Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Pertengkaran Alvin dan Fandi


__ADS_3

"Kak Ifan!?! Sejak kapan Kak Ifan ada di sini?" tanya Nayla.


Nayla berjalan menghampiri Fandi yang masih berdiri di dekat mobilnya.


Orang yang pagi-pagi sudah berada di depan rumah ibu Retno adalah Fandi. Fandi sengaja datang untuk menjemput Nayla berangkat ke kantor bersamanya.


"Sekitar 30 menit yang lalu," jawab Fandi seraya melihat ke arah jam tangannya.


"Harusnya Kak Ifan, langsung masuk saja. Jangan menunggu di luar seperti ini," kata Nayla.


"Ayo masuk!" Fandi membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Nayla untuk masuk ke dalam mobil.


"Terimakasih ya Kak," ucap Nayla.


Nayla segera masuk ke dalam milik Fandi. Tidak jauh dari tempat mereka berada ada seorang laki-laki yang tidak suka melihat kedekatan Fandai dan Nayla. Laki-laki tersebut mengepalkan tangannya, menahan rasa yang berkecambuh di dalam hatinya. Rasanya dia ingin menarik Nayla dari sana dan membawanya pergi bersamanya, tapi apa mau di kata, tidak ada yang tahu tentang status pernikahan mereka. Ya, laki-laki yang sedang menahan kekesalan di hatinya adalah Alvin, suami sah Nayla.


Alvin sengaja datang ke tempat ibu Retno untuk menjemput istrinya, agar pergi ke kantor bersamanya. Sayang, ketika dia sampai, Alvin melihat Fandi sudah berada di halaman rumah ibu Retno. Jadi dia mengurungkan niatnya dan hanya mengawasi mereka dari jarak jauh.


Alvin segera masuk kedalam mobilnya, saat mobil yang di kendarai Fandi dan Nayla sudah menjauh dari pandangannya.


"Apa ini yang di rasakan Nayla saat aku memikirkan orang lain?" batin Alvin.


Alvin merutuki kebodohan yang dia lakukan semalam. Bagaimana bisa semalam dia mengabaikan istrinya itu dan malah pergi untuk mencari teman kecilnya, Putri.


Alvin mulai menghidupkan mesin mobil miliknya, mobil itupun dengan cepat bergerak meninggalkan tempat itu.


*****


Di perusahaan Grup H


"Tumben Lo baru sampai, Al. Kemana saja?" tanya Fandi saat melihat teman sekaligus bosnya itu baru saja tiba di perusahaan.


"Tidak kemana-mana," jawab Alvin cuek.


Alvin berjalan mendahului Fandi dan Nayla yang tadi berada di depannya.


"Al, Al," panggil Fandi, namun di abaikan oleh Alvin. Alvin langsung masuk ke ruangannya tanpa memperdulikan panggilan Fandi.


"Tu orang kesambet apaan ya? Tumben dia nyuekin aku," gumam Fandi.


"Sudahlah, Kak. Mungkin dia sedang ada masalah di rumahnya," timpal Nayla.


"Tidak, Nay. Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya," kata Fandi.


"Maksud Kak Fandi apa?" tanya Nayla yang memang tidak mengerti dengan maksud ucapan Fandi.

__ADS_1


"Dia seperti seseorang yang tengah cemburu. Tapi masa iya, dia cemburu sama kamu. Kamu dan si Al kan baru kenal kemarin," tutur Fandi.


Nayla tersenyum saat mendengar penuturan Fandi. Dia berharap apa yang di katakan Fandi memang benar adanya, kalau Alvin sedang cemburu padanya. Namun senyum Nayla langsung memudar saat mendengar penuturan Fandi yang berikutnya.


"Tapi tidak mungkinlah dia cemburu, orang yang dia cintaikan teman masa kecilnya," tutur Fandi lagi. Nayla menatap ke arah Fandi.


"Kak Ifan, juga tahu soal cinta masa kecilnya Alvin?" celetuk Nayla, Tanpa sadar dia memanggil Alvin tanpa embel-embel Pak.


"Maksudku, Pak Alvin," ralat Nayla saat mendapati tatapan penuh tanya dari Fandi.


"Tentu saja aku tahu, aku inikan sahabatnya. Dia bahkan sempat menerima cewek jadi pacarnya hanya gara-gara cewek itu memilik sifat cengeng seperti teman masa kecilnya," jelas Fandi.


"Maksud Kak Ifan?" tanya Nayla yang makin penasaran dengan cerita dari Fandi.


