
Ia sangat menikmati hari pertamanya di academy. Ia tidak menyangka akan senikmat ini. Banyak murid yang baik yang ia temukan dan ada murid yang iri.
Ketika waktu makan siang, Yuze mengajak Kanata pergi ke kantin untuk mentraktirnya. Ia akan menebus dirinya yang kalah taruhan. Kanata tidak curiga apapun padanya dan ikut.
Yuze terkejut dengan kerakusan Kanata. Ia bisa menghabiskan 10 porsi sendiri.
"Cukup kau meneraktirku hari ini saja untuk taruhannya. Kau pasti mengerti sekarang" ujar Kanata
"Baiklah kalau kau bilang begitu" ucapnya
"Sudah tidak perlu terlalu sungkan denganku, kita teman sekelas sekarang. Jadi bersikap biasa saja dan tidak perlu kau menjadi orang sombong" ujar Kanata
Yuze tidak bisa berkata apapun. Lucky meliriknya lalu berkata "Kanata bukan orang yang pendendam. Kalau kau ingin menantangnya kau bisa menantangnya kapan pun kau mau"
Yuze beranjak dari tempatnya. Ia pergi tanpa pamitan. Kanata dan Lucky tidak menghiraukannya dan mereka paham situasinya.
---
Ketika malam tiba, Kanata sendiri berada di kamarnya. Setsuna pergi makan bersama ayah dan ibu. Kanata tidak mau ikut karna ia ingib melakukan sesuatu yang penting. Lucky pergi ke kota sendiri dan akan kembali agak terlalu malam.
__ADS_1
Dengan kesendirian ini, Kanata memasang pelindung agar ia tidak diganggu. Ia mengeluarkan lampu bayangan yang ia dapatkan ketika di reruntuhan naga.
Sieg keluar dari tubuhnya lalu duduk di hadapannya dengan wujud peri.
"Kita akan menggabungkan kekuatan kita dan lampu bayangan ini. Dengan ini kau bisa berkeliaran tanpa ada yang tahu" ujarnya
"Aku harap Lucky mrnemukan tempat itu" ucap Kanata
"Kita sebaiknya fokus pada pekerjaan kita" ujar Sieg
Mereka duduk di atas ranjang Kanata. Sebuah lingkaran sihir yang besar menutup jarak antara dia dan Sieg dengan berpusat pada lampu bayangan.
Segel pada lampu itu dilepas dan aura kegelapan yang besar keluar darinya. Kanata beruntung telaplh melepaskan pelindung agar aura energi yang ada tidak merambat keluar.
Kanata menahan aura itu lalu menepuk tangannya di depan dadanya. Sebuah monster bayangan dengan cahaya mata berwarna biru keluar. Ia ingin kabur dari sana.
Sieg menahannya dengan kekuatannya lalu ditarik kembali dan disatukan dengan Kanata. Kanata menahan kekuatan yang masuk ke dalam tubuhnya.
Ia mengigit bibirnya, rambut putihnya berdiri dan matanya terpejam. Ia harus mempertahankan kesadarannya seperti ketika bergabung dengan kaisar naga es.
__ADS_1
Bayangan itu masuk sedikit demi sedikit dengan arahan Sieg menuju lautan kesadaran Kanata. Di sana sebuah bola hitam yang diputari cahaya emas dan perak memancarkan energi yang kuat.
Kanata menuntunnya untuk menyatu dengan inti jiwa naganya. Pengabungan itu berjalan cukup baik. bayangan itu tidak bisa melawan kekuatan dari inti jiwa naga tersebut. Perlahan ia menyatu dengannya.
Aura hitam memancar dari inti jiwa naga tersebut lalu cincin emas dan perak itu berputar sangat cepat.
Setelah semenit prosesnya berhasil. Mereka bisa lega dengan ini.
Kanata membuka matanya, matanya hitam nampak sangat dalam. Ketika ada orang yang melihat matanya ia akan melihat jurang tanpa akhir. Rambutnya kembali turun dan tubuhnya terasa ringan.
Ia bisa menghilangkan wujudnya dan menjadi udara di sekitar. Bahkan aura yang keluar dari tubuhnya diperbasar. Fluktasi element kegelapannya sakin besar.
Ia tersenyum dan melirik Sieg. Mereka punya rencana kenapa menggunakannya di sini. Sieg berdiri dan mendekati Kanata dan berubah menjadi anak kecil. Kanata berdiri di tengah ruangan menangkapnya.
"Sekarang kita bisa bebas pergi" ujar Sieg
"Belum saatnya, kita harus memastikan keamanan terlebih dahulu" ujar Kanata
"Baiklah"
__ADS_1
Kanata melepaskan kekuatan dan kembali seperti semula. Pengabungan menghabiskan terlalu banyak kekuatannya. Ia beristirahat di ranjang dan Sieg masuk ke dalam tubunya.