Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Go publick


__ADS_3

(Di kediaman orang tua Vita dan Fandi)


Pagi itu Maya dan Fandi di buat heran oleh tingkah Vita. Pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga. Bahkan dia menata makanan ke dalam wadah untuk dia bawa ke tempat kerja. Tidak hanya satu, bahkan dia menyiapkan 4 bekal untuk di bawanya ke kantor.


"Nak, kenapa kamu bawa bekal banyak sekali?" tanya Maya yang berjalan mendekati putrinya.


"Ini untuk Aku, yang ini untuk Kak Fandi, yang ini untuk Kak Al, dan satu lagi untuk Nayla," jawab Vita di sertai senyum di bibirnya.


"Apa kamu benar-benar menyiapkan bekal untuk Nayla?" tanya Fandi yang masih meragukan sikap baik adiknya terhadap Nayla. Apalagi jelas-jelas semalam adiknya itu terlihat begitu emosi dan sangat membenci Nayla.


"Kak Fandi sedang bertanya atau mencurigai aku?" tanya Vita sambil menatap mata kakak laki-lakinya tersebut.


"Nak, Kakakmu tidak bermaksud begitu. Hanya saja sikapmu pagi ini sangat aneh," ucap Maya dengan hati-hati, dia tidak mau putrinya itu marah apalagi tersinggung.


Baik Maya maupun Fandi semakin terkejut dan di buat bingung saat mendengar kata-kata Vita berikutnya, "Aku akan bersikap baik dengan Nayla dan Kak Alvin. Saat ini mereka memang suami istri dan aku harus menerima kenyataan itu. Bukankah kita tidak akan pernah tahu sampai kapan mereka akan selamanya berjodoh," kata Vita penuh teka-teki. Fandi dan Maya saling tatap, keduanya semakin mendekat ke arah Vita.


"Nak, kamu tidak punya rencana untuk memisahkan mereka kan?" tanya Maya cemas.


"Vit, jangan berbuat bodoh. Ingat jangan lakukan apapun untuk merusak hubungan mereka!" Fandi mengingatkan adiknya.


"Kak Fandi, Bunda, memang apa yang bisa aku lakukan? Kalian jangan khawatir, aku sudah bisa menerima kenyataan kok kalau mereka adalah sepasang suami istri," jawab Vita santai. Dia tetep tenang menyiapkan bekal makan yang akan dia bawa ke kantor.


"Syukurlah kalau kamu sudah bisa menerimanya," ucap Maya dan di balas dengan senyuman oleh Vita.


Fandi masih menatap adiknya itu, entah kenapa dia merasa kalau ada yang sedang di rencanakan oleh adiknya.


"Semoga Vita memang benar-benar telah mengikhkaskan perasaannya," batin Fandi.


"Kak Fandi, kenapa Kakak menatapku seperti itu?" tanya Vita.


"Tidak," jawab Fandi yang berusaha untuk tetap berpikiran positif terhadap adiknya. "Sebaiknya kita berangkat sekarang. Takutnya aku akan terlambat menghadiri rapat pagi ini bersama Al!" ajak Fandi.


Setelah berpamitan kepada ke dua orng tuanya, Fandi dan Vita berjalan meninggalkan rumah, dengan Fandi berjalan lebih dulu, di ikuti oleh Vita di belakangnya.

__ADS_1


*****


Hari itu semua karyawan menatap ke arah Alvin dan Nayla. Ini pertama kalinya Alvin dan Nayla menunjukkan kebersamaan mereka di depan semua karyawan. Bahkan sejak turun dari mobil tadi, semua karyawan yang melihat saling berbisik penuh tanya.


"Al, aku merasa aneh menjadi pusat perhatian mereka," bisik Nayla di telinga suaminya.


"Kenapa harus merasa aneh?" tanya Alvin, dia menggenggam tangan istrinya tersebut. "Mulai sekarang mereka harus bisa membiasakan diri melihat kita berdua," jawab Alvin seraya menatap mata istrinya.


"Al, kenapa kamu dan Nayla bergandengan tangan?" tanya Tasya yang juga penasaran dengan hubungan mantan kekasihnya dengan orang yang pernah mempermalukan dia di mall.


