
Nayla bangun saat jam menunjukkan pukul 4 pagi, Nayla menyingkirkan tangan Alvin yang masih melingkar di tubuh polosnya. Dia menatap wajah laki-laki yang masih tertidur pulas di sampingnya. Wajah yang begitu tampan dan tanpa cela menurutnya. Wajah yang bisa membuat dia bisa melupakan akan cinta masa kecilnya, pangeran.
Dengan sangat lembut dia membelai wajah suaminya, dan menatap wajah tampannya lekat-lekat. Sesekali dia tersenyum ketika mengingat malam yang panjang, yang baru saja mereka lewatkan.
"Kenapa cuma menatapku?" tanya Alvin dengan mata yang tetap terpejam.
"Al, kamu sudah bangun?"
"Aku terbangun karena merasa ada orang yang sedang menatapku," jawab Alvin.
"Siapa yang menatapmu?" tanya Nayla. Dia mencoba untuk berkilah, namun mimik muka dan sorot matanya tidak mampu untuk berbohong. Alvin mengubah posisinya, kini Nayla kembali berada di bawah kungkungan tubuh kekarnya.
"Al, ini sudah hampir subuh," ucap Nayla saat suaminya itu memberikan ciuman di lehernya.
"Aku ingin kita melakukannya lagi," bisik Alvin. "Aku janji, kali ini aku akan melakukannya dengan cepat dan pelan."
Tanpa menunggu jawaban dari Nayla, Alvin sudah menyerang tubuh istrinya tersebut. Dia menyusuri setiap lekuk tubuh Nayla dan kembali meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Mereka pun kembali melanjutkan adegan yang sama seperti yang mereka lakukan semalam. Namun kali ini, Alvin melakukannya dengan cepat, namun pelan.
Nayla dan Alvin menutup kegiatan mereka dengan mandi bersama.
******
"Ohya, Al. Apa wanita yang menjadi sekertarismu kemarin adalah mantan kekasihmu?" tanya Nayla sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, Dia duduk di depan lemari hiasnya.
Alvin yang sudah berpakaian rapi berjalan menghampiri Nayla. Dia mengambil hair dryer dari tangan istrinya dan membantu mengeringkan rambut istrinya tersebut.
"Iya, namanya Tasya," jawab Alvin, dan sesaat kemudian Alvin balik bertanya, "Apa kamu cemburu dengannya?"
"Tidak, kemarin Kak Ifan sudah cerita kenapa dulu kamu berpacaran dengannya. Mungkin aku akan cemburu kalau yang menjadi sekertarismu itu Putri."
Alvin mematikan hair drayer di tangannya dan meletakkannya di meja rias. Dia membalikkan tubuh istrinya agar menghadap ke arshnya.
"Dengar, dulu aku memang mencintai Putri. Tapi sekarang aku hanya mencintaimu dan selamanya akan terus begitu," ucap Alvin. Alvin mengatakan hal tersebut sambil berjongkok di depan istrinya seraya menggengam tangan istrinya itu.
"Aku percaya, Al," jawab Nayla. Dia membantu suaminya itu untuk berdiri, kemudian mereka pun saling berpelukan.
"Mulai sekarang, jangan pernah kamu mencoba untuk mendorongku pergi darimu. Karena apapun yang kamu katakan dan kamu lakukan padaku, aku akan tetap di sisimu dan mencintaimu," ucap Alvin sambil terus menciumi pucuk kepala Nayla.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu, Al. Aku juga tidak akan melepaskan kamu, walau Putri yang memintanya," jawab Nayla. Dia semakin mengeratkan pelukannya.
Di balik kebahagian mereka ada seseorang yang tidak suka melihatnya. Dia mengepalkan tangannya saat mendengar pembicaraan sepasang suami istri itu dari dalam kamar. Siapa lagi orang yang tidak suka melihat kebahagiaan mereka selain ibu tiri Alvin, Sarah.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan membiarkan anakmu itu bahagia Rianti. Dulu kamu merebut semua kebahagiaanku dari mas Hadinata, jadi sekarang aku yang akan mengambil kebahagiaan anakmu," gumam Sarah. Sarah segera menjauh dari pintu kamar Alvin, saat mendengar langkah yang semakin mendekat ke arah pintu.
Nayla dan Alvin ke luar dari kamar mereka sambil berpegangan tangan, keduanya tampak begitu bahagia.
