Perfect

Perfect
Bab 23


__ADS_3

Syifa dan Rizky segera pamit. Rizky mengantarkan Syifa pulang. Selama perjalanan di dalam mobil tidak ada yang membuka suara. Syifa diam, pandangannya melihat keluar. Sementara Rizky fokus menyetir.


Rizky menurunkan tangan kirinya. Ia meraih tangan kanan Syifa untuk digenggam.


Genggaman tangan Rizky membuat Syifa sedikit terkejut, dan menoleh ke arah Rizky. “Kenapa?” tanya Syifa pelan.


“Nggak apa-apa. Pengin genggam aja,” jawab Rizky tenang.


Rizky memberhentikan mobilnya. Memposisikan tubuhnya ke arah Syifa.


“Kok berhenti?” tanya Syifa.


Rizky mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Lalu memberikannya pada Syifa. “Buat lo,” ucap Rizky sembari memperlihatkan sebuah kalung dengan bandulan bola kristal berwarna biru.


Syifa membeku sejenak. Lagi-lagi Rizky membuatnya sedikit terkejut. “Gue kan nggak minta,” sahut Syifa.


“Gue kan yang ngasih” ucap Rizky.


“Pasangin,” pinta Syifa.


“Pasang sendiri kan bisa,” sahut Rizky datar.


Syifa mendesis pelan, ia menatap Rizky dengan sinis. "Nggak ada romantisnya banget sih!” gerutunya.


Rizky tertawa kecil, lalu segera memasangkan kalung itu.


“Ini bagus banget, Ky. Makasih” ucap Syifa seraya memegang bandulan kalung itu.


“Sama-sama,” sahut Rizky dengan senyum hangatnya.


“Kenapa lo ngasih kalung ini ke gue?” tanya Syifa memberanikan dirinya.


“Cuma ngasih kalung juga harus punya alasan?” tanya Rizky balik.


“Ih, kalau ditanya kenapa harus nanya balik sih!” kesal Syifa.


“Karena gue sayang sama lo,” ucap Rizky.


“Seriusan?” tanya Syifa malu-malu.


“Sejak kapan gue nggak serius sama lo?” tanya Rizky balik dengan serius.


Kedua sudut bibir Syifa mengembang dengan sangat lebar. Ia mendekatkan wajahnya dengan Rizky. Membuat pria itu berhenti berkedip.


“Gombal!” Syifa menepuk pipi Rizky dengan keras. Membuat pria itu sedikit meringis.


“Dicuekin salah, diromantisin salah juga. Ternyata benar ya kata orang, cowok tuh selalu salah,” ucap Rizky dramatis.


“Lebay!”


Raut wajah Rizky berubah. Rizky menatap Syifa dengan lekat.


“Waktu lo tinggal berapa hari lagi di sekolah?” tanya Rizky datar.


Syifa diam, tak menjawab. Mungkin lebih tepatnya dia tidak berani menjawab.


“Jawab Syif,” decak Rizky.


Syifa menggigit bibir bawahnya, kedua matanya terasa memanas. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh.


“Gue nggak mau ninggalin lo,Ky,” ucap Syifa gemetar.


Rizky tersenyum kecil, perlahan tangannya mengelus rambut gadis itu dengan lembut. “Gue akan nunggu sampai lo kembali lagi.”


Akhirnya air mata Syifa terjatuh ketika ucapan Rizky. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya jika ia akan jauh dari Rizky.

__ADS_1


“Kejar impian lo, Syif,” ucap Rizky lagi.


“Sebelum lo kenal gue, lo udah punya impian yang besar, dan gue nggak pengin ngancurin itu semua,” tambahnya.


Tangisan Syifa semakin keras. Gadis itu tak bisa menghentikan air matanya.


Rizky meraih tangan Syifa, menggenggamnya dengan erat. “Gue akan nunggu lo,” Rizky berusaha menenangkan Syifa.


“Orang yang LDR itu biasanya cepat putus, Ky” ucap Syifa.


“Kata siapa?”


“Kata orang-orang,” jawab Syifa sembari menghapus air matanya yang membasahi pipi halusnya.


“Kita buktiin ke orang-orang, kalau kita nggak akan kalah sama jarak,” bujuk Rizky.


“Janji? Rizky nggak akan macam-macam ya di sini? Nggak akan jalan cewek lain? Nggak akan cari pacar baru?”


“Iya,”


“Beneran? Janji?”


“Iya. Janji sayang.”


Syifa menganggukkan kepalanya, tangannya segera mengusap wajahnya yang dipenuhi air mata.


Rizky tersenyum. Rizky merasa lega, setidaknya untuk saat ini gadis itu mulai tenang.


°°°°°


Rizky dan Syifa sudah sampai di depan gerbang asrama. Syifa segera turun dari mobil Rizky.


“Syifa,” panggil Rizky.


Syifa menoleh, melihat Rizky yang berjalan ke arahnya.


Rizky tersenyum sembari menatap Syifa dengan lekat.


“Kenapa, Ky?” tanya Syifa lagi.


