Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Titik terang


__ADS_3

"Ada apa ini?"


Suara itu membuat Sarah dan Nayla menatap ke arah pintu, keduanya terkejut saat mengetahui siapa yang datang.


Sarah menelan ludahnya dengan susah payah, dia benar-benar takut kalau Alvin mendengar pembicaraannya dengan Nayla.


Orang yang baru saja datang itu adalah Alvin. Alvin yang baru saja kembali dari kantor segera masuk ke dalam ruangan ibunya saat mendengar keributan dari sana.


"Ibu, Nayla, sebenarnya ada apa ini?" tanya Alvin. Dia menatap Nayla dan Sarah bergantian.


Sarah melihat ke arah Nayla, demikian juga Nayla, dia menatap mertuanya.


"E...tadi kami sedang membicarakan soal siapa yang akan belanja bulanan besok," jawab Sarah berbohong.


"Apa itu benar, Nay?" tanya Alvin kepada Nayla.


"E ... iy ... iya, Al. Ibu benar, kami sedang membicarakan soal siapa yang akan berbelanja bulanan besok," jawab Nayla yang juga ikutan berbohong.


"Lebih baik biarkan ibu saja Nay yang berbelanja. Biasanyakan juga begitu!" seru Alvin kepada istrinya Nayla.


"Iya, Al. Tadi aku hanya sedikit mengingatkan ibu untuk membeli hal-hal yang penting saja," kata Nayla yang kembali berbohong.


"Ya sudah kalau begitu, aku akan kembali ke kamar," pamit Alvin.


Baru saja Alvin melangkahkan kakinya, dia kembali berbalik ketika tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu.


"Ini berkas apa?" tanya Alvin sambil mengambil berkas yang Nayla bawa tadi.


Sekali lagi Sarah menelan ludahnya dengan susah payah. Apalagi ketika Alvin mengambil berkas-berkas itu dan mulai membacanya.


Alvin membaca semua laporan itu dengan seksama, sesekali dia menatap dua wanita di depannya.


"Ibu, jadi kasus yang menimpa ibu Retno beberapa tahun yang lalu, itu semua ulah ibu?" tanya Alvin dengan menatap mata ibunya. Dia masih belum percaya dengan laporan yang dia baca.


"Itu ... itu tidak benar, Al. Berkas laporan itu hanya akal-akalan istrimu ini. Dia ingin membuat ibu terlihat buruk di matamu," Sarah berusaha membela dirinya dengan memutar balikkan semuanya.


Alvin menatap Nayla dan ibunya bergantian, dia ingin tahu siapa di antara keduanya yang berbohong.


Sarah tersenyum penuh kemenangan saat Alvin memanggil nama Nayla.


"Nay," panggil Alvin kepada istrinya.


"Al, aku tidak berbohong soal itu," kata Nayla yang menatap balik mata suaminya.

__ADS_1


Alvin menarik napas kemudian menghembuskannya. Dia kembali melihat berkas yang sekarang ada di tangannya.


"Maaf ..," ucap Alvin.


"Jadi kamu menganggap kalau aku berbohong?" tanya Nayla.


Alvin masih terdiam, dia melihat berkas di tangannya lagi. Kemudian dia kembali menatap mata Nayla.


"Al, istrimu itu memang tidak tahu diri. Aku yang sudah menjodohkannya denganmu, tapi malah dia ingin membuat ibumu ini terlihat buruk di matamu," Sarah sengaja mengatakan itu untuk membuat Alvin semakin percaya padanya.


"Al, apa yang ibu katakan itu tidak benar. Aku mendapatkan laporan itu dari ibu Retno dan ibu Retno mendapatkan itu dari ..."


"Cukup Ibu! Aku sudah tahu semuanya," kata Alvin.


"Apa maksudmu, Nak? Jadi kamu tidak percaya dengan ibu?" tanya Sarah dengan memasang wajah yang seolah tertindas.


Alvin mengambil sesuatu dari dalam tas kerjanya. Dia mengambil amplop coklat yang didalamnya berisi laporan dari orang yang dia suruh.


#Flash back


Waktu itu Alvin yang hendak pulang ke kantor mendapat telpon dari orang suruhannya. Dia adalah Pak Anton seorang detektif handal di kota tersebut. Pak Anton mengajak Alvin untuk bertemu dan meminta agar pertemuan mereka di lakukan di luar kawasan perusahaan grup H. Alvin segera menemui Pak Anton, setelah memastikan tempat untuk mereka melakukan pertemuan.


