
Saat ini, Nayla sudah kembali ke rumah Hendrawan. Walau dia belum ingat soal Arvin, tapi Nayla tetap bisa menerima keberadaan bocah tampan tersebut sebagai anaknya.
"Sekarang apa rencanamu?" tanya Hendrawan kepada Nayla.
"Kek, bisakah aku memanfaatkan perusahaan kakek untuk menyelidiki semuanya?"
"Tentu saja, Sayang. Perusahaan kakek juga perusahaan milikmu kamu bisa menggunakannya sesuai keinginanmu," jawab Kakek Hendrawan.
"Terimakasih ya Kek," ucap Nayla.
*****
Keesokan harinya ...
Pagi itu, Nayla yang masih menyamar sebagai Nadhira datang ke perusahaan Grup H milik Alvin. Dengan alasan kalau kontrak yang dia berikan semalam salah.
Nayla berjalan ke meja resepsionis, "Maaf, ruangan Bapak Alvin di mana ya?" tanya Nayla yang pura-pura tidak tahu letak ruang kerja suaminya. Padahal nyatanya dia begitu hapal dengan ruangan itu.
"Mbak Siapa ya?" Sang resepsionis balik bertanya.
"Aku Nadhira, cucu dari Pak Hendrawan pemilik dari perusahaan ADITAMA CORPORATION," jawab Nadhira yang sengaja menekankan nama perusahaan kakeknya. Dia yakin dengan mengatakan nama perusahaan kakeknya tidak akan ada yang berani menolak kunjungannya di perusahaan tersebut.
"Nona Nadhira silahkan ikuti Saya, kebetulan Pak Alvin baru saja datang!" pekerja resepaionis itu mempersilahkan.
Nadhira pun berjalan mengikuti langkah reseptionis tersebut.
Tok tok tok
"Siapa?" suara Alvin dari dalam ruangannya.
"Ini ada Nona Nadhira dari perusahaan ADITAMA CORPORATION ingin bertemu dengan Bapak."
"Suruh masuk saja!" suruh Alvin dari dalam.
Nadhira segera membuka pintu melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerja Alvin.
"Silahkan duduk!" Alvin mempersilahkan Nadhira untuk duduk di bangku kosong yang ada di depannya. "Ohya ada hal apa hingga Anda harus repot-repot datang sendiri ke perusahaan Kami?"
"Kontrak kerjasama kemarin ada sedikit kata yang salah dan harus di koreksi, jadi bisakah kita membicarakan hal itu lagi?" Nadhira memberikan alasan yang menurutnya cukup masuk akal.
"Tentu saja," jawab Alvin. Alvin mengambil berkas yang kemarin dia tanda tangani dari dalam laci meja kerjanya.
"Silahkan!" ucap Alvin sambil menyerahkan berkas tersebut kepada Nadhira.
Nadhira berpura-pura membaca kembali surat kontrak kerjasamanya yang kemarin.
"Ternyata semuanya sudah benar, sekretarisku benar-benar bodoh." Nadhira kembali berpura-pura memaki sekertarisnya. "Tadi dia bilang, kalau dia salah mengetik surat kontrak kerjasama. Makanya aku buru-buru ke sini."
"Tidak apa-apa Dhira," jawab Alvin seraya tersenyum.
__ADS_1
Nadhira kembali memberikan surat itu kepada Alvin.
"Ohya siapa dia?" tanya Nadhira saat melihat Alvin masih memajang fotonya.
"Oh, dia istriku. Dia meninggal 5 tahun lalu karena kecelakaan," jawab Alvin. Dari raut wajah yang Nadhira tangkap, suaminya itu terlihat begitu sedih.
"Jika dia sedih karena kehilangan aku, kenapa dia tidak mencariku? Dia juga bahkan mencabut laporannya ke polisi." Nayla membatin.
"Maaf aku tidak tahu," ucap Nadhira.
"Tidak apa-apa."
"Kak Al, apa aku bisa mulai kerja hari ini?"
Suara seseorang dari arah pintu, Nadhira tahu persis siapa pemilik dari suara tersebut.
"Vit, sudah berapa kali aku bilang ketuk pintu saat kamu ingin masuk ke ruanganku!" tegur Alvin.
Iya, suara itu adalah suara Vita. Nadhira mengepalkan tangannya saat melihat wajah temannya itu. Teman yang dengan sengaja ingin menyingkirkan dirinya.
"Maaf Kak Al," ucap Vita. Dia berjalan mendekat ke meja Alvin.
"Kamu temui HRD sekarang tanyakan dimana kamu bisa di tempatkan di perusahaan ini!" suruh Alvin.
"Iya, Kak," jawab Vita. Vita menatap ke arah Nadhira. Dan seperti biasanya, dia tidak akan suka saat melihat ada orang yang dekat dengan pujaan hatinya, Alvin.
