Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Berkumpul


__ADS_3

"Maafkan aku .." ucap Alvin dengan duduk bersimpuh di hadapan dua orang di depannya.


Dua orang itu menetap Alvin bingung.


"Pak Alvin, kenapa Anda datang-datang langsung meminta maaf?" tanya orang tersebut.


"Aku sudah tahu semuanya, aku sudah tahu kalau kamu adalah Nayla," ucap Alvin dengan menatap dua orang di depannya.


Kini giliran Nayla yang terkejut.


"Darimana .. dari mana kamu tahu Al?"


"Aku menyuruh orang untuk menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpamu. Dan akhirnya aku mendapatkan semua kebenaran itu," jawab Alvin.


Nayla masih tak bergeming di tempatnya.


"Maafkan aku Nay, seharusnya aku terus mencari keberadaanmu walau semua orang sudah menganggapmu tiada. Seharusnya aku tidak menjadi orang yang lemah, seharusnya...."


Nayla menutup mulut Alvin dengan jari telunjuknya.


"Al, kita lupakan semua itu. Sekarang yang harus menjadi prioritas kita adalah Vita. Kita harus bisa membuat dia membayar semuanya," ucap Nayla.


Alvin mengangguk.


Nayla mendekati Alvin dan membantunya untuk berdiri.

__ADS_1


"Apa dia putraku?" tanya Alvin sambil menatap Arvin yang sedang berdiri di samping Nayla.


"Ar, ayo sapa ayahmu!" seru Nayla kepada Arvin.


"Tidak mau, Kakek bilang ayah tidak sayang sama Ar dan juga Bunda." Terang-terangan Arvin menolak. Bocah yang belum genap berumur 5 tahun tersebut merasa tidak senang dengan kehadiran ayahnya.


"Ar benar, seharusnya kamu tidak memaafkan suamimu dengan begitu mudah."


Suara seseorang menggelegar di seluruh ruangan. Suara itu adalah suara milik Hendrawan, kakek Nayla.


"Kek." Panggil Nayla, dia berharap kakeknya akan mau memaafkan Alvin.


"Tinggalkan rumah ini sebelum aku menyuruh anak buahku mengusirmu dari sini!" seru Hendrawan dengan memberikan tatapan tajamnya.


"Kakek. Al memang salah karena dia tidak mencariku. Tapi itu terjadi karena dia juga depresi," suara Nayla menginterupsi.


"Kek, aku tahu kalau dulu aku adalah orang yang lemah. Tapi aku berjanji pada Kakek mulai saat ini, aku akan menjadi laki-laki yang kuat demi anak dan istriku." Alvin ikut mengeluarkan suaranya.


Hendrawan masih tidak bergeming, sorot matanya masih menyimpan rasa ketidak sukaannya kepada laki-laki yang berdiri di hadapannya.


"Kek," sekali lagi Nayla mencoba memohon.


"Baiklah, aku akan memberinya satu kali kesempatan. Penjarakan orang yang hampir mencelakai cucuku secepatnya!"


"Aku janji Kek, aku pasti akan memenjarakannya dan membuatnya di penjara seumur hidup."

__ADS_1


"Baiklah, Aku pegang kata-katamu." Setelah mengatakan itu, Hendrawan pergi meninggalkan tempat tersebut dan membiarkan cucu dan cucu buyutnya bersama Alvin.


"Ar, maafkan Ayah karena Ayah terlambat mencari kalian berdua!" ucap Alvin pada putranya.


Arvin melihat ke arah Bundanya, setelah mendapat anggukan dari Sang Bunda, barulah dia mau memeluk ayahnya.


*****


Alvin begitu bahagia karena akhirnya dia bisa berkumpul dengan istri dan juga anaknya.


"Nay, nanti malam Ibu Retno akan mengadakan doa bersama, apa kamu tidak ingin hadir dan memberitahunya tentang keadaanmu?" tanya Alvin de sela-sela aktifitasnya menemani Arvin bermain.


"Aku ingin, tapi Aku takut jika Vita tahu kalau ternyata aku masih hidup, dia pasti akan melakukan berbagai cara untuk menyingkirkanku darimu. Dan aku tidak mau Ar menjadi sasaran Vita," ucap Nayla.


"Kamu benar, Vita terlalu kejam. Kita harus merahasiakan semuanya sebelum kita berhasil memenjarakannya."


"Kita lupakan soal Vita, kita nikmati kebersamaan kita ini!" ucap Alvin.


"Kamu terlihat semakin cantik, Nay," puji Alvin.


"Jadi sebelum ini aku tidak cantik?"


Nayla berpura-pura memasang wajah cemberutnya.


"Kamu selalu cantik di mataku," jawab Alvin.

__ADS_1


Alvin mendekatkan wajahnya mendekati wajah istrinya, hampir saja dia menderatkan bibirnya di bibir ranum Nayla. Sebelum akhirnya Arvin menginterupsi keduanya.


Alvin dan Nayla tersenyum, keduanya kemudian memberikan ciuman mereka di pipi gemul Sang anak. Hari itu menjadi hari yang mbahagiakan bagi mereka bertiga.


__ADS_2