
Jam olahraga. Kebetulan jam olahraga kelas 10 IPA 1 dan 10 IPA 2 memiliki jam yang sama. Namun, dengan guru yang berbeda. Berhubung, guru olahraga 10 IPA 2 berhalangan hadir, jadi untuk jam olahraga kali ini, kedua kelas itu digabung.
“Selamat pagi anak-anak” ucap Pak Rino, guru olahraga 10 IPA 1.
“Pagi, Pak” sahut murid kompak.
“Karena Pak Roby nggak hadir, jadi kalian bapak gabung ya jam olahraganya” ucap Pak Rino.
“Iya pak,” sahut murid lagi dengan kompak.
“Bapak akan memasangkan cowok dan cewek untuk permainan bola kita pagi ini. Sebelumnya bapak akan bacakan peraturannya. Bagi cewek yang terkena lemparan bola, berarti harus keluar, sedangkan cowok, tidak apa-apa, bisa melempar ke lawan yang lain. Kelompok yang bisa bertahan sampai akhir, mereka yang akan jadi pemenangnya,” jelas Pak Rino.
"Kalian mengerti?" tanya Pak Rino.
"Ngerti, Pak" jawab murid.
Pak Rino menggambungkan kedua kelas tersebut, dan membagi mereka menjadi beberapa kelompok.
“Bapak sudah membagi kelompok, jadi sebisa mungkin kalian harus bekerja sama agar kelompok kalian bisa menang” ucap Pak Rino.
Syifa melirik ke pria yang berada di sampingnya. Jantungnya mulai berdegup tidak beraturan. Muncul pertanyaan dalam benak Syifa, bagaimana bisa dari total empat puluh murid dari kedua kelas, ia bisa satu kelompok dengan Rizky? entah takdir atau hanya kebetulan, tapi hal itu membuatnya tidak tenang.
“Gue nggak bisa mainnya,” bisik Syifa pada Rizky.
“Lo tenang aja, lo cukup diam di belakang gue” sahut Rizky tenang.
Pertandingan pun di mulai. Rizky merentangkan tangannya melindungi Syifa. Saat ada bola yang datang, Rizky lalu memutar tubuhnya dan melindungi Syifa agar tubuh gadis itu tidak terkena bola.
Kelompok lain sudah gugur dan hanya menyisakan tim Rizky dengan Syifa dan Eko dengan Salma. Rizky terus melindungi Syifa agar tidak terkena lemparan bola.
Salma mendesis pelan, ia merasa kesal melihat Syifa yang selalu dilindungi oleh Rizky. Syifa selalu berada di belakang Rizky, membiarkan pria itu terkena lemparan bola.
“Syifa jangan curang dong! lo nggak kasihan sama Rizky apa? dari tadi kena lemparan bola terus demi ngejaga lo biar nggak kena!” ucap Salma dengan nada tinggi.
“Ih! Salma kenapa sih begitu? ya namanya juga saling ngejaga supaya bisa menang!” gerutu Ersya.
“Ust! sabar sayang” ucap Ali menangkan gadis yang berada di sampingnya.
Rizky tetap merentangkan tangannya untuk melindungi gadis yang berada di belakangnya. Kedua sorot matanya fokus pada bola yang berada di tangan Eko.
“Jangan dengerin dia. Tetap diam di belakang gue, selangkah lagi kita menang” ucap Rizky.
“Tapi, dari tadi lo udah kena lemparan terus” sahut Syifa.
“Lo mau bikin pengorbanan gue sia-sia?” tanya Rizky.
“Tetap di belakang gue, jangan sampai lo kena bola” tambah Rizky penuh penekanan.
Salma mengambil bola dari tangan Eko. Ia melemparkannya, lalu mengarahkan bola itu ke Syifa.
Kedua mata Syifa fokus menatap bola yang dilemparkan Salma ke arahnya. Syifa menyingkirkan tangan Rizky dan maju ke depan untuk menangkap bola itu.
Melihat Syifa maju, Rizky langsung menarik tangan gadis itu, membuat tubuh Syifa kehilangan keseimbangan. Dengan sigap, Rizky menangkap tubuh Syifa dan tangannya menjaga kepala Syifa agar tidak membentur lapangan.
__ADS_1
Syifa membuka matanya perlahan, melihat pria yang berada di sampingnya. Pria itu nampak terlihat kesal. "Lo sih nggak dengarin omongan gue. Kan udah gue bilang, tetap diam di belakang gue. Kenapa lo maju?"
Syifa bangkit dan merapikan seragamnya. "Maaf, tapi gue nggak mau lo terus nahan bola itu buat gue" jawab Syifa.
Prittttt...
Pak Rino meniup peluitnya. Lalu berkata, "Pelajaran hari ini selesai, kalian semua boleh beristirahat, dan setelah itu silahkan kembali ke kelas." ucap Pak Rino.
"Baik, Pak" sahut murid secara bersamaan.
Beberapa murid mulai meninggalkan lapangan. Tersisa hanya Rizky, Eko, Ali, Syifa, Ersya dan Salma yang sedang duduk di pinggir lapangan.
