Perfect

Perfect
Bab 46


__ADS_3

Terdengar suara riuh dari berbagai penjuru kelas saat bel pulang berbunyi. Bukan hanya sebatas bel pulang, itu juga pertanda kalau ujian kenaikan kelas telah usai.


Beberapa murid sudah mulai membicarakan rencana liburan mereka.


"Camping yuk," ucap Eko saat mengambil tasnya dari loker.


Rizky, Ali, Ersya, Salma dan Adam menoleh.


"Ayo kita camping," ucap Eko lagi.


"Kesambet makhluk jenis apaan lo sampai ngajakin camping gini?" tanya Ali.


"Kita kan ngga pernah camping sebelumnya, jadi gue mau ngajakin kalian," ucap Eko.


Rizky mengangguk setuju. "Ayo. Gue setuju kalau camping."


Ersya merangkul tubuh Ali, seraya merayu kekasihnya itu agar mau ikut camping. "Yuk kita camping bareng."


Ali menghela, jika Ersya yang berbicara, mau tidak mau ia menuruti ucapannya. "Oke deh, ayo kita camping."


"Adam sama Salma kalau mau ikut juga boleh kok, biar ramai," ucap Eko seraya melihat kedua orang itu yang sedari tadi melihat kearahnya.


"Gue boleh ikut?" tanya Adam sungkan.


"Boleh aja," jawab Ersya.


Eko tersenyum senang, akhirnya teman-temannya itu menuruti kemauannya. "Nah gini dong pada ikut. Pokoknya nanti sore ya kita langsung berangkat," ucapnya.


"Biaya lo yang nanggung kan, Ko?" goda Ali yang sudah tahu isi dompet temannya itu.


Eko mendecak. "Sialan!"


"Berangkatnya bareng-bareng atau gimana nih?" tanya Adam antusias.


"Kayaknya lebih baik bareng aja deh, nanti satu mobil bareng-bareng," jawab Ersya.


"Pakai mobil gue aja," ucap Rizky.


Eko menepuk bahu Rizky. "Emang paling benar, temenan sama itu adalah suatu kenikmatan," ucap Eko terkekeh.


"Nikmat buat lo," sahut Ali ketus.


"Udah sana pada pulang, nanti sore kumpul di sekolah lagi ya," ucap Eko bersemangat.


*****


Pukul 15.00 WIB. Mereka semua berkumpul di depan sekolah. Tenda, ransel, makanan, minuman dan obat-obatan telah dimasukkan ke dalam mobil.


"Yang mau nyetir duluan siapa?" tanya Eko.


"Lo bisa nyetir?" tanya Ali.


Eko menggeleng seraya menyeringai tak berdosa.

__ADS_1


"Sialan! Modal ngajakin doang!" gerutu Ali.


"Gue aja deh yang pertama." Adam mengusulkan dirinya untuk menjadi penyetir pertama.


"Yaudah, nanti di rest area tukeran sama gue," ucap Rizky.


Raut wajah Rizky mulai berubah, ia tidak dingin lagi seperti sebelumnya. Mungkin Rizky sudah mulai bisa beradaptasi pada Adam.


Dengan kecepatan tinggi Adam mengendarai mobilnya, melihat jalanan sangat sepi hari ini.


Tiba di rest area. Mereka berhenti sejenak dan membeli beberapa cemilan.


"Nih Ky, buat lo." Salma memberikan minuman soda pada Rizky berdiri tidak jauh darinya.


"Makasih Sal, tapi gue ngga minum soda," ucap Rizky.


"Buat lo aja nih." Rizky memberikan minuman tersebut pada Adam.


"Makasih Sal," ucap Adama seraya menundukkan kepalanya sedikit pada Salma.


Salma tersenyum kaku. Ia pikir Rizky sudah mulai bisa menerimanya, tapi ternyata tidak.


Setelah hampir dua puluh menit mereka beristirahat, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka ke tempat yang bernama kampung camp.


*****


Kurang lebih dua jam perjalanan, akhirnya mereka pun tiba di kampung camp.


Mereka melihat sekelilingnya, banyak tenda-tenda kecil yang didirikan oleh orang-orang yang sepertinya mempunyai tujuan yang sama dengannya, yaitu berlibur.


"Kamu senang?" bisik Ali.


Ersya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum senang.


Rizky membayangkan, andai saja ia ke tempat ini bersama Syifa, pasti gadis itu akan sangat senang.


