
Kanata membeli cukup barang dengan hadiah yang ia dapatkan dari lomba makan. Ketika ia kembali ke penginapan, kakek telah menunggunya di lantai satu yang diisi dengan bar dan restoran. Kanata langsung duduk di sebelahnya.
"Bagaimana jalan-jalannya anak rakus?" tanya kakek dengan tertawa sambil memberikan Kanata segelas air putih
"Cukup menyenangkan kek" jawab Kanata dengan malu
"Ikut kakek ke kamar, ada hal yang harus ku beritahukan kepadamu" suruh kakek
Kanata meminum air itu dengan cepat lalu berjalan di belakang kakek. Mereka menuju kamar yang berada di lantai 3.
Di dalam kamar mereka duduk berhadapan di atas kasur yang berbeda. Dengan serius kakek ingin mengungkapkan sesuatu kepadanya.
"Kanata, ada sesuatu yang harua ku berikan kepadamu sebelum kau pergi ke menara naga" ujar kakek. Ia mengeluarkan sebuah liontin berbentuk kepala naga sama seperti yang ada di tebing yang pernah ia lihat.
"Ini adalah liontin yang aku temukan bersama keranjangmu ketika aku menemukanmu. Liontin ini adalah satu-satunya alat yang bisa membuatmu bisa bertemu dengan orangtuamu". Ia memberikan liontin itu ke Kanata " kakek harap kau bisa bertemu dengan orangtuamu nantinya". Kata-kata itu bagaikan kata-kata perpisahan bagi Kanata. Air matanya mulai mengalir keluar dan ia berlutut di hadapan kakeknya.
"Apapun yang terjadi kek, kakek tetaplah kakek Kanata, keluarga yang telah membesarkan Kanata. Aku tidak akan melupakan pengajaran kakek dan kasih sayang kakek selama ini. Aku bersyukur bertemu kakek yang menjadikanku anggota keluarga walaupun kita tidak punya hubungan darah.
" Aku sangat senang dengan kakek yang selalu membinaku dengan baik sampai sekarang. Kalau tidak ada kakek tidak ada Kanata sekarang" air matanya terus mengalit dengan deras. Ia merasa ini akhir dari pertemuannya dengan kakek.
"Cucu bodoh, ini bukanlah perpisahan. Kakek ingin kau bisa bertemu dengan orangtuamu. Kakek tahu alasan mereka melepaskanmu, mereka pasti menghawatirkanmu di liar sana" ujar kakek. Kanata mengangkat kepalanya dan melihat kakek.
__ADS_1
"Liontin ini memiliki kekuatan spiritual yang tinggi, ini milik seorang peri naga yang kuat. Kakek tidak tahu siapa, yang pastinya mereka selalu berharap kau sehat" ujar kakek
"Kakek, kalau aku bertemu dengan keluarga kandungku, maukah kakek tetap menjadi kakek kanata?" tanya Kanata
"Tentu saja, kau adalah cucu laki-laki kakek" kakek memeluk Kanata dan menenangkannya
"Istirahatlah, besok kita akan pergi. Ujian yang besar menantimu, kau pasti bisa"
---
Kakek meninggalkan Kanata sendiri di kamar. Kanata memandangi liontin naga tersebut, ia berharap suatu hari ia bisa bertemu dengan orangtuamu kandungnya. Ia mengenakannya lalu tertidur.
---
"Istriku, ada apa?" tanya seorang laki-laki
"Aku bisa merasakan energi spiritualnya, aku akan menemuinya sekarang" jawabnya
---
Ketika tertidur, Kanata kembali di tempat Sieg, mereka siap untuk merasakan sakit bersama. Ketika kutukan itu mulai aktif entah kenapa sakitnya hilang sekejap.
__ADS_1
'Apa yang terjadi?' tanyanya dalam hati
Seketika itu cahaya berwarna emas muncul di sana mendekati mereka berdua. Cahaya itu seperti berbentuk wujud seseorang. Sieg menunduk seketika itu dan Kanata tidak tahu apa yang terjadi.
"Anakku" panggilnya
Kanata terkejut ketika ia memanggil, 'apa ia memanggilku atau Sieg?' itulah pemikiran yang muncul. Tapi Sieg masih terdiam, dan sesosok cahaya itu mendekati Kanata. Ia memeluknya dan memanggil
"Anakku, ibu minta maaf tidak bisa menemanimu selama ini. Kau pasti hidup susah di luar sana." suara itu sangat lembut dan terdengan suara tangisan darinya.
Entah bagaimana, panggilan itu langsung masuk ke hati Kanata, air matanya mengalir, tangannya memeluknya. Perasaan ini muncul pertama kali dalam hidupnya, kerinduan yang sangat besar meluap dari dirinya, ia tidak ingin berpisah. Ia selalu iri dalam hatinya ketika Ritsu dan Rin memanggil ibu mereka, bakhkan saat di kota banyak anak bergandengan tangan dengan orangtua mereka. Tetapi ia hanya memiliki kakek dan keluarga kakek selama 10 tahun ini.
"Ibu, selama ini kau dimana? ibu, aku ingin bertemu denganmu" tanya Kanata
"Maafkan ibu nak, kutukan yang ada padamu membuat kita harus berpisah, ini adalah takdir yang telah ditentukan. Apabila kutukan itu telah lenyap, ibu akan datang menghampiri ketika tiba waktunya" ujarnya
Ibu berbalik hadap ke Sieg "Sieg, tolong jaga anakku baik-baik". Air mata Sieg juga mengalir, ia mendekatkan kepalanya ke mereka dan menjawab " Baik tuan putri"
"Sudah waktunya kita berpisah, anakku. Kau harus menyimpan liontin itu baik-baik, itu akan menjadi penghubung antara kita. Ketika tiba waktunya kita akan bertemu, ini adalah pesan terakhir ibu. Jadilah kuat agar kau bisa melindungi orang-orang yang kau cintai" ibu mengusap air matanya dan air mata Kanata
Mereka berdiri, cahaya itu menghilang dan Kanata masih menangis di sana. Ia berjanji akan menjadi kuat dan tumbuh menjadi orang yang hebat.
__ADS_1