"Kenapa?" Alvin balik tanya, dia memberikan tatapan tidak sukanya kepada Tasya. "Bahkan jika aku mau aku bisa melakukan hal yang lebih dari sekedar bergandengan tangan," imbuhnya.


Bahkan dengan sengaja dia mencium pipi Nayla di depan semua karyawannya. Tidak hanya Tasya saja yang terkejut dengan tindakan yang barusan Alvin lakukan, Nayla pun sama. Dia tidak pernah berpikir kalau Alvin akan menciumnya di depan semua karyawannya.


"Hari ini secara resmi aku umumkan pada kalian, kalau wanita yang saat ini berdiri di sampingku adalah istriku, Nayla," ucap Alvin memperkenalkan.


Semua karyawan langsung terkejut mendengarnya, mereka tidak ada yang menyangka kalau ternyata Nayla adalah istri sah dari Alvin.


"Al, kapan kamu menikah? Kenapa aku tidak tahu? Jadi benar yang di katakan gadis itu waktu di mall, kalau dia adalah calon istrimu?" tanya Tasya bertubi-tubi. Dia masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Alvin barusan.


"Tasya kamu tidak tulikan?" Alvin mengatakan itu seraya menatap tajam ke arah Tasya. "Aku tidak mau mengulangi pernyataanku tadi."


"Ma..maafkan aku Al, aku hanya terkejut barusan," ucap Tasya lagi.


Vita yang kebetulan baru saja tiba di perusahaan bareng kakaknya di buat terkejut mendengar Alvin membuka hubungannya dengan Nayla di depan seluruh karyawan.


"Kak Al, aku senang akhirnya kakak memperkenalkan Nayla sebagai istri kakak," ucap Vita yang berjalan mendekat ke arah ke duanya.


"Iya, Vit. Maafkan kakak karena Kakak tidak jujur pada kamu dan Fandi," jawab Alvin seraya meminta maaf.


"Santai saja Kak, aku senang karena orang yang menjadi istrimu adalah Nayla," ucap Vita, dia menatap ke arah Nayla dan tersenyum.


Nayla memang merasa senang karena akhirnya, Vita bisa menerima dirinya sebagai istri Alvin. Tapi entah kenapa dia merasa kalau ada yang sesuatu yang sedang di rencanakan oleh Vita.

__ADS_1


"Ohya, aku bawakan bekal untuk Kak Al dan Nayla," Vita memberikan dua kotak bekalnya kepada Nayla dan Alvin. "Semoga kalian suka ya."


Alvin dan Nayla menerima bekal pemberian dari Vita barusan.


"Terimakasih ya, Vit," ucap Alvin dan Nayla bersamaan.


"Sama-sama," ucap Vita.


"Ayo Nay, kita ke ruangan kita!" ajak Vita.


"Iya, Vit. Ayo!" jawab Nayla.


Vita dan Nayla meninggalkan Alvin dan berjalan menuju ke ruangannya.


"Al, aku senang karena akhirnya kamu mau mengumumkan statusmu kepada semua karyawan perusahaan," ucap Fandi.


"Sekarang apa kamu masih ingin mempertahankan Tasya sebagai sekertarismu?" tanya Fandi yang akhirnya paham kenapa dulu Alvin menjadikan Tasya sebagai sekertarisnya, itu karena dia ingin melindungi Nayla.


"Sebenarnya aku tidak membutuhkan sekertaris, karena aku sudah memiliki asisten handal sepertimu," jawab Alvin.


"Lalu?"


"Kamu urus saja Tasya dan pindahkan dia ke cabang perusahaan kita yang ada di desa," seru Alvin.


"Sesuai perintahmu, Bosku," jawab Fandi.


"Al, aku mohon jangan pindahkan aku ke cabang perusahaan yang lain!" pinta Tasya dengan mengatupkan tangannya.


"Bagaimana, Al?" tanya Fandi lagi.


"Baiklah kamu tidak jadi aku pindahkan ke cabang perusahaan kita, tapi kamu akan di pindahkan ke departemen lain. Kamu tidak akan menjadi sekertarisku lagi," jawab Alvin panjang lebar.


Tasya hanya bisa pasrah menerima keputusan apapun yang Alvin berikan. Baginya yang terpenting adalah dia tetap bekerja di perusahaan bonafit tersebut.

__ADS_1


__ADS_2