Syifa kembali bertanya pada Rizky, pria itu masih memandanginya.


“Nggak apa-apa” jawab Rizky dengan senyum yang masih terhias di bibirnya.


“Ih, jangan diliatin terus kek! Gue kan jadi salting,” ucap Syifa.


“Kenapa?” goda Rizky.


“Gue jadi salah tingkah kalau lo natap gue lama-lama,” jawab Syifa jujur, berulang kali Syifa menarik napasnya dalam, ia merasa oksigen di sekelilingnya mulai menghilang.


Rizky tertawa pelan. Tangannya perlahan mengacak-acak pucuk kepala Syifa.


Tangan Rizky bergerak turun dari kepala Syifa menuju kedua tangan gadis itu. Menggenggamnya dengan erat. Lalu, Rizky tersenyum hangat. “Makasih Syif.”


“Untuk apa?” tanya Syifa.


“Untuk semuanya,” jawab Rizky.


Syifa langsung tertunduk, menutupi wajahnya yang mungkin sudah memerah. Syifa merasakan jantungnya berdegup semakin cepat.


“Lo inget waktu lo bilang ke gue, kalau lo akan memberi warna di hidup gue?” tanya Rizky.


“Ya pasti ingat lah. Karena menurut gue, setiap detik sama lo itu, selalu jadi momen berharga buat gue,” jawab Rizky.


“Lo nepatin omongan lo ke gue, Syif” ucap Rizky.

__ADS_1


“Lo benar-benar bikin hidup gue berwarna. Lo bikin gue tau, kalau hidup bukan hanya ada diri gue sendiri aja.”


“Semenjak ada lo, gue jadi ngerti, kalau hidup ini adil, cuma gue aja yang belum bersyukur,” tambah Rizky.


Syifa tersenyum melihat Rizky. Pria yang berada di depannya saat ini sungguh berbeda dari biasanya. Sekarang Syifa yakin, bahwa ia berhasil membuat hati dingin Rizky menjadi luluh.


...“Ya terkadang manusia selalu berpikir kalau hidup itu nggak pernah adil, padahal bukan hidup yang nggak adil, tapi manusia yang nggak pernah ngerti untuk menikmati hidup.”...


°°°°°


Rizky memarkirkan mobilnya di garasi rumah Ali, lalu masuk ke dalam seolah rumah itu adalah miliknya.


Rizky melemparkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang tengah Ali. Membuat Ali dan Eko yang sedang bermain game terkejut dengan kedatangan Rizky yang tiba-tiba. Kedua pria itu langsung melihat ke arah Rizky.


“Kayak Jailangkung, lo!” celetuk Eko.


“Ngapain lo ke rumah gue?” tanya Ali.


“Kangen kalian,” jawab Rizky datar.


“Drama!” sahut Ali dan Eko bersamaan.


Ali menyipitkan kedua matanya, melihat wajah Rizky yang sangat ceria. “Muka lo ceria banget, kayak anak sekolah mau study tour,” ucap Ali.


“Nggak kayak biasanya? Abis ngapain lo?” tanya Ali.


“Abis mempertemukan orang tua gue sama calon menantunya,” jawab Rizky sembari tersenyum.


“Huuu, bucin!” gerutu Eko.


“Gimana? Bokap, nyokap lo suka sama Syifa?” tanya Ali penasaran.


“Banget,” jawab Rizky singkat.


“Berarti udah cocok banget nih ya sama Syifa,” ucap Ali.


“Udah cocok. Fix, no debat,” sahut Rizky.


Eko menaruh ponselnya, lalu melihat kedua temannya dengan lekat. “Jahat lo berdua. Lo berdua udah punya doi, sedangkan gue masih sendiri,” ucap Eko.


“Mangkanya, otak lo bikin waras dulu. Gimana cewek ada yang tertarik sama lo, kalau lo nya masih kayak gini?”


“Emang gue kenapa?” tanya Eko.


“Kurang waras,” jawab Rizky dan Ali kompak.


°°°°°


Syifa masuk ke dalam kamarnya, mencopot kalungnya, lalu menunjukkan pada Ersya yang saat itu sedang sibuk dengan ponselnya.


"Dari Rizky. Bagus nggak?" tanya Syifa dengan senyum manisnya.


Kedua mata Ersya membulat, "Serius dari Rizky? Kok bisa cowok macam kanebo kering kayak dia ngasih lo kalung?" tanya Ersya tak percaya.


"Apapun bisa kalau udah urusan sama hati," jawab Syifa tertawa.


"Nggak nyangka kalau Rizky bucin," ucap Ersya.


Syifa kembali memasangkan kalung itu di lehernya. Lalu bercermin. "Bagus," ucapnya.


"Ah lo mah bikin gue iri aja," gerutu Ersya.


"Kata pak ustad, orang iri itu temannya setan," goda Syifa.


Brukkk!!! Ersya melemparkan guling ke arah Syifa. "Kasar," ucap Syifa.

__ADS_1


"Biarin," sahut Ersya seraya menjulurkan lidahnya ke arah Syifa.


__ADS_2