Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Dimana kamu sebenarnya


__ADS_3

Selesai dengan urusannya di kantor polisi, Alvin segera menuju ke perusahaannya. Dan bagitu sampai tempat yang dia tuju adalah ruang kerja Fandi. Dia benar-benar kecewa dengan temannya tersebut.


Bugh.


Alvin melayangkan satu bogem mentahnya kepada Fandi dan membuat temannya itu jatuh tersungkur di lantai.


"Apa-apaan kamu, Al?" tanya Fandi sambil memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.


Vita yang melihat kejadian itu segera menghampiri kakaknya.


"Kau bertanya apa-apaan?!" Alvin menatap geram kepada temannya itu. "Aku sudah mempercayaimu, tapi kamu malah memanfaatkan kepercayaanku."


"Memanfaatkan apa?" tanya Fandi yang memang tidak tahu maksud dari sahabatnya.


"Mayat yang kita makamkan 5 tahun lalu, bukan mayat Naylakan?!"


Tidak hanya Fandi yang terkejut mendengar pernyataan Alvin, tapi juga Vita. Wanita jahat dan licik itu bahkan membelalakkan matanya.


"Al, apa maksudmu?" tanya Fandi, dia berpura-pura tidak mengerti dengan maksud yang di sampaikan oleh Alvin.


"Aku baru saja dari kantor polisi dan aku baru tahu kalau ternyata mayat yang kita kuburkan waktu itu belum tentu mayat Nayla karena tidak di seratai dengan bukti yang jelas," papar Alvin. "Dan satu lagi, kamu mencabut laporan dari kepolisian dengan mengatas namakan aku."


"Al, itu memang mayat Nayla. Aku tidak melakukan tes dna karena aku yakin itu benar-benar mayat Nayla," tutur Fandi.


"Bagaimana kamu bisa yakin kalau itu adalah Nayla?" tanya Alvin dengan memberikan tatapan tajamnya. "Sementara wajahnya tidak dapat di kenali?"


"Al, aku menemukan sesuatu di dekat mayat tersebut."


Fandi mengambil sesuatu dari dalam laci.

__ADS_1


"Aku menemukan ini," ujar Fandi seraya menunjukkan sesuatu yang baru di ambil dari dalam laci.


Barang yang di tunjukkan oleh Fandi adalah sebuah kalung, kalung dengan liontin berbentuk bintang.


Alvin merebut kalung tersebut dari tangan Fandi. Dia menatap kalung itu lekat-lekat.


"Ini .." Alvin tidak melanjutkan kalimatnya.


"Itulah alasan kenapa aku yakin mayat itu adalah mayat Nayla," tambah Fandi.


Alvin menatap Fandi sejenak, kemudian tanpa berkata-kata dia keluar dari ruang kerja temannya tersebut.


Tidak hanya Fandi yang merasa lega, tapi juga Vita. Dia begitu lega karena ternyata kakaknya sudah menyiapkan kemungkinan yang akan terjadi.


"Aku tidak menyangka kalau kakak sudah menyiapkan semuanya." Vita tersenyum pada kakaknya.


"Kamu jangan senang dulu, Vit. Kali ini mungkin kita bisa selamat, tapi bagaimana jika suatu saat Nayla asli muncul."


"Kamu benar-benar berubah. Aku merindukan adikku yang dulu sebelum dia mencintai Alvin," ucap Fandi seraya menatap adiknya.


"Sudah deh Kak. Tidak usah terlalu lebay! Kali ini aku pasti akan bisa mendapatkan Kak Alvin."


Kemudian Vita keluar dari ruang kerja kakaknya.


'Aku sungguh takut terjadi sesuatu padamu, Vit.


Fandi menghela napasnya.


'Apa melindunginya adalah hal yang terbaik?'

__ADS_1


Kini Fandi semakin menyesali perbuatanya.


******


Setelah memukul Fandi tadi, Alvin pergi ke panti asuhan tempat dia dan Nayla bertemu. Dia duduk bersandar pada dinding. Alvin menatap kalung yang dia ambil dari tangan Fandi tadi. Perasaan kehilangan kembali muncul di hati Alvin, kesedihan yang pernah dia rasakan 5 tahun lalu kini menyeruak bersamaan dengan harapan yang sempat timbul.


'Nay, apakah jasad yang aku kuburkan 5 tahun lalu adalah dirimu?'


Drettt Drettt Drettt


Getaran dari ponsel menyadarkannya, Alvin mengambil ponsel yang ada di dalam saku celana miliknya. Dia menatap layar itu dan itu adalah nomor dari detektif yang dia suruh untuk menyelidiki kasus kecelakaan Nayla.


Alvin menarik tombol hijau kemudian menempelkan ponsel itu ke telinganya.


"Pak Alvin, istri Anda kemungkinan masih hidup."


"Apa maksudmu?" tanya Alvin antusias.


Detektif tersebut mulai melaporkan hasil penyelidikannya. Dan dari semua laporan yang dia dengar dapat di simpulkan kalau kemungkinan besar Nayla masih hidup.


"Jika mayat itu bukan mayat Nayla, lalu mayat siapa yang aku makamkan waktu itu?"


"Kemungkinan mayat itu adalah mayat Tasya, karena sejak peristiwa kecelakaan tersebut Tasya menghilang dan sampai sekarang belum di ketemukan," jelas detektif itu.


"Terus selidiki semuanya dan temukan Nayla secepatnya!" titah Alvin.


Setelah mematikan panggilannya, Alvin kembali menatap kalung yang ada di tangannya.


'Nay, jika kamu masih hidup kenapa kamu tidak kembali? Apa yang terjadi padamu, Nay?'

__ADS_1


Alvin menghela napasnya, dia berharap agar semuanya dapat terungkap dan Nayla bisa kembali bersamanya.


__ADS_2