Perfect

Perfect
Bab 21


__ADS_3

“Rizky..,” panggil Salma saat melihat Rizky yang baru saja keluar dari toilet.


Rizky menoleh. “Kenapa?” tanya Rizky.


“Ikut gue yuk” ajak Salma.


“Kemana?” tanya Rizky.


“Udah ayo, ikut aja” Salma menarik pergelangan tangan Rizky.


Rizky menepis tangan Salma pelan. “Lo jalan duluan aja, gue ikutin” ucap Rizky.


Salma mengalah, akhirnya ia jalan di depan Rizky, sedangkan Rizky mengikutinya dari belakang.


Mereka berdua telah sampai di belakang sekolah. Salma menarik napasnya pelan. Mengendalikan detak jantungnya yang tidak beraturan.


“Ky..,”


“Iya, kenapa Sal?”


Salma berjalan mendekati Rizky, membuat jarak yang sangat sedikit diantara mereka.


Melihat Salma yang semakin dekat dengannya, membuat Rizky memundurkan langkahnya. “Tujuan lo ngajak gue ke sini sebenarnya apa sih?” tanya Rizky sedikit tidak ramah.


Salma menggenggam tangan Rizky. “Ky, gue tuh sebenernya suka sama lo. Gue nggak suka lihat lo sama Syifa,” ucap Salma.


Rizky melepaskan genggaman tangan Salma. “Apaan sih lo. Jangan becanda kayak gitu,” sahut Rizky.


“Gue nggak becanda Ky. Gue serius.”


“Dari awal ospek, gue jatuh cinta saat pertama kali lihat lo, dan saat gue tau kita masuk di kelas yang sama, hati gue berasa senang banget,” jelas Salma.


“Sorry Sal, gue harus balik ke kelas sekarang” ucap Rizky.


Rizky membalikkan tubuhnya, berjalan meninggalkan Salma. Namun langkahnya terhenti saat ia merasakan sesuatu yang memeluknya dari belakang. “Gue sayang lo, Ky” ucap Salma.


“Maaf Sal, gue nggak bisa balas perasaan lo,” ucap Rizky melepaskan tangan Salma yang memeluknya dengan erat.


“Apa karena Syifa?” tanya Salma.


“Lo bisa Ky, coba buka hati lo buat nerima gue,” tambah Salma.


“Ini hati Sal, bukan kayak sembako yang bisa lo bagi-bagi” ucap Rizky.

__ADS_1


“Dan satu lagi, lo cewek, Syifa juga cewek. Pasti lo ngerti kan gimana sakitnya saat pasangan lo direbut orang lain. Gue harap sih lo bisa ngertiin itu,” tambah Rizky.


°°°°°


Rizky menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia merasa malas untuk melepaskan sepatu dan seragamnya. Ia terdiam, pandangannya menatap langit-langit kamar dengan tatapan yang kosong.


Ucapan Salma masih terngiang-ngiang di telinga Rizky. “Ahh... gue jadi bingung harus gimana sekarang? Urusan hati bikin gue pusing. Rasanya jadi pengin ambil tali aja,” ucap Rizky sembari menutup wajahnya dengan bantal.


“Jangan ngomong sembarangan, omongan kamu itu nanti dicatat malaikat. Emang kamu udah siap?” ucap seseorang.


Rizky membuang bantal yang menutupi wajahnya, lalu bangkit. “Papa mau ngapain ke sini lagi?” tanya Rizky terkejut.


Kedua sudut bibir Pak Surya mengembang, perlahan ia menghampiri Rizky. “Kamu kan anak papa, emang nggak boleh kalau seorang papa nengokin anaknya?” tanya Pak Surya.


“Nggak usah sok peduli sama Rizky, Pa!” ketus Rizky.


Pak Surya menarik napasnya panjang, lalu merangkul pundak Rizky pelan. “Kamu lagi ada masalah apa? Cerita aja sama papa,” ucap Pak Surya lembut.


Rizky melihat pak Surya dengan lekat. Lalu menceritakan semuanya dengan tenang. “Jadi gitu pa...” ucap Rizky setelah selesai menceritakan apa yang terjadi dengannya.


“Rizky jadi merasa nggak enak kalau ketemu Salma nanti. Pasti bakalan akward banget,” tambah Rizky.


"Ikuti kata hatimu, jangan kalah dengan rasa nggak enakan sama orang lain, ini hidupmu, jalani saja yang kamu inginkan, dan hiduplah untuk dirimu sendiri" ucap pak Surya menenangkan Rizky.


