
Jam 10 siang, Alvin dan Fandi sudah bersiap untuk bertemu investor baru. Mereka membawa rincian laporan yang akan mereka tunjukkan kepada orang yang akan berinvestasi tersebut. Namun mereka tidak sadar kalau laporan yang mereka bawa adalah laporan buatan Vita yang sengaja dia buat untuk bisa menjatuhkan nama Nayla dan juga Tasya.
Alvin dan Fandi sudah menunggu Tuan Hendrawan yang tak lain adalah direktur dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang investasi. Perusahaan yang di beri nama ADITAMA corp. ini memang bergerak di bidang pembiayaan, terutama pembiayaan untuk proyek-proyek besar. Perusahaan ini sangat terkenal baik di dalam maupun luar negeri. Hendrawan adalah seorang laki-laki berumur sekitar 60 tahunan. Dia terkenal sangat selektif dalam menjalin kerjasama dengan berbagai perusahaan. Tidak sembarangan perusahaan yang bisa menjadi partner kerjanya.
Setelah kurang lebih 10 menit mereka menunggu, akhinya Pak Hendrawan datang bersama dengan asistennya.
Tanpa basa-basi asisten dari Pak Hendrawan meminta Alvin untuk menunjukkan laporan tentang proyek yang menjadi kesepakatan kerjasama mereka. Alvin menyerahkan laporan yang dia bawa kepada asisten Pak Hendrawan tersebut.
Laki-laki berumur itu mulai membaca berkas laporan yang Alvin berikan. Tapi dia kemudian menatap Alvin dan laporan di tangannya bergantian. Alvin yang mendapatkan reaksi tersebut merasa bingung.
Pak Hendrawan menyerahkan kembali laporan itu kepada Alvin. "Sepertinya, Pak Alvin harus mengoreksi semua laporan tersebut."
Alvin membaca berkas laporan yang di kembalikan oleh Pak Hendrawan, dia juga terkejut saat membaca laporan itu. Karena laporan itu tidak sesuai dengan keinginannya.
"Pak, maaf sepertinya ada sedikit kekeliruan disini. Aku akan memperbaikinya dengan cepat," kata Alvin yang berusaha untuk kembali meyakinkan calon rekan bisnisnya tersebut.
"Saya betul-betul kecewa dengan Pak Alvin. Laporan ini tidak sesuai dengan berkas yang Pak Alvin kirim lewat email kemarin," kata Hendrawan.
"Dengan berat hati aku membatalkan kerjasama kita Pak Alvin." Pak Hendrawan langsung bangkit dari tempatnya duduk saat ini, "Ayo, Leo kita pergi dari sini!"
Pak Hendrawan dan asistennya pergi meninggalkan Alvin dan Fandi.
"Ada apa dengan laporannya Al?" tanya Fandi bingung. Alvin menunjukkannya kepada Fandi laporan yang saat ini ada di tangannya.
"Siapapun pasti tidak akan mau bekerjasama dengan kita, kalau hitung-hitungannya seperti ini," ucap Fandi berkomentar.
"Tunggu! Inikan laporan buatan Nayla, aku rasa ada yang sudah menyabotase laporan itu. Karena tidak mungkin, Nayla membuat laporan seperti itu!"
Alvin langsung mengambil laporan itu dari tangan Fandi. "Aku tahu siapa yang melakukannya," ujar Alvin. Dia segera meninggalkan ruangan itu.
*****
"Apa yang kamu lakukan dengan laporan ini?!"
Alvin melemparkan laporan yang dia bawa ke meja milik Tasya. Tasya yang merasa bingung lansung mengambil berkas yang Alvin lempar barusan. "Al, aku tidak tahu apa-apa soal ini," Tasya yang memang tidak tahu menahupun berusaha membela diri.
"Jadi kamu ingin bilang, kalau Naylalah yang melakukan kesalahan?!" bentak Alvin.
"Bukan begitu maksudku.."
"Ternyata aku salah telah mengijinkanmu bekerja di sini, sekarang juga kamu aku pecat!"
__ADS_1
"Al, tolong beri aku kesempatan! Aku yakin ada yang salah dengan ini!" pinta Tasya dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Keluar dari perusahaanku, sekarang!" Suara Alvin menggelegar bahkan hampir terdengar keseluruh ruangan.
Nayla, Kian dan Vita segera masuk ke ruangan Tasya, ketika mendengar teriakan barusan.
