
"Tolong! Tolong aku!" gumam Nadhira. Dia menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Keringat dingin keluar dari tubuhnya. Entah sudah berapa kali kata-kata itu keluar dari mulutnya. Walau matanya terpejam tak henti-hentinya mulutnya meracau.
"Kakek buyut, Bunda kenapa?" tanya Arvin. Bocah kecil yang umurnya belum genap 5 tahun itu terus menangis melihat kondisi ibunya yang masih tak sadarkan diri.
"Bunda, hanya butuh istirahat Sayang. Jangan khawatir ya." Hendrawan mengusap punggung cucu buyutnya tersebut.
"Tolong! Tolong aku!" lagi-lagi kata-kata itulah yang keluar dari mulut Nadhira.
"Bunda! Bunda bangun!" panggil Arvin seraya menggoyang-goyangkan lengan ibunya yang masih berbaring.
"Tolong!" teriak Nadhira yang langsung tersadar dari pingsannya.
"Dhira, kamu kenapa Sayang?" tanya Hendrawan saat melihat cucunya sudah tersadar.
"Di dimana aku?" itulah kalimat yang pertama keluar dari mulut Nadhira saat dia sadar.
Nadhira melihat sekelilingnya, dia berusaha untuk mengingat kejadian yang muncul di mimpinya.
"Ada apa Sayang?" tanya Hendrawan saat melihat sikap Nadhira yang seperti orang kebingungan.
"Anda siapa?" tanya Nadhira sambil menatap ke arah Hendrawan.
"Aku kakekmu, Dhira. Apa kamu lupa?"
Nadhira menatap ke arah Hendrawan, dengan memegangi kepalanya dia berusaha untuk mengingat dirinya.
"Dhira?!" Nadhira masih memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.
"Aku ingat, bukankah Anda Tuan Hendrawan? Rekan bisnis dari suamiku Alvin?"
Hendrawan terkejut mendengarnya, ternyata ingatan cucunya sudah kembali.
"Kenapa kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Nayla yang masih merasa kebingungan.
Hendrawan menyuruh Leo untuk memanggil dokter yang menangani cucunya. Tidak lama dokter yang di panggil pun datang. Dia mulai memeriksa keadaan Nayla.
"Pak Hendrawan, ada yang harus saya bicarakan dengan Anda!" Sang Dokter mengajak Hendrawan untuk berbicara di ruangannya.
"Leo, jaga Arvin dan cucuku!" serunya sebelum meninggalkan ruang rawat Nayla.
"Baik, Pak."
Hendrawan mengikuti dokter tersebut ke ruangannya.
"Ada apa Dok? Kenapa kita harus bicara di sini?" tanya Hendrawan yang semakin penasaran kabar yang akan di beritahukan oleh dokter kepadanya.
Sebelum berbicara Dokter tersebut menghela napasnya.
"Pak Hendrawan, ada dua berita yang harus saya sampaikan kepada Anda." Dokter itu mulai berbicara.
"Katakanlah, Dok!"
__ADS_1
"Ingatan cucu Anda sudah mulai pulih."
"Syukurlah, Dok. Kalau ingatan cucuku sudah kembali." Hendrawan merasa sangat senang mendengarnya.
"Tapi.." Dokter itu kembali menggantung perkataannya.
"Tapi apa, Dok?" tanya Hendrawan lagi. Dia penasaran dengan kabar kedua yang akan di sampaikan oleh dokter di depannya.
"Kemungkinan, cucu Anda hanya akan mengingat kejadian sebelum terjadinya kecelakaan. Dia akan lupa dengan hari-hari yang dia lewati setelah kecelakaan itu terjadi," jelas Dokter itu lagi.
"Maksud Dokter, dia juga akan lupa dengan anaknya?"
Dokter itu mengangguk.
"Tapi Dok, cucuku masih terlalu kecil untuk bisa menerima kenyataan kalau ibunya tidak akan bisa mengingatnya," ujar Hendrawan. Dia begitu sedih saat membayangkan jika cucu buyutnya yang masih berusia kurang dari 5 tahun harus rela di lupakan oleh ibu kandungnya.
"Tapi, Pak Hendrawan tenang saja. Pak Hendrawan masih bisa terus mencoba mengingatkan dia dengan menunjukkan video, foto atau apapun yang bisa membuka memorinya selama 5 tahun ini," lanjut Sang Dokter.
"Aku akan mencobanya, Dok." Setelah mengatan hal itu, Hendrawan keluar dari ruangan sang dokter dan kembali ke ruang rawat cucunya.
"Kakek buyut!" panggil Arvin, bocah kecil itu langsung menghambur ke arah Hendrawan dan memeluknya sambil menangis.
"Ada apa? Kenapa jagoan Kakek menangis?" tanya Hendrawan, dia menggendong cucunya.
"Kakek buyut, kenapa bunda lupa dengan Ar?" tanya Arvin sambil menangis.
Hendrawan menatap wajah cucu buyutnya.
"Benarkah?" tanya Arvin yang masih polos.
"Tentu saja, memangnya Kakek buyut pernah bohong sama Ar? Tidak kan?"
Arvin mengangguk dengan cepat, dia kembali menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Mulai sekarang, kita bersama-sama untuk membuat Bunda sembuh, Oke!"
"Iya, Kakek. Ar, akan berusaha membuat Bunda sembuh dan mengingat Ar!" Bocah itu kembali bersemangat.