"Iya, dulu waktu dia sekolah di Amrik, ada satu cewek yang begitu cengeng. Cewek itu nembak si Al, awalnya Al menolak perasaan tuh cewek. Tapi saat cewek itu menangis dia tidak tega dan akhirnya menerima perasaan tuh cewek. Bahkan selama menjalin hubungan dengan tuh cewek, Al akan memberikan apapun yang cewek itu minta hanya karena tidak tega jika melihat cewek itu menangis," cerita Fandi panjang lebar.


Entah kenapa perasaan Nayla mendadak teringat kembali akan pangeran yang selalu menemaninya saat dia menangis.


"Nay," panggil Fandi sambil melambaikan tangannya di depan wajah Nayla.


"Maaf, Kak. Tiba-tiba aku juga teringat teman kecilku. Dia akan selalu menghiburku, saat aku menangis. Bahkan dia pernah berjanji akan menikahiku saat kami besar nanti. Dan dia mengucapkan itu juga agar aku tidak menangis," ujar Nayla dengan mata berkaca-kaca.


"Lalu apa kamu sudah bertemu dengannya?" tanya Fandi.


"Tapi dia sudah menikah dengan orang lain," jawab Nayla yang tanpa sadar menitikan air matanya.


Fandi menghapus air mata di kedua pipi Nayla dengan kedua ibu jarinya.


"Dengarlah, Nay! Aku yakin, Tuhan sudah menyiapkan jodoh terbaik untukmu. Jadi jangan bersedih hanya gara-gara itu," tutur Fandi.


Nayla kembali mengangguk.


Alvin yang berdiri di dekat jendela ruangannya, diam-diam memperhatikan mereka. Hatinya kembali bergemuruh saat melihat Fandi memperlakukan istrinya dengan spesial.


Dia menghela napasnya kasar. Alvin segera keluar dari ruangannya dan memanggil Nayla.


"Nayla," panggil Alvin. Dia berusaha untuk bersikap tenang dan tidak menunjukkan kecemburuannya.


"Iya, Pak," jawab Nayla.


"Kamu tolong bawakan kopi ke ruanganku!" titah Alvin.


"Hei, Al. Nayla ini bukan OB, kenapa dia harus membawakan kopi untukmu," protes Fandi.


"Yang bos di sini siapa?" Alvin balik tanya.

__ADS_1


"Iya-iya kamu," jawab Fandi.


"Nah, itu tahu. Jadi jangan kebanyakan protes!" seru Alvin lagi.


"Cepat!! Aku paling tidak suka jika harus menunggu terlalu lama," titah Alvin sekali lagi.


"Maaf ya Kak Ifan, aku ke pentri dulu," pamit Nayla. Dia segera meninggalkan tempat itu.


"Al, Lo kenapa sih? Tidak biasanya Lo searogan ini sama bawahan Lo," protes Fandi kepada bos sekaligus sahabatnya itu.


"Apa maksud Lo?" tanya Alvin yang mulai tidak bisa mengontrol emosinya.


"Al, Nayla itu staf keuangan. Dia bukan OB, lalu kenapa Lo nyuruh dia untuk membuatkan kopi?"


"Apa salahnya seorang staf keuangan membuatkan kopi untuk atasannya? Lagian dia juga tidak keberatan kok," timpal Alvin.


"Tentu saja dia tidak keberatan karena yang menyuruhnya adalah bos sekaligus pemilik perusahaan ini. Tapi tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu,"


Kedua orang sahabat itu kembali saling beradu mulut.


"Lo marah karena karena gua semena-mena dengan Nayla? Kenapa? Apa Lo suka sama dia?" desak Alvin yang sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Kalau iya kenapa?" jawab Fandi dengan nada menantang.


"Gua peringatkan sama Lo, jangan pernah Lo mencintai Nayla!" ancam Alvin seraya memberikan tatapan tajamnya kepada sahabatnya, Fandi.


"Kenapa? Dia masih single? Apa salahnya kalau gua mencintai dia."


Perkataan Fandi semakin membuat Alvin merasa kesal. Dia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.


"Katakan sekali lagi kalau Lo mencintai Nayla!" seru Alvin lagi.


"Iya, Al gua mencintai Nayla,"


Mendengar pengakuan sahabatnya, Alvin semakin tidak bisa menahan kekesalannya. Dia menarik kerah baju sahabatnya itu.


"Dengar jangan pernah sekalipun Lo jatuh cinta sama Nayla, ingat itu!" ancam Alvin.


"Kenapa?" tanya Fandi.


"Karena dia..."


Belum sempat Alvin menyelesaikan perkataannya, ada seseorang yang datang ke ruangannya dan melerai pertengkaran mereka.


➡️ Tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan votenya ya! Author tunggu✌️😁

__ADS_1


__ADS_2