"Salma, maksud lo apa tadi ngomong gitu ke Syifa?" tanya Ersya seraya menghampiri Salma.
"Kenapa jadi lo yang sewot?" tanya Salma.
"Eh dengar ya! gue tau lo suka sama Rizky, tapi nggak gitu konsepnya!" ucap Ersya dengan nada tinggi.
Kedua mata Rizky membulat, ia yang tidak ikut campur pun ikut terbawa dalam masalah itu.
"Itu bukan urusan lo!" sahut Salma tak mau kalah.
Rizky bangkit, wajahnya nampak kesal mendengar perdebatan antara dua gadis itu.
"Lo berdua nggak ada pembahasan yang lebih penting apa?"
Ersya menatap Rizky tajam. Ingin sekali ia memukul pria itu dengan sangat keras. "Lo sebenarnya suka nggak sih sama Syifa?" tanya Ersya.
Ersya mengepal kedua tangannya erat. Ia berjalan menghampiri Rizky. "Lo itu laki bukan sih? bisa nggak sih lo lebih menghargai seseorang?"
"Lo sama teman lo itu mau dihargai berapa emang?" tanya Rizky dingin.
Rizky berjalan meninggalkan teman-temannya yang masih melihat ke arahnya. "Lo benar-benar nggak punya hati!" teriak Ersya.
"Kalau lo punya hati, lo harusnya peduli, Ky!" tambah Ersya.
Rizky menghentikan langkahnya. Lalu menoleh, "Ini urusan hati gue, jadi lo nggak perlu ikut campur!"
°°°°°
Syifa berada di Perpustakaan. Ia duduk di samping jendela perpustakaan, lalu menatap ke arah luar jendela.
Syifa memainkan tangannya yang terkena cahaya matahari. “Rizky itu kayak cahaya matahari. Ada, tapi nggak bisa dimilikkin.”
Syifa memakai earphone, membuka lembaran novel kesukaannya. Lagu 'Ada Cinta’ dari Acha Septriasa dan Irwansyah menjadi pengiring Syifa selama masuk ke dalam dunia imajinasinya.
Nyanyikan lah kasih senandung kata hatimu
Sebab ku tak sanggup mengartikan getar ini
Sebab ku meragu pada dirimu...
Mengapa berat ungkapkan cinta
__ADS_1
Padahal ia ada
Dalam rinai hujan, dalam terang bulan
Juga dalam sedu sedan
Mengapa sulit mengaku cinta
Padahal ia terasa
Dalam rindu dendam, hening malam
Cinta terasa ada...
Rizky yang berada di tengah pintu perpustakaan, tersenyum kecil saat melihat Syifa yang sedang sendirian.
Syifa yang melihat sosok Rizky yang berjalan menghampirinya merasa gugup. Ia melepas earphone di telinganya, lalu menarik napasnya panjang, berusaha mengontrol dirinya agar tidak terlihat gugup di depan pria itu.
“Sendirian aja?” tanya Rizky ketika berada di samping Syifa.
“I.. i.. iya” jawab Syifa gugup.
Rizky tiba-tiba mengulurkan tangannya ke arah cahaya matahari yang berada tepat di telapak tangan Syifa dan menggenggamnya.
Syifa mematung sejenak. Ia merasakan tangannya yang digenggam hangat oleh Rizky. Kenapa Rizky terus-terusan membuatnya berharap? kenapa Rizky terus membuatnya berharap bahwa Rizky menyukainya?
Dengan senyum, kamu datang kepadaku
Membuat namamu aku sebut sebagai cinta
Mulai menulis cerita cinta tentangmu
Aku tersadar, bahwa kamu adalah cinta pertama
Rizky melepaskan genggaman tangannya, lalu, menaruh susu kotak rasa coklat di hadapan Syifa.
Syifa menoleh, melihat Rizky dengan lekat. “Buat siapa?” tanyanya.
“Buat lo,” jawab Rizky datar. Tidak bisa dipungkiri bahkan benar-benar pria yang cuek. Pria yang dapat berubah sikap dalam hitungan detik saja.
“Makasih,” ucap Syifa.
“Sama-sama” sahut Rizky seraya tersenyum pada Syifa. “Gue ke kelas duluan ya, jangan lupa diminum susunya," tambah Rizky seraya mengacak-acak pucuk rambut Syifa pelan.
Kedua mata Syifa membulat saat Rizky memperlakukannya dengan manis. “Ya Tuhan, godaan macam apa lagi ini?” ucap Syifa dalam hati.
"Rizky itu benar-benar kayak cahaya matahari. Bisa datang dan pergi sesuka hatinya."
Melihat Rizky yang keluar perpustakaan, membuatnya pikirannya tiba-tiba mengingat sosok Adam. Pria yang membuatnya jadi pusat perhatian pagi ini.
“Oh iya, Adam! gue jadi merasa bersalah sama dia” ucap Syifa.
“Gue harus ketemu Adam!” tambah Syifa seraya bangkit, dan mencari keberadaan pria itu.
__ADS_1