"Siapa dia?" tanya Vita seraya menunjuk ke arah wanita yang duduk di depan Alvin.
Nadhira dan Vita sama-sama tersenyum, senyum yang nampak jelas di paksakan, baik itu oleh Nadhira maupun Vita.
"Hallo aku Nadhira," Nadhira mengulurkan tangannya kepada Vita.
Mata Vita terbelalak saat mendengar suara Nadhira. Suara itu mengingatkan dia akan Nayla.
"Vita," Vita membalas uluran tangan dari Nadhira. Dia menatap Nadhira dengan seksama.
"Pak Alvin, saya pamit! Hari ini saya ada janji dengan putra saya untuk mengajaknya jalan-jalan."
Vita merasa lega saat mendengar kalau wanita yang bernama Nadhira itu sudah memiliki anak. Artinya dia tidak akan menjadi pengganggu bagi dirinya untuk bisa merebut perhatian Alvin.
"Putramu sangat lucu Dhira, bisakah aku bertemu dengannya lagi?" tanya Alvin.
"Tentu saja bisa," jawab Nadhira sembari tersenyum.
Alvin mengantar Nadhira sampai di depan pintu dan di ikuti oleh Vita. Kebetulan saat mereka keluar dari ruang tersebut saat itu juga Arvin datang bersama dengan Leo.
"Bunda.." teriak Arvin seraya menghambur ke arah bundanya.
"Kenapa ke sini Sayang? Bunda kan sudah menyuruhmu untuk menunggu di mobil?"
__ADS_1
"Dia sudah tidak sabar untuk pergi jalan-jalan." Leo asisten pribadi kakeknya yang menjawab. Karena selain menjadi asisten pribadi Pak Hendrawan, Leo juga di tugaskan untuk menjaga Nadhira dan Arvin.
"Apa dia suami Anda?" tanya Vita yang melihat ke arah Leo.
"Bukan, dia asisten pribadiku," jawab Nadhira, "Aku seorang single parent."
Mendengar status Nadhira membuat Vita kembali merasa terancam. Dia takut, Nadhira akan menjadi ganjalan baginya untuk mendapatkan hati Alvin.
"Maaf, Pak Alvin kami harus pergi sekarang. Permisi!" Nadhira berpamitan dengan Alvin.
"Ayo Sayang, salim dengan om Al!" Nadhira menyuruh putranya.
Arvin pun menjalankan perintah ibunya, dia mencium punggung tangan Alvin.
Nadhira bersama dengan Arvin beserta asistennya pergi meninggalkan perusahaan Grup H. Demikian juga Alvin, dia kembali masuk ke ruangannya.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menjadi penghalangku untuk mendapatkan Kak Al," batin Vita.
Vita segera pergi meninggalkan tempat itu untuk menemui HRD.
******
"Bunda, apa benar kalau Om Alvin adalah ayah kandung Ar?" tanya Arvin saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Nayla menatap ke arah putranya, bagaimana putranya tahu mengenai hal itu.
"Siapa yang mengatakan hal itu pada Ar?" tanya Nayla seraya mengusap pipi gembul putranya.
"Kakek buyut," jawab Arvin jujur. "Kakek juga bilang kalau ayah Ar tidak menyayangi Bunda dan juga Ar. Apa itu benar Bunda?"
"Kakek bener keterlaluan, bagaimana bisa dia berkata seperti itu dengan anak kecil," gerutu Nayla.
Untuk sejenak Nayla terdiam, dia sendiri bahkan belum mengingat bagaimana putranya bisa terlahir di dunia.
"Ar, tidak satu orang tua pun di dunia ini yang tidak menyayangi anaknya. Ayah juga pasti sangat menyayangi, Ar. Ayah cuma belum mengetahui keberadaan kita," jalas Nayla panjang lebar. "Ayah belum tahu kalau Ar adalah anak ayah."
"Jika ayah tahu Ar adalah anaknya, apa ayah akan menyayangi, Ar?"
"Tentu," jawab Nayla. "Kita sama-sama akan membuat ayah menyayangi Ar dan Bunda."
"Besok, bolehkah aku bertemu dengan ayah Bunda?"
"Tentu saja, boleh. Besok kita akan menemui ayah," ucap Nayla yang di sambut bahagia oleh Arvin.
"Tapi Ar harus janji tidak akan mengatakan pada siapapun kalau ayah Alvin adalah ayah kandung Ar, bagaimana?'
Arvin mengangguk setuju.
Nayla membawa Arvin ke tempat permainan anak di salah satu mall. Di sana Arvin bisa memilih permainan yang dia suka.
__ADS_1
Saat sedang berlari menuju ke arena bermainnya, Arvin yang sedang berlari terjatuh karena menabrak tubuh seseorang.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya orang itu seraya membantu bocah kecil tersebut untuk berdiri. Orang itu menatap Arvin tanpa berkedip saat melihat wajah Arvin.