Eko melihat Rizky yang melamun, ia pun mendekatinya dan menepuk bahu Rizky keras. "Lebih baik kita bangun tenda aja yuk."


Rizky tersadar, ia pun menepis tangan Eko dari bahunya dan berjalan ke tempat yang kosong untuk membangun tenda.


Ali melihat Ersya dengan lekat. Perlahan tangannya merapikan rambut Ersya yang sedikit berantakan.


"Kenapa sih ngelihatin?" tanya Ersya salah tingkah.


"Aku ngga nyangka aja kalau kita pacaran," ucap Ali dengan mata yang berbinar-binar.


Ersya tersenyum, ia menakupkan wajah Ali dengan kedua telapak tangannya. "I love you." Ersya mengecup ujung hidung Ali, lalu pergi menghampiri Rizky yang sedang membangun tenda.


Kedua mata Ali membulat, tubuhnya mendadak beku seketika. Oksigen di sekelilingnya pun seolah menghilang.


Ersya tersenyum dari kejauhan melihat Ali yang masih shock setelah mendapat ciuman dari Ersya.


Adam menepuk Ali seraya menyadarkan pria itu. "Udah dong bengongnya. Baru hidung yang dicium lo udah shock begitu, gimana kalau bibir? Pingsan kali lo ya," goda Adam.

__ADS_1


Ali mendesis, bayang-bayang saat Ersya menciumnya hilang seketika karena Adam menepuk bahunya. "Sialan lo! Ganggu aja."


Adam terkekeh, lalu pergi meninggalkan Ali dan membantu Salma membangun tenda.


"Perlu bantuan?" tanya Adam.


Salma mengangguk.


Adam pun membantu Salma untuk membangun tenda. Dari kejauhan Ali dan Eko melihat Adam dan Salma yang nampak kompak.


"Kalau dilihat-lihat mereka cocok ya," ucap Eko.


"Iya ya, kenapa Adam ngga pacaran aja sama Salma?" sahut Ali.


"Sulit. Adam suka Syifa, Salma suka Rizky, tapi Rizky suka Syifa," ucap Eko.


*****


Langit mulai gelap, beberapa orang yang berada di camp mulai menyalakan api unggun dan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


"Gue punya sesuatu." Eko mengeluarkan petasan dan kembang api dari belakang tubuhnya.


"Wih!! Kembang api," ucap Ersya senang.


"Lo suka main kembang api?" tanya Ali.


Ersya mengangguk bersemangat.


Eko membagikan kembang api kepada teman-temannya.


Senyum di bibir Ersya mengembang dengan sangat lebar saat percikan kembang api mulai menyala dan bersinar.


Dulu Ersya hanya bisa membayangkan bisa bermain kembang api bersama orang yang spesial untuknya, namun sekarang, semuanya terwujud. Disampingnya sudah ada Ali, orang yang spesial untuknya.


Ali menoleh, lalu berbisik. "Dulu, aku pengen banget main kembang api sama orang yang aku sayang, dan akhirnya sekarang terwujud. Aku senang banget bisa main kembang api sama kamu."


Ersya tersenyum senang.


Tak ingin kehilangan momen, Ali segera mengambil ponselnya dan memotret Ersya yang tengah bermain kembang api tanpa sepengetahuan gadis itu.


Sebuah kebahagiaan kecil yang Ali dapatkan di percintaan masa SMA nya.


Kedua sudut bibir Rizky mengembang saat melihat Ersya sangat senang bermain kembang api.


Rizky memang tersenyum, namun hanya sebatas dibibir. Hatinya merasa kalau ia tidak nyaman dengan ini semua, ia merasakan sepi ditengah keramaian. Harusnya ia merasa senang malam ini, namun sebaliknya. Ia hanya bisa melihat teman-temannya tertawa dan melepas beban tanpa ia bisa melakukan hal yang sama.


Adam mendekati Rizky, "Gue tahu perasaan lo, lo mikirin Syifa kan?"


Rizky hanya diam. Ia menatap langit malam yang cerah dengan banyak bintang-bintang yang menemani rembulan.


...Gemerlap kembang api yang indah membuatku kosong...


...Tawa bahagia yang ku dengar juga membuatku lirih...

__ADS_1


...Andai aku bisa berkata, aku iri pada rembulan yang ditemani sang bintang....


__ADS_2