Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Isi hati Vita


__ADS_3

Hendrawan, yang tak lain adalah pemilik perusahaan ADITAMA corp. termenung di ruangnya. Tangannya masih memegang laporan yang di berikan oleh Nayla barusan.


Dia mulai membuka laporan tersebut dan mulai membacanya. Hendrawan begitu puas membaca laporan yang di berikan oleh Nayla tadi.


"Gadis itu begitu mirip dengan Fitri, aku harus menyelidikinya," batin Hendrawan.


Hendrawan meletakkan laporan yang di berikan oleh Nayla tadi di atas meja. Dia segera mengangkat gagang telpon di depannya dan mulai menghubungi seseorang.


"Leo, datanglah ke ruanganku!" titahnya kepada sang asisten melalui sambungan telepon. Tidak salah, orang yang Hendrawan hubungi adalah asistennya, Leo.


Tidak lama berselang, Leo sudah berdiri tepat di hadapan Pak Hendrawan.


"Leo, kamu hubungi Pak Alvin dan bilang kepadanya, kalau kita bersedia bekerja sama dengan perusahaan miliknya!" seru Hendrawan.


"Baik, Pak," jawab Leo, "Tapi kenapa Bapak tiba-tiba berubah pikiran?"


"Tidak apa-apa, kamu lakukan saja perintahku!" jawab Hendrawan.


"Baik." Leo pun segera ke luar dari ruang bosnya tersebut.


*****


Nayla tiba kembali di perusahaan Grup H saat jam makan siang telah usai. Dia memegangi perutnya yang merasa kelaparan.


"Padahal perutku sudah lapar, tapi sudah tidak ada waktu lagi untuk makan. Sudahlah, aku harus menahannya sampai pulang kerja nanti," gumam Nayla.


Dia kembali berjalan untuk menuju ke ruangannya. Nayla begitu terkejut saat ada orang yang menarik tangannya.


"To.."


"Husssttt," orang itu meletakkan jari telunjuknya di bibir Nayla.


Nayla langsung bernapas lega saat tahu yang menarik tangannya adalah Alvin.


"Ya ampun, Al. Aku kira siapa tadi? hampir saja aku berteriak," ucap Nayla sambil mengelus dadanya.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu terkejut."


Alvin membawa Nayla naik ke atap gedung.


"Kenapa kamu membawaku kemari?" tanya Nayla pada suaminya.


"Aku tahu kamu belum makan siang tadi, jadi aku membelikannya untukmu," jawab Alvin sambil menunjukkan makanan yang dia bawa. Dia mengajak istrinya itu untuk duduk di salah satu sudut di atap tersebut.


Alvin membuka makanan yang dia bawa, kemudian dia mulai mengambil sendok dan mulai menyuapi istrinya.


"Al, aku bisa makan sendiri,"


"Tidak! Aku yang akan menyuapimu," tolak Alvin. Alvin kembali menyuapi istrinya.

__ADS_1


"Ohya, barusan Pak Hendrawan menelponku. Dan dia bersedia melakukan kerjasama dengan perusahaan kita," kata Alvin memberitahu.


"Syukurlah kalau begitu, jadi tidak sia-sia aku menemuinya," jawab Nayla yang di sertai senyum manisnya.


"Terimakasih ya, Sayang. Semua itu tidak akan mungkin terjadi, jika kamu tidak memaksakan diri untuk menemui Pak Hendrawan," ucap Alvin.


"Kamu adalah suamiku, jadi sudah seharuanya aku membantumu. Selain itu, bukankah laporan itu juga menjadi tanggung jawabku. Kalau aku tidak ceroboh, kamu pasti sudah mendapatkan kerjasama itu dengan mudah," tutur Nayla.


"Sudah Al, aku sudah kenyang!" Nayla menjauhkan sendok yang akan Alvin suapkan kepadanya.


Alvin meletakkan sendok di tangannya, kemudian dia memberikan botol air mineral kepada Nayla.


"Terimakasih ya, Al," ucap Nayla.


Nayla hendak bangkit dari tempatnya duduk, tapi dengan cepat Alvin menahannya.


"Al, aku harus kembali ke ruanganku. Aku tidak mau Vita dan Mbak Kian mencariku,"


"Aku akan membiarkanmu pergi setelah kamu memberiku hadiah,"


"Hadiah?! Hadiah apa?" tanya Nayla bingung.


Alvin menarik wajah Nayla agar tepat menghadap ke arahnya. Perlahan Alvin mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya. Namun saat tinggal beberapa senti bibir mereka hampir menempel, Nayla menahan bibir itu dengan jarinya.


"Tidak di sini Al. Aku akan memberikannya ketika sampai di rumah," ucap Nayla dengan menatap kedua mata suaminya, "Oke!"


Alvin memegang pipinya seraya tersenyum, dia terus menatap punggung Nayla yang semakin menjauh.