Hendrawan berjalan mendekat ke arah Nayla.
"Apa yang kamu ingat?" tanya Hendrawan kepada Nayla.
"Aku ingat kalau aku baru saja mengantar suamiku ke bandara, itu kejadian terakhir yang aku ingat," jawab Nadhira yang sudah kembali menjadi Nayla.
"Apa kamu ingat kalau kamu mengalami kecelakaan setelahnya?"
Nayla menatap Hendrawan penuh tanya.
"Setelah mengantar suamimu ke bandara, mobil yang kamu tumpangi mengalami kecelakaan."
Nayla kembali berusaha untuk mengingat kejadian kecelakaan yang menimpanya. Samar-samar bayangan kecelakaan itu muncul di kepalanya. Dia ingat persis bagaimana mobilnya terbalik dan bagaimana dia berteriak meminta tolong. Saat itu ada orang yang berjalan mendekat ke arahnya, dia pikir orang itu hendak menolongnya. Namun kenyataannya, dia malah mendorong tubuh Nayla ke sungai.
__ADS_1
"Aku ingat, aku ingat semuanya. Aku juga ingat siapa orang yang mendorongku ke sungai."
"Siapa?" tanya Hendrawan, dia benar-benar ingin tahu siapa orang yang tega ingin membunuh cucunya.
"Vita, dia temanku," jawab Nayla juga tidak percaya kalau temannya Vita akan tega untuk menghabisi dirinya.
"Nayla, ada satu hal lagi yang harus kamu ketahui."
Nayla menatap ke arah Hendrawan, "Apa?" tanyanya kemudian.
Hendrawan menyuruh Leo untuk mengambilkan dia cermin. Dia memberikan cermin tersebut kepada Nayla.
Nayla masih bingung dengan maksud dari Hendrawan yang memberinya sebuah cermin.
"Un..untuk apa?" tanya Nayla bingung.
Nayla melihat ke arah cermin pemberian Hendrawan, dia begitu shock saat melihat wajahnya yang sudah berubah.
"Kenapa? Kenapa dengan wajahku?" tanya Nayla seraya menyentuh wajahnya sendiri. Dia masih tidak percaya kalau wajah yang dia lihat di depan cermin adalah wajahnya.
"Kamu di temukan dengan wajah yang terluka parah. Makanya dokter melakukan operasi pada wajahmu dan membuat wajahmu berubah seperti sekarang ini," jelas Hendrawan.
Hendrawan mulai menceritakan semuanya dari awal.
"Tuan, cucu Anda mengalami kecelakaan!" Hendrawan yang saat itu hendak melakukan perjalan bisnis ke luar kota, segera menunda urusannya.
Hendrawan mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan cucunya. Bahkan saat dia mendapat kabar kalau Nayla sudah di ketemukan dalam keadaan tidak bernyawa Hebdrawan tidak sertamerta menerima berita itu begitu saja. Dia bahkan datang sendiri ke rumah sakit untuk memastikan jenazah yang di temukan di dekat kecelakaan itu terjadi.
Hendrawan hampir saja percaya kalau mayat dengan wajah yang tidak bisa di kenali itu adalah cucunya. Namun dia ingat ucapan Wisnu anaknya, yang mengatakan kalau putrinya memiliki tanda lahir yang sama dengan dirinya. Yaitu sebuah tompel yang terletak di punggungnya.
Hendrawan begitu lega, saat tahu kalau yang meninggal bukanlah cucunya. Dia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan cucunya yang asli. Dan akhirnya setelah 2 hari Leo berhasil menemukan Nayla. Dan saat di ketemukan wajahnya juga tidak bisa di kenali. Awalnya, Hendrawan ingin memberitahu Alvin soal dia yang berhasil menemukan Nayla. Namun dia mengurungkan niatnya, saat tahu kalau Alvin mencabut laporannya.
Hendrawan beranggapan kalau Alvinlah orang yang sudah merencanakan untuk menyingkirkan cucunya. Jadi dia memutuskan untuk merahasiakan keberadaan Nayla darinya. Apalagi saat di ketemukan, Nayla dalam keadaan hamil. Hendrawan tidak ingin cucu dan calon cucu buyutnya kenapa-napa.
"Jadi aku kehilangan ingatanku selama itu?" tanya Nayla.
"Benar."
"Lalu siapa dia?" Nayla menunjuk ke arah Arvin yang sejak tadi berdiri disamping Hendrawan.
"Jika aku bilang dia anak kandungmu, apa kamu akan percaya?" tanya Hendrawan lagi.
Nayla menatap wajah Arvin dengan seksama, wajah itu begitu mirip dengan Alvin. Walau dia belum mengingat soal Alvin, Nayla yakin kalau anak di depannya adalah anaknya. Apalagi saat dia memeluk Arvin, ada kehangatan yang dia rasakan.
"Maafkan Bunda ya Ar!" ucap Nayla seraya memeluk putranya.
"Maafkan Bunda, karena Bunda melupakan Ar!" ucapnya sekali lagi.
Arvin mengangguk, bocah itu begitu kegirangan di pelukan ibunya.
"Istirahatlah!" seru Hendrawan. "Kita bicarakan semuanya nanti."
__ADS_1
Nayla mengangguk, dengan di temani putranya Arvin, Nayla mulai memejamkan matanya untuk kembali beristirahat.