Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Masa lalu


__ADS_3

"Aku telah kalah Rianti, aku kalah," ucap Sarah dengan air mata yang menggenang di kedua pipinya.


"Al, maafkan ibu! Maafkan ibu karena selama ini ibu menyimpan kebencian terhadap almarhumah ibu kandungmu, Rianti," ucap Sarah. "Harusnya, ibu bersyukur karena dia telah melahirkanmu dan memberikannya pada ibu, untuk bisa ibu rawat."


Alvin berbalik dan kembali berjalan mendekati ibu tirinya tersebut, seorang ibu tiri yang sudah dia sayangi layaknya ibu kandung. Alvin duduk di tepi ranjang ibunya, dia mengambil tangan ibunya kemudian menciumnya.


"Ibu, Al sangat bahagia mendengar Ibu bicara seperti ini. Ibu tahu, Al sangat menyayangi Ibu walaupun Ibu bukan Ibu kandung, Al." Alvin mencium punggung tangan ibunya berkali-kali.


"Ibu juga menyayangimu, Al. Walaupun selama ini Ibu selalu berusaha untuk membencimu dan selalu berfikir untuk membuatmu menderita, tapi hati kecil Ibu tidak bisa berbohong kalau Ibu juga menyayangimu," balas Sarah.


Sarah bangun dan duduk, dia membelai kepala Alvin yang kini sudah berada di pangkuannya.


Nayla yang tadinya ingin kembali masuk ke kamar ibu mertuanya, mengurungkan niatnya. Dia ingin memberikan kesempatan kepada dua orang yang ada di hadapannya, untuk bisa mengungkapkan isi hati mereka masing-masing. Saking terharunya, tanpa sadar air mata Nayla juga jatuh di kedua pipinya.


"Akhirnya wanita licik itu, tobat juga," suara Nek Murti cukup membuat Nayla terkejut. Padahal suara itu tidak begitu kencang.


"Nenek," panggil Nayla. Dia langsung mengusap air mata yang menggenang di kedua pipinya.


"Kenapa kamu malah menangis?" tanya Nek Murti kepada cucu menantunya tersebut. "Tidak, Nek. Nayla hanya teringat dengan kedua orang tua Nayla yang sudah tiada," jawab Nayla.


"Orang tuamu pasti bangga memiliki putri sepertimu, yang selalu kuat dalam menghadapi cobaan hidup," kata Nek Murti.


"Tidak, Nek. Aku tidak akan sekuat ini jika bukan karena Alvin, sejak kecil dialah orang yang memberiku keberanian," tutur Nayla. Dia bahkan tersenyum saat mengatakan hal tersebut.


"Sejak kecil?!" Nek Murti menatap Nayla penuh tanya.


Nayla menjawabnya dengan anggukan, "Ayo, kita duduk di teras saja! Aku akan menceritakan kisah pertemuan aku dan Alvin dulu!" ajak Nayla.


Nayla membawa Nek Murti duduk di bangku yang ada di teras rumah. Sebelum mulai bercerita, Nayla membawakan secangkir teh untuk Nek Murti.


"Setelah kedua orang tuaku meninggal, aku di besarkan di panti asuhan. Di sanalah aku bertemu dengan Alvin. Dia selalu menghiburku di saat aku sedih, dia juga akan memberiku keberanian saat aku merasa takut dan sendiri," tutur Nayla.


"Panti asuhan? Jadi kamu bertemu dengan Alvin di panti asuhan?" tanya Nek Murti untuk meyakinkan pada dirinya bahwa yang dia dengar itu benar adanya.


Nek Murti memang tahu kalau Nayla adalah anak yatim piatu dan di besarkan di panti asuhan. Tapi dia tidak pernah menyangka kalau Nayla dan cucunya bertemu dan saling mengenal di panti asuhan, bahkan sejak mereka kecil.


"Iya, Nek. Bahkan sebelum dia pergi untuk bersekolah ke luar negeri, dia berjanji padaku akan menikah denganku saat dia kembali dari nanti. Meski dulu kami berdua tidak pernah tahu apa arti kata menikah yang sebenarnya. Tapi kami sama-sama setuju karena kami ingin hidup bersama selamanya," cerita Nayla panjang lebar.

__ADS_1


"Kalian ini anak-anak kecil yang aneh, tapi Nenek senang karena kamulah yang menjadi cucu menantuku," ucap Nek Murti. "Ohya, kenapa kamu bisa tinggal di panti asuhan? Aa kamu tidak punya ke luarga lain?" tanya Murti. Dia mengambil teh yang ada meja kemudian menyeruputnya.


"Entahlah, Nek. Tapi yang aku ingat sebelum kecelakaan yang menimpa kami sekeluarga, ayah mengajak aku dan ibu untuk menemui seseorang," jelas Nayla.


Flashback


Hari itu Nayla yang masih kecil di suruh berdandan yang cantik oleh ibunya. Bahkan ibu Nayla sengaja memakaikan baju baru untuknya.


"Ibu, kenapa aku harus berdandan yang cantik?" tanya Nayla kepada ibunya.


