
"Kak, aku tahu Kakak juga mencintai Naylakan? Bagaimana kalau kita bekerjasama, aku yakin kalau kita bekerjasama kita akan bisa memisahkan mereka. Jadi kita bisa mendapatkan orang yang kita cintai," Vita memberikan ide konyolnya kepada sang kakak.
Fandi menatap adiknya itu.
"Bagaimana, Kak?" tanya Vita sekali lagi.
"Vit, aku benar-benar tidak menyangka kalau kata-kata itu keluar dari mulutmu. Aku bisa mengerti jika itu orang lain, tapi ini sahabatmu sendiri. Ingat Vit, kamu dan Nayla adalah sahabat. Jangan rusak persahabatan kalian hanya karena keegoisanmu." Fandi memberikan nasehat untuk adik perempuannya.
"Aku tidak perduli, Kak," ucap Vita. "Yang terpenting aku bisa merebut Kak Al dari Nayla. Nayla tidak pantas bersanding dengan Kak Al, dia hanya seorang anak yatim piatu yang miskin."
Plakkk
Sebuah tamparan mendarat di pipi Vita.
"Kak Fandi tega menamparku hanya demi seorang Nayla?!" Vita memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan yang di berikan oleh kakak laki-lakinya tersebut. "Aku benci Kak Fandi! Aku benci!" teriak Vita kepada kakaknya.
"Semoga tamparanku bisa membuatmu sadar," ucap Fandi, dia langsung keluar dari kamar adiknya.
Setelah kakaknya ke luar dari kamar, Vita langsung berbaring di atas tempat tidurnya.
Tidak lama Fandi ke luar dari kamar Vita, Mirna masuk ke kamar anak perempuannya. Dia khawatir saat mendengar teriakan Vita.
"Nak, ada apa?" tanya Mirna yang berjalan menghampiri putrinya. Mirna duduk di dekat putrinya yang sedang berbaring, dia membelai rambut pannjang milik putri kesayangannya.
"Kak Fandi jahat, Bunda. Dia menamparku gara-gara Nayla," ujar Vita mengadu.
Mirna menatap putrinya penuh tanya. Vita yang masih berbaring menjadikan paha sang mama sebagai tumpuan kepalanya.
"Ceritakan pada Bunda, ada apa dengan Nayla! Bukankah kalian berdua ini bersahabat?" tanya Mirna.
"Nayla merebut Kak Al dari Vita, Bun," jawab Vita.
"Maksudmu?" tanya Mirna yang masih belum paham dengan pernyataan putrinya barusan.
"Aku mencintai Kak Al, Bunda." jawab Vita.
"Lalu apa hubungannya dengan Nayla?" tanya Mirna lagi.
"Ternyata selama ini Kak Al sudah menikah dengan Nayla. Aku tidak bisa menerima itu Bunda. Aku tidak rela, Kak Al menjadi milik Nayla, pokoknya aku tidak rela," jelas Vita.
"Nak, jodoh seseorang itu sudah tertulis bahkan sebelum kita di lahirkan. Jadi kamu harus bisa menerima kenyataan kalau sekarang Alvin sudah menjadi suami Nayla. Bunda yakin, kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Alvin." Mirna mengatakan itu sambil terus membelai rambut putri kesayangannya.
"Tapi aku tetap tidak rela, Bunda. Aku tidak rela kalau Nayla menjadi istrinya Kak Al, apalagi Nayla hanya seorang anak yatim piatu yang tidak jelas siapa keluarganya," Vita masih tetap bersikukuh menganggap Nayla tidak pantas untuk menjadi pendamping Alvin.
"Nak, keluarga Alvin saja tidak keberatan dengan asal usul Nayla, harusnya kamu juga tidak mempermasalahkan asal usulnya. Apalagi Nayla itukan sahabatmu," Mirna berusaha menasehati putrinya itu.
__ADS_1
"Jadi Bunda juga mendukung hubungan Kak Alvin dengan Nayla?!"
"Sayang, kamu harus bisa menerima kenyataan kalau sekarang Alvin dan Nayla adalah suami istri. Dan sebagai sahabat Nayla, seharusnya kamu juga ikut bahagia melihat kebahagiaan yang sedang di rasakan oleh sahabatmu," tutur Mirna panjang lebar. Bukannya mendengarkan penuturan ibunya, Vita malah bangkit dari posisinya berbaring dan menarik tangan ibunya agar segera ke luar dari kamarnya.
"Bunda dan Kak Fandi sama saja, kalian tidak sayang sama Vita." Vita menutup pintu kamarnya setelah berhasil menyuruh ibunya ke luar dari kamar.
"Sayang, Bunda dan Kak Fandi cuma tidak ingin kamu semakin terluka karena obsesimu. Kalau kamu mencintai Alvin, seharusnya kamu bisa bahagia melihat Alvin bersanding dengan siapapun," kata Mirna dari balik pintu.
"Cukup, Bunda! Cukup! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi dari kalian!" teriak Vita dari dalam kamar.
"Baiklah, Sayang. Kamu tenangkan dulu hati dan perasaanmu, semoga saat pikiran dan hatimu sudah tenang, kamu bisa menerima semuanya dengan ikhlas." Mirna meninggalkan kamar putrinya untuk memberikan kesempatan pada putrinya agar bisa berpikir rasional.