"Ini laporan yang sementara ini saya dapatkan," kata Pak Anton. Dia menyerahkan amplop besar berwarna coklat kepada Alvin.


Alvin menerima amplop tersebut kemudian membukanya. Dia mulai membaca satu persatu laporan yang di berikan oleh Pak Anton.


"Benar, Pak. Bahkan saya juga sudah bertemu dengan beberapa orang yang terlibat di dalamnya. Tapi sayangnya, ibu Retno orang yang menjadi korban malah tidak mau berbicara. Dia hanya mengatakan kalau semua sudah selesai secara baik-baik," jawab Pak Anton panjang lebar.


"Jangan-jangan dia tidak mau membuka kasus itu karena ada orang yang memintanya," Alvin ikut berkomentar.


"Kemungkinan orang itu adalah ayah Anda Tuan," jawab Pak Anton.


"Maksudmu?" tanya Alvin.


"Sebelum kasus itu di tutup almarhum ayah Tuan menemui ibu Retno untuk meminta maaf dan paginya ayah Anda mencabut laporannya," jawab Pak Anton lagi.


"Keterangan itu saya dapatkan dari orang yang juga bekerja sebagai pengasuh di panti yang sudah ditutup itu," Pak Anton kembali menjelaskan.


"Lalu apa kamu sudah mendapatkan data diri Nayla?"


"Belum lengkap Tuan, yang pasti Nayla juga anak dari panti asuhan yang telah di tutup itu," kata Anton memberitahu.


"Itu artinya kemungkinan Nayla juga kenal dengan Putri?"

__ADS_1


"Separtinya begitu. Saya akan mencari lebih banyak lagi informasi tentang Nayla," tutur Pak Anton.


"Terimakasih Pak atas bantuannya," ucap Alvin.


"Jangan sungkan karena itu adalah tugasku," jawab Pak Anton.


#Flashback off


"Jadi kamu menyelidiki ibumu sendiri?" tanya Sarah dengan geram.


Dia melempar semua kertas yang ada di dalam amplop coklat tersebut ke tubuh Alvin.


"Ibu salah, aku menyelidiki orang lain. Tapi aku justru menemukan fakta lain," jawab Alvin.


"Apa yang kalian inginkan sekarang?" tanya Sarah. Dia menatap Alvin dan Nayla bergantian.


"Minta maaflah kepada ibu Retno!" seru Alvin.


"Minta maaf dengan perempuan rendahan seperti dia? Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mau meminta maaf dengan perempuan itu," jawab Sarah.


"Bu, aku sangat menghormati ibu. Aku juga menyayangi ibu dengan sepenuh hati. Kalau ibu memang tidak bisa minta maaf dengan ibu Retno, aku yang menggantikan ibu untuk meminta maaf," kata Alvin.


"Terserah padamu, tapi yang jelas sampai kapanpun. Aku tidak akan pernah meminta maaf dengan perempuan rendahan seperti dia, apalagi gara-gara wanita itu ..."


"Al, sudah! jangan berdebat dengan ibu lagi!" Nayla sengaja memotong ucapan mertuanya agar mertuanya tidak mengatakan apapun soal ibu kandung Alvin. Nayla tidak ingin kekecewaan Alvin terhadap Sarah semakin besar. Karena bagaimanapun, Sarah sudah berjasa membesarkannya selama ini.


"Lagian ibu Retno juga sudah memaafkan ibu," tambah Nayla.


"Ayo, Al. Kita ke kamar!" ajak Nayla. Dia menarik lengan suaminya dan mengajaknya ke kamar.


*****


Di dalam kamar ...


"Al, aku tahu kamu kecewa dengan ibu. Tapi bagaimanapun dia adalah orang yang telah berjasa membesarkanmu. Maafkanlah ibu, ya!" kata Nayla dengan lembut.


Nayla memeluk tubuh suaminya untuk memberikan ketenangan pada suaminya.


"Terimakasih ya, Nay," ucap Alvin seraya membalas pelukan istrinya.


"Nay, bolehkah aku meminta hak ku lagi malam ini?" tanya Alvin. Nayla terdiam, bukan karena tidak mau. Tapi lebih karena dia merasa malu dengan permintaan suaminya itu. Memang mereka pernah melakukannya sekali, tapi hal itu terjadi lantaran Alvin di beri obat oleh seseorang.


"Nay," panggil Alvin.

__ADS_1


Dengan wajah malu-malu, Nayla mengangguk.


Alvin mulai melancarkan aksinya dengan menggiring tubuh Nayla agar naik ke tempat tidur. Dan mereka pun melakukan adegan selanjutnya di sana.


__ADS_2