"Sayang, sebentar lagi kita akan bertemu dengan kakekmu. Jadi kamu harus bisa terlihat sangat cantik di depan kakek,"


"Kakek? Jadi Nay punya kakek Bunda?" tanya Nayla lagi.


"Iya, kamu punya seorang Kakek dari ayah."


"Asik, aku punya kakek," teriak Nayla girang. Dia bahkan melompat-lompat di atas tempat tidurnya.


"Ayo kita pergi temui kakek sekarang!" ajak sang ayah yang baru saja masuk ke kamar putri kecilnya.


Ayah Nayla mengeluarkan sepada motor miliknya dari dalam rumah. Setelah mengunci pintu rumah kontrakannya, mereka segera naik ke atas motor untuk menuju ke tempat yang di maksud.


Setelah mengendarai motor selama kurang lebih 30 menit, ayah Nayla menghentikan motornya tepat di depan sebuah rumah yang sangat mewah dan besar.


"Apa ini rumah kakek, Ayah?" tanya Nayla sambil melihat ke sekelilingnya.


"Iya, Nak. Ini rumah kakekmu," jawab sang ayah.


"Mas, apa papamu akan menerima kehadiranku dan Nayla?" tanya ibu Nayla kepada suaminya, dia menanyakan hal itu dengan sedikit memelankan suaranya agar tidak di dengar oleh putrinya tersebut.


"Ini sudah lebih dari 5 tahun berlalu, aku yakin papa akam menerima keberadaanmu. Apalagi sudah ada Nayla cucunya," jelas ayah Nayla kepada istrinya.


"Mudah-mudahan ya, Mas. Aku tidak mau perasaan Nayla terluka, jika sampai papa tidak bisa menerimanya," kata ibu Nayla lirih.


"Jangan khawatir, papa pasti akan bisa menerima kehadiranmu dan Nayla," kata ayah Nayla untuk menenangkan istrinya.


"Sayang, kamu di sini dulu ya. Biar Bunda dan Ayah masuk terlebih dulu!" seru ayah Nayla kepada Nayla kecil. Nayla hanya mengangguk menanggapi titah sang ayah.

__ADS_1


Kedua orang tua Nayla masuk ke dalam rumah.


"Mau apa kalian ke sini?!" suara itu terdengar sampai ke telinga Nayla yang sedang berdiri di luar.


"Pa, aku ingin memperkenalkan anakku pada papa," jawab ayah Nayla.


"Aku tidak sudi punya cucu dari orang miskin!Pergilah kalian dari rumah ku, sekarang!" seru kakek Nayla dengan nada membentak.


"Pa, aku memang salah telah menikahi Fitri tanpa restu darimu. Tapi sungguh, Pa. Aku tidak pernah bermaksud untuk menyakiti papa. Tolong, Pa! Terimalah Fitri sebagai menantumu dan putri kami sebagai cucumu!" pinta Wisnu kepada papanya, bahkan Wisnu rela berutut di hadapan papanya.


"Ayah, jangan berlutut seperti itu. Ayo kita pergi!" Nayla yang tadi mendengar teriakan dari dalam, langsung masuk dan berlari menghampiri ayahnya yang sedang berlutut di kaki seorang laki-laki paruh baya yang berdiri membelakangi mereka.


"Ayo ayah kita pergi!" ajak Nayla sambil menarik tangan ayahnya. "Ayah, tidak apa-apa kalau Nay tidak memiliki kakek. Yang penting Nay masih memiliki Ayah dan Bunda," tambah Nayla.


"Ayo, Mas kita pergi! Mungkin papa masih membutuhkan waktu untuk menerima aku dan Nayla!" ajak Fitri kepada suaminya.


Wisnu bangun dari posisinya berlutut tadi, "Ayah, aku pamit. Semoga suatu hari nanti ayah mau menerima keberadaan istri dan anakku," ucap Wisnu. "Selamat tinggal ayah."


Wisnu membawa anak dan istrinya ke luar dari rumah besar tersebut. Dengan mengendarai sepeda motornya, mereka pun pergi dari halaman rumah besar itu.


Namun sesuatu tak terduga terjadi di perjalanan mereka pulang, motor yang mereka kendarai tertabrak truk dan membuat kedua orang tua Nayla meninggal di lokasi.


Flashback off


Nek Murti mengusap punggung cucu menantunya tersebut, "Sabar ya, Nak. Semua pasti ada hikmahnya, orang tuamu juga sudah bahagia di alam sana."


"Iya, Nek. Aku juga ingat pesan Bunda beberapa hari sebelum kecelakaan itu terjadi. Bunda memintaku untuk tetap tersenyum apapun yang akan terjadi dengan hidup kita kelak," air mata Nayla terburai saat mengingat pesan orang tuanya.


Nek Murti menarik Nayla untuk memberikan pelukan kepadanya.


➡️ Jangan lupa like, komen dan votenya ya✌️


➡️ Sambil menunggu update berikutnya baca juga karya teman author yang pastinya Te O Pe banget deh😁👍:



Trims 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2