*****


Nayla terus saja tersenyum, meskipun dia sudah sampai di ruangannya. Dan sikapnya itu membuat Kian dan Vita bertanya-tanya.


"Nay, aku lihat kamu bahagia banget hari ini? Apa gerangan yang membuatmu bahagia?" tanya Kian yang meresa penasaran.


"Aku memang sedang bahagia Mbak," jawab Nayla. "Tapi maaf aku belum bisa membaginya dengan kalian berdua."


"Siapa juga yang ingin tahu," gumam Vita. Dia merasa jengah dengan kebahagian yang sedang di rasakan oleh temannya itu.


"Lihat saja, suatu hari nanti aku pasti bisa membuat senyum di wajahmu itu menghilang," kata Vita dalam hati.


"Vit, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Nayka kepada temannya.


"Bicaralah, Nay!" seru Vita dengan senyum palsunya. Nayla menatap ke arah Kian.


"Aku akan menemui Pak Fandi sekarang," ucap Kian. Dia mengerti kalau Nayla ingin berbicara empat mata dengan Vita. Kian meninggalkan tempat itu untuk memberi kesempatan kepada ke dua sahabat itu berbicara.


"Vit, apa maksudmu melakukan itu?" tanya Nayla yang langsung to the point.


"Melakukan apa? Aku tidak mengerti dengan maksud ucapanmu," jawab Vita yang mencoba untuk berkilah.

__ADS_1


"Vit, aku tahu kamulah orang yang telah menyabotase laporanku tadi." Nayla memberikan tatapan tajamnya kepada Vita.


"Kenapa Vit?" tanya Nayla lagi. Vita meletakkan bolpoin yang dia pegang. Kini dia membalas tatapan tajam yang di berikan Nayla kepadanya.


"Kau ingin tahu kenapa?"


Nayla mengangguk.


"Karena aku membencimu Nayla, bahkan sangat dan sangat membencimu!" Vita menjawabnya penuh penekanan.


"Kenapa Vit?" tanya Nayla lagi.


"Karena Kak Alvin mencintaimu. Dan karena kamu juga mencintai dia," jawab Vita yang kali ini dengan suara yang agak keras.


"Vit, aku..."


"Aku melihat kalian berciuman waktu itu, waktu kamu di ruangan Kak Alvin. Sejak saat itu aku benar-benar membencimu," Vita menatap Nayla sinis. "Dan sejak itu juga, aku sudah tidak menganggapmu sebagai sahabatku. Bahkan jika bisa, aku ingin menyingkirkanmu dari dunia ini," tambah Vita.


"Vit, selama ini aku mengira kalau kamu menganggap Alvin sebagai kakakmu. Aku tidak pernah tahu kalau kamu mencintai dia."


"Sekarang kamu sudah tahu kan? Apa kamu akan menyerahkan Kak Alvin untukku?!"


"Vit, aku.."


"Cukup, Nay!" Vita menarik napas kemudian menghembuskannya, dia kembali menatap Nayla dengan tatapan tajamnya. "Aku akan pastikan, kalau aku akan merebut Kak Alvin darimu. Aku akan membuatmu tampak buruk di matanya. Lihat saja!" ancam Vita.


Vita langsung pergi keluar dari ruangan itu. Nayla hanya bisa menghela napasnya berat.


"Nay, apa yang terjadi? Aku lihat sepertinya Vita marah besar?" tanya Kian yang baru saja kembali masuk.


"Iya, Mbak Vita marah padaku," jawab Nayla.


"Apa ini soal Alvin?" tanya Kian dengan hati-hati. Nayla mengangguk.


"Sebenarnya aku sudah tahu tentang kalian berdua. Aku beberapa kali memergoki kalian sedang...sedang..." Kian tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya memberinya kode dengan menempelkan kedua jari telunjuknya.


"Nay, kamu tidak perlu memikirkan Vita. Dia hanya belum bisa menerima kenyataan, kalau kamu dan Alvin saling mencintai. Aku yakin, cepat atau lambat dia akan mengerti dengan hubungan kalian. Jadi tidak usah terlalu di ambil pusing, lagian selama ini yang aku tahu, Alvin hanya menganggap Vita seperti adiknya. Dia memanjakan Vita sama separti Fandi memanjakannya." tutur Kian.


"Terimakasih ya, Mbak. Sekarang aku bisa sedikit lebih tenang," ucap Nayla.


"Sekarang, saatnya kita fokus dengan pekerjaan kita!" kata Kian menyemangati dirinya sendiri dan Nayla.


"Semangat!" Nayla mengepalkan tangannya dan mengayunkannya ke udara.


# **Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dengan like, komen dan vote ya. Author tunggu🤗🤗


# Baca juga karya keceh di bawah ini😁👍**:


__ADS_1


__ADS_2