko dan Ali.
"Rizky.. " Ucap Ali dan Eko seraya mengagetkan Rizky
"Lo ngapain?" tanya Rizky sinis.
Ali dan Eko memasang raut wajah kesal, alih-alih kaget, Rizky malah sinis dengan kedatangan Ali dan Eko.
"Nih, si Eko mau nanya, katanya skincare lo apa aja? kok bisa cakep gitu" ucap Ali menyerobot.
Eko langsung menutup mulut Ali dengan telapak tangannya, "Bohong Ky, kita kesini mau nginap di rumah lo" jelas Eko.
Mata Rizky terbelalak, mulutnya sedikit terbuka, "Nginap? di kamar gue gitu?"
Ali dan Eko kompak menganggukkan kepalanya.
"Ogah, gue tidur sama lo berdua, nanti lo berdua kan cabul" ucap Rizky diiringi tawa kecilnya.
Ali seraya mengelus dadanya perlahan "Astagfirullah Rizky, gue gak mah nggak cabul . Noh, si Eko paling yang cabul " Sahut Ali dengan tawa.
Eko mengernyitkan keningnya, menunjuk dirinya dengan telunjuknya, "Kok jadi gue? hello guys, gue masih normal, masih doyan cewek" ucap Eko melakukan pembelaan.
Rizky dan Ali menganggukkan kepalanya, seraya mengiakan ucapan Eko, mereka malas berdebat dengan Eko, si pria kurang waras.
°°°°°
Pukul 01.00 WIB. Keheningan malam yang disertai gemuruh petir menemani malam Rizky, Ali dan Eko. Rintikan hujan yang deras datang bersama hembusan angin yang kencang, membuat suasana malam seolah mencekam.
"Ky, lo setiap hari dirumah sendirian gak takut?" tanya Eko membuka pembicaraan.
"Nggak" jawab Rizky singkat.
"Lo takut, Ko?" tanya Ali pada Eko yang berbaring disampingnya.
"Suasana kayak gini tuh, sama banget kayak di film horor" ucap Eko sedikit gemetar.
"Setan terus yang ada dipikiran lo, sekali-kali lo pikirin cewek" ucap Ali yang menepuk kening Eko.
"Ehh.. cewek-cewek kalau nginap ngapain ya? apa se-garing kita?" tanya Eko polos.
Rizky bangkit dari tempat tidurnya, menyalakan lampu dan duduk di kursi yang berada di kamarnya. "Nggak tau, gue kan nggak pernah nginap bareng cewek" jawab Rizky jujur.
Ali dan Eko ikut beranjak dan menghampiri Rizky, keduanya memukul kepala Rizky pelan. "Yehh bambang, kalau itu mah ya gak boleh" ucap Ali.
"Tapi, enak kali ya nginap sama cewek-cewek" sahut Eko.
"Iya lo nginap aja sana sama keluarga lo" ucap Rizky ketus.
__ADS_1
Rizky kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur, "Udah ah, gue mau tidur, jangan berisik lo berdua."
"Iyaa tuan rumah" ucap Eko dan Ali bersamaan.