"Aku tidak akan pernah ikhlas melihat Kak Alvin bersama dengan Nayla, tidak akan pernah," gumam Vita kesal. Dia bahkan melempar semua barang yang ada di depan meja riasnya ke lantai.
"Bagaimana pun caranya, aku harus bisa mendapatkan Kak Al. Meski aku harus menyingkirkan Nayla dari dunia ini," kata Vita lagi. Dia mengambil foto dirinya bersama dengan Nayla lalu membantingnya ke lantai.
******
(Kediaman Keluarga Hadinata)
Alvin, Nayla dan Nek Murti sudah berkumpul di meja makan, meraka belum memulai makan malamnya karena menunggu kehadiran Sarah.
"Mungkin ibumu itu tidak ingin makan malam bersama kita, lebih baik kita makan saja duluan!" seru Nek Murti.
"Nek, bolehkah Nayla ke kamar ibu?" tanya Nayla seraya meminta izin.
"Nek, bagaimanapun ibu Sarah adalah ibunya Al. Meski bukan dia yang melahirkan Al, tapi dia sudah membesarkan Al," ucap Nayla.
"Ya sudah terserah kamu saja, tapi jika dia mengatakan hal yang tidak-tidak, kamu tinggalkan saja dia dan jangan perdulikan dia lagi!" seru Nek Murti lagi.
"Iya, Nek," jawab Nayla.
"Hati-hati ya Nay, jangan perdulikan apapun yang ibu katakan padamu nanti," Alvin memperingatkan istrinya.
"Iya, Al," jawab Nayla.
Nayla segera bangkit dan berjalan meninggalkan meja makan tersebut.
******
Tok tok tok
Nayla mengetuk pintu kamar mertuanya. Namun tidak ada jawaban dari dalam.
Tok tok tok
__ADS_1
Nayla kembali mengetuk pintu kamar tersebut. "Ibu, ini aku Nayla." Dan lagi-lagi tidak ada sahutan dari dalam kamar. Karena khawatir dan penasaran, Nayla membuka kamar tersebut yang ternyata tidak di kunci dari dalam.
"Bu, ayo kita makan malam! Nenek dan Al sudah menunggu ibu untuk makan!" ajak Nayla saat melihat Sarah berbaring dengan posisi miring.
Nayla berjalan mendekati mertuanya, dia memberanikan diri untuk menyentuh lengan ibunya. Namun dia terkejut ketika tahu kalau ternyata mertuanya itu demam.
"Ibu sakit? Sejak kapan? Kenapa ibu tidak memberitahu kami?" tanya Nayla cemas.
"Tidak usah sok baik, kamu senangkan melihat aku ini sakit?!" jawab Sarah setengah membentak.
"Bukan begitu, Bu. Kalau tahu ibu sakit, aku pasti akan merawat Ibu," ujar Nayla.
"Aku tahu kalian semua membenciku dan berharap terjadi sesuatu kepadaku, iyakan?!" Sarah masih saja berfikiran negatif seperti biasanya.
"Ibu, Alvin tidak pernah sekalipun membenci Ibu. Dia hanya sedikit kecewa terhadap Ibu," ucap Nayla lembut.
"Aku akan bawakan makan malam Ibu ke sini, Ibu tunggu sebentar ya." Nayla kembali ke luar dari kamar mertuanya. Tidak lama kemudian dia datang dengan membawa nasi dengan lauk di atasnya.
Nayla meletakkan nasi tersebut di atas nakas agar bisa membantu mertuanya itu duduk.
"Aku bisa makan sendiri," tolak Sarah saat Nayla hendak menyuapinya.
"Baiklah, aku akan di sini sampai makanan Ibu habis," ucap Nayla. Dia membiarkan mertuanya itu untuk makan sendiri.
"Sebentar, aku ambilkan obat untuk Ibu!" Namun sebelum Nayla beranjak dari tempat itu, Alvin datang dengan membawa segelas air putih dan obat di tangannya.
"Al, Kamu bisa membantu Ibu meminum obatnyakan? Aku akan membawa piring kotor ini ke luar," ucap Nayla.
Nayla segera meninggalkan ibu dan anak itu berdua di dalam kamar.
Alvin membantu Sarah untuk meminum obatnya. Kebencian yang Sarah rasakan tiba-tiba saja memudar saat melihat wajah putra tirinya.
"Ibu istirahatlah! Jika Ibu membutuhkan sesuatu, Ibu bisa memanggilku atau Nayla," ucap Alvin tanpa melihat ke arah ibunya.
Setelah membantu ibunya berbaring, Alvin melangkahkan kakinya untuk ke luar dari kamar. Namun langkahnya terhenti saat mendengar perkataan Sarah.
"Aku telah kalah Rianti, aku kalah," ucap Sarah dengan air mata yang menggenang di kedua pipinya.
🌸Jangan lupa untuk selalu like, komen dan vote ya, Author tunggu🤗🤗
🌸 Baca juga karya sahabat Author yang tak kalah menariknya di bawah ini:
__ADS_1
Tererengkyu😘😘