Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Akhir yang bahagia


__ADS_3

Seberkas cahaya datang menghampiri Alvin, Alvin melihat kedua orang tuanya yang sudah meninggal tersenyum kepadanya.


"Ayah, Ibu bolehkah aku ikut dengan kalian?" tanya Alvin kepada kedua orang tuanya.


Kedua orang tua Alvin tersenyum. Alvin hampir saja mengikuti langkah kedua orang tuanya untuk pergi, namun langkahnya terhenti saat dia mendengar suara anak kecil yang memanggilnya.


"Ar ...."


Tiba-tiba seberkas cahaya lain muncul dihadapan Alvin dan membuatnya ikut terseret ke dalamnya.


*****


"Al, kamu sudah sadar?" tanya Nayla saat mendapati jari-jari Alvin yang sudah mulai bergerak.


Setelah selesai operasi tadi, dokter menyatakan kalau Alvin dalam keadaan koma. Dan ini sudah hari ke tiga Alvin masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Sejak saat itu Nayla tidak pernah sedetikpun meninggalkan suaminya. Demikian juga putra kecilnya Arvin. Bocah kecil itu terus menemani bundanya untuk menjaga Sang ayah.


"Al, bangunlah! Sampai kapan kamu akan tidur seperti ini?" Nayla terus menggenggam tangan suaminya.


"Ayah, bangunlah. Saat ayah bangun nanti, Ar akan bilang kalau Ar sangat menyayangi ayah!" janji Arvin kepada ayahnya.


"Kalau begitu katakan sekarang!"


Nayla dan Arvin terkejut mendengar suara itu, mereka langsung menoleh ke arah sumber suara dan alangkah bahagianya mereka saat melihat Alvin sudah siuman bahkan sudah tersenyum di hadapan mereka.


"Al," panggil Nayla dengan air mata yang teburai di kedua pipinya.


"Ayah," kini giliran Arvin yang memanggil ayahnya.


"Ayah bahagia bisa melihat kalian berdua lagi," ucap Alvin seraya menarik istri dan anaknya ke dalam pelukan.


"Aku juga sangat senang Al, aku kira aku akan kehilanganmu," ucap Nayla.


"Mana mungkin aku tega meninggalkan kalian," jawab Alvin. "Selain itu bukankah kita belum memberikan adik untuk Ar."


"Dasar mesum," Nayla mencubit pinggang suaminya.


"Aw," ringis Alvin.


"Maafkan Aku, Al. Mana yang sakit?" tanya Nayla cemas, dia melihat bekas cubitannya pada pinggang Alvin.


"Aku tidak akan merasakan sakit, saat bersama dengan kalian," ucap Alvin.

__ADS_1


"Arvin sayang Ayah," ucap Arvin.


"Ayah juga sangat menyayangi Ar."


Alvin begitu bahagia bisa bersama dengan kedua orang yang dia cintai dan sayangi.


Setelah menjalani perawatan selama satu minggu, akhirnya Alvin di perbolehkan untuk pulang.


Alvin tiba di rumahnya pukul 14.00 wib, seluruh anggota keluarga dan juga anak-anak asuh Bu Retno ikut menyambutnya. Mereka mengadakan sebuah pesta kecil untuk merayakan kepulangan Arvin.


"Kek, mulai sekarang aku dan Ar boleh tinggal bersama dengan Alvin--kan?" tanya Nayla dengan hati-hati.


Hendrawan terdiam, cukup lama dia memikirkan permintaan cucunya.


"Baiklah, Kakek percaya Alvin akan bisa menjaga kalian berdua," jawab Kakek Hendrawan.


"Terimakasih, Kek."


"Tapi berjanjilah, kamu akan sering mengunjungi Kakek!"


"Tenru saja, Kek," jawab Nayla.


"Kakek percaya kamu pasti akan bisa menjaga mereka berdua lebih baik di banding Kakek."


Kakek Hendrawan memegang bahu Alvin.


"Sekali lagi terimakasih Kek atas kepercayaannya."


Hari itu menjadi hari yang membahagiakan bagi keluarga Hadinata, terutama bagi keluarga kecil Alvin dan Nayla.


******


Satu minggu kemudian ....


Nayla dan Alvin memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama hari ini. Rencanya mereka ingin menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Namun sebelum itu, Nayla dan Alvin ke kantor polisi untuk menjenguk Fandi dan keluarganya, disanalah kedua orang tua Fandi menyampaikan permintaan maafnya kepada Nayla.


"Nay, maafkan Kami. Maafkan juga Vita!" pinta Mirna (ibu Fandi dan Vita).


"Aku memang kecewa dengan sikap kalian terutama Kak Ifan. Tapi sebagai manusia aku akan belajar untuk memaafkan, walau itu sulit. Aku tidak ingin menyimpan kebencian di dalam hati. Karena sejatinya, kebencian itu hanya akan membuat hidup kita tidak tenang," tutur Nayla panjang lebar.


"Terimakasih ya, Nay," ucap Mirna.

__ADS_1


Nayla mengangguk.


"Al ...." Fandi memanggil nama sahabatnya. "Aku juga mau minta maaf padamu, karena aku telah memanfaatkan kepercayaanmu. Maafkan aku, Al!"


Fandi menundukkan kepalanya.


"Aku memang kecewa dan marah padamu, tapi sama seperti yang Nayla bilang. Aku akan belajar untuk memaafkan dan juga mengikhlaskan segala perbuatanmu."


"Terimakasih, Al!" ucap Fandi.


Keluar dari kantor polisi, kini Nayla dan Alvin pergi untuk melihat keadaan Vita di rumah sakit jiwa.


Begitu sampai dari kejauhan mereka melihat Vita yang sedang menjerit histeris, kadang dia juga tertawa.


"Kasihan ya Vita, hanya karena obsesinya terhadap dirimu dia jadi seperti itu," ucap Nayla.


"Semoga dia segera di beri kesembuhan dan segera bertaubat," sahut Alvin.


"Semoga."


*****


"Ayah, Bunda kenapa lama?" tanya Arvin.


"Maafkan kami ya, Sayang." Alvin dan Nayla sama-sama mengucapkan kata itu.


"Sekarang kita mau kemana?" tanya Alvin.


"Aku ingin ke wahana bermain," jawab Arvin bersemangat.


"Sesuai permintaan Yang Mulia," jawab Alvin yang langsung melajukan mobilnya.


Mereka bertiga tampak begitu bahagia.


🍀🍀🍀🍀


Jangan jadikan cintamu sebagai tujuan, karena akan berubah menjadi obsesi.


Jadikanlah cintamu sebagai sesuatu yang bisa menyenangkan orang lain, terutama bagi orang yang kamu cintai.


\-\-\- END \-\-\-\-

__ADS_1


__ADS_2