
Wajah Sarah nampak pucat saat kembali ke rumahnya. Tadi pagi dia meminta ijin kepada ibu mertuanya untuk pergi ke luar rumah sebentar. Dan sekarang saat kembali, dia seperti orang yang ketakutan.
"Kamu kenapa?" tanya Nek Murti melihat ketakutan di mata menantunya.
Nek Murti membawakan air putih untuk menantunya. Dia merasa khawatir dengan keadaan Sarah yang terlihat seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang mengerikan.
"Minumlah!" Nek Murti menyodorkan segelas air putih kepada menantunya tersebut.
Dengan cepat Sarah menyahut gelas yang ada di tangan ibu mertuanya itu, dia langsung menenggak isi yang ada di dalamnya dengan cepat.
"Sebaiknya kamu istirahat saja, sepertinya kamu sedang tidak sehat!" seru Nek Murti kepada menantunya.
Sarah pun menuruti perintah ibu mertuanya, dia langsung masuk ke dalam kamar miliknya.
******
Nek Murti, Sarah, dan ibu Retno berbondong-bondong datang ke rumah sakit. Mereka begitu panik saat mendapat kabar kalau mobil yang Nayla tumpangi mengalami kecelakaan.
"Dokter, di mana pasien yang mengalami kecelakaan mobil tadi pagi? Bagaimana keadaannya?" tanya Nek Murti.
"Dengan sangat menyesal saya harus mengatakan kalau dua orang yang berada di dalam mobil tersebut meninggal di tempat. Satu orang laki-laki berusia sekitar 40-50 tahun. Dan satu lagi seorang wanita berusia sekitar 21 tahun," jelas sang dokter.
Nek Murti, Ibu Retno dan juga Sarah langsung histeris mendengarnya. Bahkan Ibu Retno langsung jatuh tak sadarkan diri mendengar kabar tersebut. Apalagi saat dokter mengatakan kalau wajah dari perempuan yang meninggal tersebut sudah tidak bisa di kenali. Tapi dari identitas beserta pakaian yang di gunakan bisa di simpulkan kalau wanita yang menjadi korban dalam kecelakaan itu adalah Nayla.
*****
Semua anak-anak penghuni panti KASIH BUNDA datang melayat ke kediaman Hadinata. Mereka masih tidak percaya kalau kakak terkasih mereka sudah pergi meninggalkan mereka.
"Anak-anak, doakan kakak Nay ya semoga dia di tempatkan di tempat yang terbaik di sisiNYA dan di ampuni segala kesalahannya!" seru Ibu Retno keada anak-anak pantinya.
"Aku tidak ingin Kak Nay pergi meninggalkan Cia, Cia sayang sama kakak Nay," ucap gadis kecil yang bernama Cia.
Gadis kecil itu masih terus menangis sambil memeluk jasad Nayla yang sudah di tutup dengan kain penutup.
"Cia Sayang, Cia menyayangi Kakak Nayla kan?" tanya Vita yang baru saja datang. Dia berusaha untuk ikut membujuk Cia yang tidak mau berhenti memeluk jasad Nayla.
Cia si gadis kecil itupun mengangguk pelan.
"Jika kamu menyayangi Kakak Nayla, kamu tidak boleh terus menangisinya," ucap Vita.
Cia kembali mengangguk, akhirnya dia mau melepaskan pelukannya terhadap jasad Nayla yang sudah terbujur kaku.
Alvin yang baru saja kembali langsung berlari dan memeluk tubuh istrinya. "Nay, kenapa kamu secepat ini pergi meninggalkan aku. Padahal baru semalam kamu mengatakan padaku akan selalu menungguku. Bangun Nay, jangan tinggalkan aku!" teriak Alvin sambil berusaha mengguncang-guncangkan tubuh istri yang dia peluk.
"Al, jangan seperti ini. Kamu harus bisa mengikhlaskan kepergian Nayla," Nek Murti berusaha membujuk cucu kesayangannya.
"Nek, sejak kecil Nayla selalu menunggu untuk aku nikahi. Tapi kenapa dia tidak mau menungguku selama 5 hari? Harusnya aku tidak pergi!"
"Al, jangan bicara seperti itu kamu harus bisa mengikhlaskannya!" seru nek Murti sekali lagi.
__ADS_1
"Al, bersabarlah!" seru Fandi seraya menyentuh bahu temannya tersebut. "Aku yakin. Nayla tidak akan suka melihatmu seperti ini."
Akhirnya prosesi pemakaman Nayla berjalan dengan lancar, tanpa ada satu pun kendala. Semua yang hadir di prosesi pemakan tersebut akhirnya kembali ke rumah masing-masing.
*****
Di tempat lain..
"Dokter, bagaimana keadaan cucuku?" tanya seorang laki-laki paruh baya.
