
Setelah bercengkerama dengan anak-anak panti, Alvin dan Nayla pun segera meminta izin untuk kembali ke rumah mereka.
"Bu Retno,kami pamit pulang ya," ijin Nayla.
"Hati-hati ya Nak,kalau ada waktu berkunjunglah ke sini lagi. Anak-anak di sini selalu merindukan kehadiranmu," kata Ibu Retno.
"Iya,Bu. Kita pasti akan ke sini lagi," jawab Nayla lagi.
Alvin dan Nayla berjalan menuju mobil milik mereka yang terparkir di halaman panti. Alvin baru masuk ke dalam mobil setelah membukakan pintu untuk Nayla. Kini mereka sudah duduk di jok depan mobil tersebut. Setelah memastikan seatbelt mereka sudah terpasang, barulah Alvin melajukan mobil miliknya itu.
Sepanjang perjalanan tidak satu pun dari ke duanya yang berencana membuka pembicaraan.
Nayla masih merasa kesal dengan suaminya yang terus menerus memikirkan wanita yang bernama 'Putri'. Sementara Alvin, dia masih merasa bersalah terhadap 'Putri' , Dia merasa gagal karena tidak bisa menepati janjinya.
Mobil itu berhenti tepat di depan pintu gerbang milik keluarga Hadinata.
"Al, kenapa tidak langsung masuk?" tanya Nayla.
"Kamu masuk saja duluan,aku ada urusan di luar," jawab Alvin.
"Tapi.."
Belum sempat Nayla menyelesaikan kalimatnya, Alvin sudah membukakan pintu mobil dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah.
"Baiklah," jawab Nayla.
Nayla segera turun dari mobil suaminya tersebut. Dia baru melangkahkan kakinya memasuki rumah besar suaminya, setelah mobil suaminya menghilang dari pandangan matanya.
"Hah," Nayla menghela napasnya kasar.
" Apa Putri begitu berharga bagimu Al?" batin Nayla.
Rasanya saat ini dadanya begitu sesak, dia ingin sekali menangis menumpahkan segalanya.
"Aku harus kuat! Bukankah memang dari awal aku menikah dengannya karena terpaksa, karena aku ingin menyelamatka ibu Retno dari tuntutan hukum," batin Nayla lagi.
__ADS_1
Nayla menghapus air mata yang barusan jatuh di kedua pipinya. Dia menghapus air mata itu dengan dengan kedua telapak tangannya.
Nayla menarik napas dan menghembuskannya beberapa kali.
"Kuat Nayla! Kamu pasti kuat! Kamu pasti bisa melewati semua ini, toh pernikahan ini hanya untuk sementara. Dan tugasmu adalah membuat Alvin membencimu. Kuat Nay! Kuat!" berkali-kali Nayla berusaha menyemangati dirinya sendiri.
"Pangeran aku membutuhkanmu saat ini. Dimana dirimu Pangeran."
Nayla kembali melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah di hadapannya.
Beberapa pelayan yang melihat kehadiran nyonya mudanya itu,menundukkan sedikit badannya sebagai tanda hormat yang mereka berikan kepada istri dari tuan muda rumah tersebut.
Langkah Nayla langsung terhenti, ketika melihat ibu mertuanya beridiri tepat di hadapannya.
" Ikut aku!" titah mertuanya.
Sarah berjalan menaiki anak tangga dan di ikuti Nayla di belakngnya. Mereka masuk ke sebuah ruangan milik ibu mertuanya tersebut.
Plaaakkkkk
"Nyonya, kenapa Anda menamparku? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Nayla seraya memegangi pipi kanannya yang barusan terkena tamparan dari ibu mertuanya itu.
"Karena kamu sudah berani mencoba merayu Alvin. Ingat! Aku menyuruhmu menikah dengan Alvin untuk membuat dia membencimu, bukan sebaliknya. Apa kamu ingin aku membuka kasus penggelapan uang yang di lakukan oleh ibu pantimu itu?" lagi-lagi Sarah mengeluarkan ancaman yang tidak bisa di bantah lagi oleh Nayla.
" Nyonya,aku sudah melakukan apapun yang Nyonya minta. Aku sudah berusaha membuat Alvin membenciku, tapi jika dia tidak juga membenciku, apa itu salahku?"
Sarah memberikan tatapan tajamnya kepada Nayla.
" Nyonya, bukankah aku sudah menjelaskan pada Anda alasan aku masuk ke perusahaan Alvin. Aku tidak bermaksud mendekati Alvin ataupun merayunya. Jadi Nyonya, tolong jangan terus menerus mengancamku dengan menggunakan nama ibu Retno," jelas Nayla.
Nayla memilih untuk segera ke luar dari ruangan ibu mertuanya itu. Dia sedang tidak ingin berdebat tentang apapun. Bahkan ketika Sarah berteriak memanggilnya,Nayla tidak perduli. Dia memilih masuk ke dalam kamarnya.
*****
Alvin turun dari mobil sport hitam miliknya, dia kembali memasuki gedung tempat dirinya dan putri pernah menghabiskan waktu kecil bersama.
__ADS_1
Cukup lama dia berkeliling menyusuri gedung kosong tersebut.
" Putri, dimana kamu? Setidaknya ijinkan aku bertemu denganmu walau hanya sekali. Aku ingin memastikan kalau keadaanmu baik-baik saja," gumam Alvin.
Cukup lama Alvin berada di ruangan tempat dia dan putri menghabiskan waktu bersama dulu.
"Pak, apa gadis yang dulu sering datang ke tempat ini, dia sudah datang lagi ke sini?" tanya Alvin kepada satpam yang biasa berjaga di gedung tersebut.
"Sejak malam itu, sepertinya dia belum datang lagi," jawab sang satpam.
"Oh ya,Pak. Tolong jika nanti dia datang ke sini lagi, berikan nomor ponselku kepadanya. Dan suruh agar dia menghubungiku, karena aku harus berbicara dengannya," pinta Alvin.
Dia menyerah kan kertas berisi nomor ponsel miliknya kepada satpam tersebut,tidak lupa dia juga memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada satpam itu.
" Pasti saya akan memberikan nomor Anda kepada gadis itu," jawab satpam tersebut.
"Terimakasih ya,Pak" ucap Alvin.
Alvin pun meninggalkan gedung bekas panti asuhan tersebut.
*****
Pukul 10 malam Alvin baru saja pulang ke rumahnya. Dia langsung masuk ke kamarnya. Di lihatnya wajah Nayla yang sudah tertidur pulas. Namun dia segera menghampiri istrinya itu dan membangunkannya.
"Al,kamu sudah pulang?" tanya Nayla seraya memposisikan dirinya untuk duduk.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Alvin
"Melakukan apa Al?" tanya Nayla yang bingung dengan maksud dari pertanyaan suaminya tersebut.
"Ini," jawab Alvin seraya menunjuk pipi kanan Nayla yang masih terlihat merah.
"Katakan padaku siapa yang melakukannya?" tanya Alvin sekali lagi.
"Ini..."
__ADS_1
"Katakan,Nay!" seru Alvin dengan memberikan tatapan tajamnya.