Alvin dan Nayla berjalan menuju ke meja makan di mana Nek Murti sudah menunggunya.
Alvin menarik kursi yang akan di duduki oleh Nayla, kemudian mempersilahkannya untuk duduk. Setelah itu dirinya duduk di bangku kosong di dekat istrinya.
"Nenek senang melihat kalian berdua seperti ini," ucap Nek Murti kepada ke dua cucunya itu.
"Mulai sekarang, Nenek akan selalu melihat kami seperti ini," jawab Alvin. "Iyakan, Sayang?"
Nayla menjawab pertanyaan suaminya itu dengan anggukan yang di sertai dengan senyum manisnya.
"Lalu kapan kalian akan mengumumkan pernikahan kalian ke publik?" tanya Nek Murti pada ke dua cucunya.
"Secepatnya, Nek," jawab Alvin, "Kami akan mempersiapkan semuanya terlebih dulu."
"Iya, Nek. Pasti," kini giliran Nayla yang menjawab.
Tidak lama kemudian Sarah datang, dia langsung duduk di hadapan Nek Murti tanpa sedikit pun rasa malu.
"Nek, aku dan Nayla langsung berangkat ke kantor saja," pamit Alvin yang mengajak istrinya untuk meninggalkan meja makan.
"Tapi kalian kan belum makan," ucap Nek Murti.
"Kami bisa sarapan di kantor nanti," jawab Alvin.
Alvin menarik tangan istrinya untuk ikut bersamanya.
"Nek, Ibu, Kami berangkat duluan ya," pamit Nayla.
Alvin dan Nayla segera meninggalkan ruang makan tersebut.
__ADS_1
"Apa kamu sudah merasa puas menyakiti cucuku?" tanya Nek Murti dengan memberikan tatapan tajamnya kepada Sarah.
"Apa maksud ibu? Siapa yang menyakitinya." Sarah mencoba untuk sedikit berkilah.
"Aku mendengar semua yang kamu katakan kepada Nayla waktu itu. Aku benar-benar tidak menyangka, kalau ternyata kamu sebegitu inginnya membuat Alvin menderita," ujar Nek Murti kepada menantunya tersebut.
"Kamu dengar Sarah, aku tidak akan pernah tinggal diam, jika kamu mencoba menyakiti cucuku." Nek Murti kembali memberikan tatajamnya kepada Sarah, kemudian diapun meninggalkan Sarah sendirian di meja makan.
Sarah menggebrak meja dengan keras, dia benar-benar tidak menyangka kalau ke
bohongannya akan terbuka secepat ini.
"Awas kamu, Nayla. Gara-gara kamu Alvin mengetahui semuanya, aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup tenang. Dan kamu Rianti, aku pasti bisa membalas sakit hatiku padamu, melalui anakmu," batin Sarah.
******
(Di dalam mobil milik Alvin)
"Apa sikap kita tidak keterlaluan terhadap ibu tadi?" tanya Nayla seraya mentap wajah suaminya yang sedang menyetir.
"Sudahlah, biarkan ibu menginstrospeksi dirinya dulu. Mungkin dengan aku mendiamkannya, sikap ibu akan berubah," tutur Alvin.
"Tapi sepertinya itu tidak akan berhasil, Al. Aku lihat dari tatapan mata ibu, kalau dia menyimpan dendam yang mendalam terhadap almarhumah ibu kandungmu." Nayla berbicara dalam hati.
"Sayang," panggil Alvin saat melihat istrinya itu terdiam.
"Maaf, Al. Aku hanya sedikit kepikiran tadi," ucap Nayla.
"Sudah tidak usah di pikirkan, setidaknya sekarang kita tidak perlu lagi membohongi perasaan kita masing-masing." Satu tangan Alvin mengusap pipi istrinya itu dengan lembut.
"Iya, Al. Aku juga bahagia," ucap Nayla.
"Apa sekarang aku boleh jujur kepada Fandi dan Vita, tentang status kita berdua?" tanya Alvin kepada Nayla.
"Tentu saja boleh, tapi sebaiknya kita tidak membicarakan itu di kantor. Kita bicarakan pada mereka pas jam makan siang saja," ujar Nayla.
"Baiklah, aku setuju," kata Alvin. "Aku benar-benar ingin secepatnya Fandi dan Vita tahu tentang status kita."
__ADS_1
"Aku juga," jawab Nayla.