"Luka di wajahnya sangat parah, dia harus melakukan operasi untuk mengembalikan wajahnya."
"Lakukan saja Dokter, berapa pun biayanya tidak jadi persoalan untukku," jawab laki-laki paruh baya itu lagi.
"Ada satu lagi yang harus Anda ketahui, wanita itu saat ini sedang mengandung dan usia kandungannya sekitar 5 minggu," Dokter itu memberitahu.
"Selamatkan keduanya, selamatkan cucu dan juga cucu buyutku!" serunya.
"Baik Tuan, kami akan memberikan perawatan yang terbaik terhadap cucu Anda."
Dokter itu pun segera kembali ke ruangannya.
"Leo, apa kamu sudah tahu penyebab cucuku mengalami kecelakaan?" tanya laki-laki itu kepada tangan kanannya.
"Menurut penyelidikan kecelakaan itu seperti sudah di rencanakan," jawab Leo.
"Ohya, Pak. Apa kita akan memberitahu kepada Tuan Alvin tentang kabar ini?" tanya Leo lagi.
"Baiklah, jika begitu aku akan biarkan mereka menganggap kalau orang yang mereka kebumikan adalah Nayla," ucap Leo.
*****
Tujuh hari sejak kematian Nayla, Alvin berubah menjadi sosok yang pendiam dan pemarah.
Dia selalu mencaci semua karyawannya tanpa sebab. Dan setiap Fandi berusaha mengingatkan, dia selalu pergi meninggalkannya.
Hampir setiap hari, Alvin selalu datang ke panti asuhan yang menjadi awal mula pertemuannya dengan Nayla dulu.
Karena merasa khawatir dengan kondisi mental cucunya, Nek Murti membawa cucunya itu ke luar negeri.
*****
5 tahun kemudian...
Ciiittt!
Sebuah mobil berhenti mendadak ketika ada anak kecil yang tiba-tiba berlari ke arah jalan raya. Sang pemilik mobil, segera turun dan menghampiri anak tersebut.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya laki-laki pemilik mobil tersebut.
__ADS_1
Dengan wajah ketakutan anak itu menggelengkan kepalanya.
"Dimana orang tuamu?" tanya laki-laki itu lagi.
"Ar! Ar!" suara seorang wanita memanggil nama seseorang.
Anak kecil yang hampir tertabrak itu, langsung berlari ke arah sumber suara.
"Bunda." Anak kecil itu berlari memeluk wanita yang memanggilnya Ar.
"Sayang kemana saja kamu?"
Laki-laki yang hampir menabrak anak kecil tersebut, terkesip saat mendengar suara yang tidak asing baginya. Suara yang hampir 5 tahun ini dia rindukan.
"Nayla!" panggil laki-laki itu.
Wanita itu menoleh ke arah orang yang memanggilnya Nayla.
"Maaf, namaku bukan Nayla. Namaku Nadhira. Ini putraku Arvin," wanita bernama Nadhira memperkenalkan diri.
"Maaf, suaramu mengingatkan aku dengan almarhumah istriku," ucap Alvin.
"Namaku Alvin," Alvin mengulurkan tangannya.
"Senang bisa berkenalan denganmu Alvin," ucap Nadhira seraya membalas uluran tangan Alvin.
"Maaf ya Al, aku dan putraku ada urusan. Permisi!" pamit Nadhira.
Alvin masih setia menatap kepergian Nadhira dan anaknya yang semakin menjauh.
"Seandainya Nayla masih hidup, apakah aku juga akan memiliki anak yang sebesar dia?" gumam Alvin.
Alvin kembali menaiki mobil sportnya dan meninggalkan tempat itu.
*****
Di kediaman Hadinata..
Semua orang sudah tidak sabar menunggu kedatangan Alvin. Karena ini adalah pertama kalinya Alvin kembali pulang ke kediaman tersebut setelah kematian Nayla.
Sarah dan Nek Murti begitu bahagia saat dari kejauhan mobil orang yang mereka tunggu sudah nampak terlihat dan semakin mendekat ke arah mereka.
"Al, akhirnya kamu kembali juga ke rumah ini," sapa Nek Murti saat cucu kesayangannya telah sampai dan turun dari mobilnya.
"Apa kabar, Nek?" sapa Alvin sambil memeluk nek Murti.
"Nenek senang karena akhirnya kamu mau kembali ke rumah."
"Al, ibu juga senang karena kamu telah kembali," ucap Sarah.
__ADS_1
"Al, tidak akan kemana-mana lagi. Al, akan disini mulai sekarang," jawab Alvin.
Alvin, berjalan memasuki rumah besarnya yang sudah 5 tahun tidak pernah dia kunjungi. Ada perasaan sesak yang dia rasakan saat mengingat kematian istrinya Nayla.