Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Masa lalu


__ADS_3

"Vita!" panggil Alvin ketika mengetahui orang yang memeluknya adalah Vita.


"Maaf, Vit. Ini kantor dan tidak baik jika sampai di lihat oleh karyawan yang lain." Alvin melepaskan dirinya dari pelukan Vita.


"Maaf, Kak. Aku lupa kalau ini kantor," ucap Vita. Dia melepaskan pelukannya dan mengikuti langkah Alvin masuk ke ruangannya.


"Sejak kapan kamu pulang dari Australia?" tanya Alvin seraya duduk di belakang meja kerjanya.


"Aku baru saja tiba Kak, Al. Aku langsung ke sini karena aku merindukan Kak Al. Sudah 5 tahun aku tidak bertemu dengan Kak Al," kata Vita panjang lebar. "Ohya bagaimana kabar Kak Al selama 5 tahun ini?"


"Aku baik sekarang, walau selamanya hatiku tidak akan pernah baik," jawab Alvin seraya menatap foto Nayla yang ada di depannya.


"Kak, sampai kapan Kakak akan hidup sendiri? Apa Kakak tidak mau mencoba untuk kembali berkeluarga dan hidup bahagia?" tanya Vita lagi.


"Entahlah, Vit. Yang jelas sampai detik ini hanya ada Nayla di dalam hatiku dan aku tidak berniat untuk menggantinya dengan yang lain."


"Kak, Kakak berhak untuk bahagia. Aku yakin Nayla juga menghendaki agar kakak bisa hidup bahagia," ucap Vita sembari menggenggam tangan Alvin.


"Entahlah, Vit. Untuk saat ini aku hanya ingin sendiri," tutur Alvin.


"Ya, sudah kalau itu yang Kak Alvin inginkan untuk saat ini. Aku harap Kakak bisa bertemu dengan orang yang bisa membuat Kak Alvin, kembali bahagia," ucap Vita disertai dengan senyum manisnya. "Ohya, Kak. Aku masih bisa bekerja di perusahaan inikan?"


"Tentu saja."


"Kalau begitu aku pergi dulu ya, Kak. Aku akan menemui Kak Fandi!" pamit Vita.


Vita ke luar dari ruang kerja Alvin dan berjalan menuju ruang kerja kakaknya yang letaknya di sebelah ruang kerja Alvin.


*****


Tok! tok! tok!


Vita mengetuk pintu ruang kerja kakaknya.


"Masuklah!" terdengar suara Fandi yang mempersilahkannya untuk masuk.


"Kakak!" teriak Vita begitu dia membuka pintu tersebut.


"Vita!" panggil Fandi, dia segera menghampiri adiknya itu dan menutup pintu ruang kerjanya.


"Kenapa sih Kak? Kenapa Kakak panik begitu?" tanya Vita saat melihat kepanikan di wajah kakaknya.


"Kenapa kamu kembali?!" tanya Fandi sembari menatap mata adiknya..


"Kak, aku bosan berada di luar negeri. Aku sangat merindukan Kakak dan yang lainnya. Aku juga sangat merindukan Kak Al," jawab Vita.

__ADS_1


"Vit, kamu tahukan alasan kenapa Kakak melarangmu untuk kembali?! Kakak tidak ingin kejadian yang sudah Kakak sembunyikan selama 5 tahun itu terkuak dengan kembalinya dirimu."


Vita berjalan ke arah bangku kosong yang ada di depan meja kerja kakaknya, dengan sangat tenang dia duduk di bangku tersebut.


"Jangan khawatir, Kak. Tidak ada orang yang mengetahui tentang kejadian itu. Aku rasa Nayla yang asli juga sudah meninggal. Jadi Kakak santai saja, oke!" ujar Vita santai.


"Bagaimana jika Nayla ternyata masih hidup?"


"Kak, kalau dia masih hidup, aku yakin dia akan kembali mencari Kak Alvin dan mengungkapkan semuanya kepadanya. Tapi buktinya mana? Sampai sekarang pun tidak ada jejak tentang dirinya."


Fandi terdiam, dia kembali teringat dengan kejadian 5 tahun yang lalu.


Hari itu dia begitu panik saat Vita kembali ke rumah dengan tangan dan baju yang berlumuran dengan darah. Wajahnya nampak pucat karena ketakutan.


Semua anggota keluarga yang melihat itu langsung menghampiri Vita.


"Sayang, kamu kenapa Nak?" tanya Mirna yang panik melihat keadaan anaknya.


"Bunda...Bunda..aku...aku takut Bunda..," jawab Vita dengan terbata. Tubuhnya masih bergetar karena menahan rasa takut.


"Apa yang terjadi padamu, Sayang?" tanya Mirna lagi.


"Aku...aku tidak senagaja membuat mobil Nayla tertabrak Bunda."


Duaarrrrrrr!


"Bagaimana bisa? Lalu bagaimana dengan keadaan Nayla?" tanya Fandi.


"Kak..Nay...Nayla terjatuh ke sungai dan..dan aku tidak tahu bagaimana nasibnya," jawab Vita terbata.


"Apa!!" Fandi begitu shock mendengarnya.


