Perfect

Perfect
Bab 11


__ADS_3

Bel pulang berbunyi, tidak seperti biasanya, Ali sudah berdiri di depan kelas dengan bawa tas di punggungnya.


Rizky dan Eko menatap Ali yang terus saja melihat ke kelas sebelah, seperti sedang menunggu seseorang.


“Li, lo ngapain?” tanya Eko.


“Nungguin bidadari gue” jawab Ali tersenyum.


Ersya dan Syifa pun keluar dari dalam kelas. Berjalan melewati depan kelas Ali. “Sya,” panggil Ali.


“Iya?” Ersya menghentikan langkahnya.


“Sya, mau ngomong berdua boleh nggak?” tanya Ali ragu.


“Ngomong aja disini."


“Yakin lo mau dengarnya disini?”


“Iya.”


Ali mengatur detak jantungnya yang berdegup tidak beraturan. Ia mengumpulkan keberanian yang maksimal untuk mengutarakan semua yang ada di hatinya. “Kalau gue jatuh cinta sama lo, gimana?” tanya Ali terang-terangan.


Rizky dan Eko membuka kedua matanya sempurna, ia tidak menyangka Ali akan mengutarakan perasaannya secepatnya ini. Tidak hanya Rizky dan Eko yang terkejut, Syifa pun dibuat mematung beberapa menit.


“Lo jatuh cinta sama gue?” tanya Ersya memastikan pendengarannya tidak salah dengar.


“Iya, gue jatuh cinta sama lo” jawab Ali lantang.


Ersya menganggukkan-anggukan kepala. “Lo cuma mau ngomong itu doang? nggak ada yang lain? nggak mau ngajak gue pacaran gitu?” tanya Ersya.


Kedua mata Ali membulat, “Gue sih pengen nanya itu, lo mau nggak jadi pacar gue?” tanya Ali. Entah keberanian dari yang membuat Ali melontarkan pertanyaan itu.


“Mau," jawab Ersya tanpa pikir panjang.


Eko, Rizky dan Syifa mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa seorang Ersya dengan mudahnya menerima cinta seseorang?

__ADS_1


Ali tersenyum senang. “Benaran? lo mau jadi pacar gue?” tanya Ali memastikan.


Ersya menganggukkan kepalanya. “Iya.”


“Sya, lo buru-buru banget sih” bisik Syifa.


Ersya melihat Syifa dengan tenang. “Gue cuma nggak mau, ngebiarin orang yang jatuh cinta sama gue, merasa cintanya bertepuk sebelah tangan” ucap Ersya.


“Lo pasti tau kan gimana sakitnya, kalau cinta bertepuk sebelah tangan? lo berjuang sendiri, sedangkan orang yang lo cinta nggak ngerespon sama sekali” tambah Ersya seraya melirik Rizky yang dari tadi tidak bersuara.


Ali tersenyum, ia takjub dengan ucapan Ersya yang menurutnya memiliki pemikiran yang bagus. “Sya, jadi sekarang kita pacaran?” tanya Ali lagi memastikan.


“Iya dong."


Seketika suasana di depan kelas menjadi hening, sampai akhirnya Eko membuka suara. “Yah, Rizky kalah cepat, yang di dekatin lo duluan, kenapa yang jadian malah Ali duluan?”.


Ersya kembali membuka suara. “Karena teman lo ini terlalu dingin, dia ngebiarin orang yang cinta sama dia itu berjuang sendiri!” ucap Ersya penuh penekanan.


“Ustt! nggak boleh gitu Ersya, itu semua Rizky lakuin karena dia terlalu ganteng jadi cowok.” sahut Eko.


°°°°°


Ali, dan Eko tidak langsung pulang ke rumah, melainkan singgah sebentar di rumah Rizky. Ketiga pria itu asyik berbincang sambil meminum soda dan menghabiskan camilan yang disediakan oleh Rizky.


“Li, lo pakai pemikat ya?” tanya Eko membuka pembicaraan.


“Hah?” tanya Ali dan Rizky secara bersamaan.


“Lo pakai pemikat? kok Ersya bisa langsung mau jadi pacar lo?” tanya Eko lagi.


“Aura ketampanan gue tuh maksimal banget, jadi rugi kalau ada cewek yang nggak mau sama gue” jawab Ali dengan sombong.


“Lo jatuh cinta benaran nggak sih sama Ersya?” tanya Rizky.


“Gue nggak suka ya, kalau ujung-ujungnya nanti lo malah nyakitin perasaan cewek” tambah Rizky.

__ADS_1


Ali dan Eko melihat ke arah Rizky dengan sorot mata yang tajam. Lalu, saling melihat satu sama lain.


Ali bangkit, dan menghampiri Rizky yang berada di ujung rooftop. “Gue serius sama Ersya, gue udah jatuh cinta banget sama dia dari awal masuk ospek.” ucap Ali.


“Heleh, cowok mah begini, awalnya doang bilang cinta, nanti juga lama-lama bosan, terus ninggalin dengan alasan, kamu terlalu baik buat aku. Klasik!” sahut Eko seraya menghabiskan camilan.


“Tapi setidaknya gue mencoba untuk nggak bohongin perasaan gue, nggak kayak nih orang, sebenarnya suka, tapi gengsi” ucap Ali melirik Rizky yang berada di sampingnya.


"Mulut Lo sama Ersya bisa sama gitu ya? sama-sama pedas kalau ngomong" ucap Eko.


“Lo nyindir gue?” tanya Rizky datar.


“Lo merasa?” tanya Ali balik.


"Gue tau kok, tadi pas di kantin lo ngelihatin Syifa kan?” tanya Eko.


“Nggak juga, mata gue bebas ngelihatin apa aja” elak Rizky.


“Tinggal ngomong suka aja susah banget sih!” gerutu Ali.


“Nanti giliran Syifa diambil cowok lain baru nyesel lo!” tambah Ali.


Rizky bangkit, lalu berjalan masuk meninggalkan Ali dan Eko yang masih berada di rooftop. “iya iya iya” ucap Rizky keras.


“Ko, lo ada ide nggak buat bikin Rizky ngerasa cemburu?” tanya Ali pada temannya yang masih asyik makan.


“Ide? sebentar gue mikir dulu” ucap Eko seraya menggunakan otaknya yang tidak seberapa itu untuk berpikir.


“Gimana? ada nggak?" tanya Ali lagi.


“Nahh!”


“Ada?”


“Nggak ada" jawab Eko polos.

__ADS_1


Ali menghela napasnya kasar, menahan tangannya yang ingin sekali memukul Eko dengan keras. “Untung lo teman gue!”.


__ADS_2