Rizky terdiam sejenak, ia tidak menyangka papanya bisa mempunyai pemikiran seperti itu. Ia menelan ludahnya dengan kasar, ia merasa kali ini papanya berbicara dengan sangat serius mengenai hal ini.


"Pah ..,"


“Iya Ky, ada yang ingin kamu ceritakan lagi?"


Rizky menggelengkan kepalanya dengan pelan, ia memeluk sang papa dengan sangat erat, sudah hampir tiga tahun Rizky tidak merasakan dipeluk, diperhatikan, disayang oleh orang tuanya .


Air mata pak Surya mulai menetes, perlahan tangannya mulai membalas pelukan Rizky, " Perlu kamu tahu Ky, papah sangat sayang sama kamu... "


Perlahan Rizky melepaskan pelukannya dan menatap pak Surya.


"Sekarang Rizky percaya, semua orang tua menyayangi anaknya," ucap Rizky dengan air mata yang membasahi wajah tampannya.


"Nggak akan ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, se-marah apapun orang tua dengan anaknya, pasti selalu ada doa baik yang terselip dalam sujudnya untuk sang anak.”


“Papa jadi penasaran, seperti apa sih sosok cewek yang berhasil bikin anak papa yang ganteng ini bisa jatuh cinta sama dia,” ucap Pak Surya sedikit tertawa.


“Nanti kenalin pacar kamu ke papa dan tante Sinta ya,,”tambah Pak Surya.

__ADS_1


“Ih, apaan sih pa,” sahut Rizky sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Pokoknya kamu harus kenalin dia ke papa,” ucap Pak Surya.


“Iya, iya, nanti Rizky akan kenalin dia ke papa dan tante Sinta,” sahut Rizky.


°°°°°


Pagi ini hujan deras turun secara tiba-tiba. Matahari tampaknya sedang kehilangan semangatnya untuk bersinar. Hujan deras membuat para siswa datang ke sekolah membawa payung, jaket, dan jas hujan.


Lantai sekolah yang putih kini bercampur dengan bercak-bercak coklat yang terlihat di sepanjang lorong. Pagi ini benar-benar membuat para siswa tidak bersemangat untuk belajar.


Syifa melihat langit yang berwarna kelabu. Ia mendengus kesal karena ia tidak memiliki payung untuk menyebrang dari asrama ke sekolah.


“Kalau gue lari, kira-kira bakalan basah nggak ya?” ucap Syifa sendiri.


Tiba-tiba dari belakang muncul sebuah payung berwarna kuning.


Syifa membalikkan tubuhnya, melihat orang yang menunjukkan payung itu. “Udah gue duga lo nggak ada payung,” ucap Rizky.


Syifa menatap Rizky. Ia terlihat malu-malu.


Rizky menarik Syifa agar mendekat. Payungnya nggak cukup besar sehingga punggung Syifa basah terkena hujan.


Syifa kembali menatap wajah Rizky. Moment ini adalah moment yang paling dia tunggu dalam hidupnya.


“Ayo ke kelas,” ajak Rizky.


Syifa tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.


Beberapa murid yang melihat Syifa dengan Rizky jalan berdua sembari berpayungan, membuat mereka merasa iri.


Salma mendengus kesal, kenapa harus pagi-pagi seperti ini ia harus melihat hal yang membuat mood nya turun. “Harusnya gue yang diperlakukan kayak gitu sama Rizky, bukan Syifa,” gumam Salma dalam hati.


Syifa melirik Rizky sambil tersenyum. Biasanya ia hanya mampu membayangkan hal manis yang akan mewarnai masa SMA nya, namun kini, bayangan manis itu benar-benar terjadi.


“Ky, lo tahu nggak? Dulu gue pernah berkhayal untuk payungan berdua sama seseorang yang gue cinta. Ternyata khayalan gue nggak sia-sia. Sekarang beneran terwujud,” ucap Syifa.


“Hidup itu punya banyak kejutan. Bahkan hidup ngasih hal yang nggak pernah kita bayangin sebelumya,”ucap Syifa.


"Bahkan hidup selalu punya alasan kapan dan pada siapa kita harus bahagia" ucap Rizky seraya menunjukkan senyumannya yang paling manis.


°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

__ADS_1


Semoga kalian suka dengan ceritanya. Terima kasih sudah membaca :)


__ADS_2