"Kak, aku mohon jangan katakan apapun pada Kak Al kalau aku yang menyebabkan kecelakaan istrinya. Aku mohon Kak!" pinta Vita.


"Tidak, Vit! Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu!" tolak Fandi tegas.


"Kak, apa Kakak tega melihat adik Kakak di penjara?"


"Jika itu memang yang harus terjadi padamu, Kakak rela. Asal itu bisa merubahmu menjadi lebih baik."


"Nak, Bunda mohon tolonglah adikmu! Jika Bunda harus melihat Vita di penjara maka lebih baik Bunda mati saja," Mirna ikutan memohon untuk kebebasan anak permpuannya.


"Bunda, Fandi benar. Vita harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Jika memang tidak sengaja hukuman yang harus di jalani Vita juga pasti sebentar," Surya ikut berbicara.


"Tidak!! Pokoknya jika sampai Vita di penjara maka Bunda akan langsung bunuh diri di depan kalian," ancam Mirna.

__ADS_1


Dengan terpaksa Fandi mengikuti perkataan ibunya. Fandi langsung mencabut laporan keluarga Hadinata dari kantor polisi saat di ketahui kalau mayat yang di temukan bukanlah mayat Nayla. Dia tidak ingin Alvin dan keluarganya tahu kalau Nayla yang asli masih hidup, karena jika itu terjadi pasti penyelidikan akan tetap di lanjutkan dan Vita pasti akan di penjara.


Sejak saat itu tanpa sepengetahuan Alvin, Fandi terus mencari keberadaan Nayla yang asli. Hampir setiap hari dia pergi ke sungai untuk bisa menemukan Nayla. Namun sampai 5 tahun berlalu dia belum juga menemukan Nayla.


"Kak, apa kakak masih tetap mencari Nayla sampai sekarang?" tanya Vita.


Fandi terdiam.


"Sudahlah, Kak. Hentikan pencarian itu! Aku yakin Nayla asli juga sudah meninggal," ucap Vita dari nada bicaranya nampak jelas tidak ada penyesalan pada dirinya soal kejadian 5 tahun yang lalu.


"Kamu berubah Vit, kamu bukan lagi adikku yang pernah aku kenal dulu."


"Jangan lebai deh, Kak. Aku akui aku memang berubah, dan itu karena Nayla telah merebut Kak Alvin dariku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah rela jika Kak Alvin menjadi miliknya atau milik wanita lain."


"Vit, yang kamu rasakan itu bukan cinta tapi obsesi. Dan obsesimu itu telah mencelakakn orang lain."


"Sudahlah, aku malas berdebat dengan Kakak. Lebih baik aku pulang dan bertemu dengan Bunda." Vita bangkit dari posisinya duduk dan berjalan menuju ke arah pintu.


"Ohya, Kak. Mulai besok aku akan kembali bekerja di sini. Dan mulai besok juga aku akan kembali berusaha untuk mendapatkan hati Kak Al," ucap Vita sebelum dia membuka pintu. Vita pun meninggalkan ruang kerja kakaknya.


"Apa aku salah karena aku melindungi dia 5 tahun lalu?" gumam Fandi. Dia tidak pernah habis fikir kalau adiknya yang dulu baik hati dan lembut telah berubah menjadi wanita jahat karena obsesinya terhadap Alvin.


*****


Nadhira, Arvin, dan Hendrawan ketiganya begitu senang setelah acara makan bersama yang mereka lakukan. Ketiganya kini memutuskan untuk pulang ke rumah. Leo yang datang menjemput mereka, segera membukakan pintu untuk ketiga majikannya.


Dengan kecepatan sedang mobil yang di kemudikan Leo berjalan menuju ke rumah Hendrawan. Selama perjalanan mereka bersenda gurau bersama. Namun, Leo begitu terkejut ketika tiba-tiba ada mobil yang menyalipnya. Hampir saja terjadi kecelakaan kalau saja Leo tidak tepat waktu menginjak rem mobil miliknya.


Ciiiiitttt!


Mobil itu berhenti tepat di hadapan sebuah sungai.


"Kamu tidak apa, Sayang?" tanya Hendrawan kepada cucunya yang duduk di sampingnya.


"Tidak Kakek buyut, Ar baik-baik saja," jawab Arvin.


"Syukurlah!" ucap Hendrawan lega.


"Dhira bagaimana dengan dirimu?" tanya Hendrawan kepada cucunya Nadhira.


Nadhira masih terdiam, tiba-tiba sepenggal kejadian muncul di ingatannya. Nadhira berusaha untuk mengingat kejadian itu, namun yang terjadi dia malah merasakan sakit yang hebat di kepalanya.


"Kek, kepalaku sakit! Sakit sekali, Kek!" teriak Nadhira seraya memegangi kepalanya.


"Dhira, Dhira! Apa yang terjadi?" tanya Hendrawan.

__ADS_1


"Leo, kita ke rumah sakit sekarang!" titah Hendrawan. Dia begitu panik saat cucunya Nadhira pingsan.


Leo segera memundurkan mobilnya, setelah mobil itu kembali di atas aspal dia segera melajukannya untuk menuju ke rumah sakit.


__ADS_2