"Sungguh Al, bukan aku yang membuatnya," Tasya berusaha membela diri.
Nayla menghampiri Alvin dan mengambil berkas yang Alvin lempar ke arah Tasya. Dia melihat berkas tersebut.
"Pak Al, bukankah ini laporan yang aku buat tadi pagi?" tanya Nayla.
"Jadi kamu yang membuatnya?" tanya Alvin yang kini berganti menatap Nsyla.
"Memang aku yang membuatnya, hanya saja nominal di dalamnya sudah berubah dan tidak sama dengan yang aku buat," jelas Nayla.
"Tapi aku tidak pernah menerima laporan tersebut dari tangan Nayla. Al, aku masih mmbutuhkan pekerjaan ini, lalu bagaimana mungkin aku sengaja membuat kesalahan," Tasya kembali berusaha membela dirinya.
"Tentu saja kamu melakukan itu untuk menyingkirkan Nayla, bukankah kamu ingin kembali dengan Kak Alvin?" timpal Vita.
Dia menatap Tasya dan menunjukkan senyum smirknya kepada mantan kekasih Alvin tersebut.
"Sial, jadi bocah ini yang sengaja ingin menjebakku?! Rupanya anak ingusan ini mau main-main denganku," gumam Tasya.
"Tidak usah Nay, lagian orangnya juga sudah pergi," jawab Alvin.
"Biar aku datang ke perusahaan miliknya. Aku akan coba memberikan penjelasan padanya," tambah Nayla lagi.
"Sebenarnya tidak masalah, jika kita tidak jadi bekerja sama dengan perusahaan itu. Hanya saja aku paling tidak suka dengan orang yang bermain-main mengenai pekerjaannya," jelas Alvin.
"Al, tapi aku rasa bukan Tasya yang melakukannya." sela Fandi. Dia berjalan menghampiri sahabatnya itu.
"Mungkin ada orang lain yang sengaja ingin membuat Tasya di pecat dari pekerjaannya," tambah Fandi. Seketika Nayla menatap ke arah Vita, dia ingat betul kalau dia memberikan laporan itu kepada Vita.
"Apa maksudmu?" Alvin meminta penjelasan dari Fandi.
"Tasya tidak mungkin rela kehilangan kesempatan untuk tetap berada di perusahaan ini. Jika dia sengaja melakukan kesalahan, bukankah dengan cepat kamu akan mengetahuinya? Jadi tidak mungkin dia sengaja melakukannya," ujar Fandi.
Alvin membuang napasnya, kemudian dia kembali menatap ke arah Tasya.
"Sudahlah aku tidak jadi memecatmu," ucap Alvin.
__ADS_1
" Terimakasih, Al," ucap Tasya.
Alvin, Fandi dan yang lainnya berjalan meninggalkan Tasya dan kembali keruangan kerja mereka masing-masing.
"Mau kemana kamu?" Tasya menahan tangan Vita saat gadis itu ingin meninggalkan ruang kerjanya.
"Tentu saja kembali bekerja mau apa lagi," jawab Vita santai. "Aku tahu, semua ini perbuatan kamukan?" tanya Tasya dengan memberikan tatapan tajamnya kepada Vita.
"Iya, aku yang melakukannya," ucap Vita, dia membalas tatapan Tasya dengan tak kalah tajamnya.
"Aku akan bilang ke Alvin, kalau itu semua adalah perbuatanmua."
"Bilang saja! Aku yakin Kak Alvin tidak akan percaya dengan ucapanmu itu," Vita menghempaskan tangan Tasya kasar, "Jadi jangan pernah kamu mencoba bernegosiasi denganku." imbuh Vita, dia pun keluar dari ruang kerja Tasya.
"Awas kamu Vita, aku pasti akan membuat perhitungan denganmu?!" gumam Tasya.
*****
Nayla membatalkan makan siangnya bersama Alvin. Dia memberitahu Alvin, kalau saat ini dia sedang mendatangi perusahaan ADITAMA corp. Nayla ingin memberikan penjalasan kepada direktuk perusahaan itu.
Nayla berdiri tepat di depan perusahan ADITAMA corp. Dia segera melangkahkan kakinya masuk menuju ke perusahaan itu.
Hal yang pertama Nayla lakukan adalah mendekati meja resepsionis.
"Mbak, bisa saya bertemu dengan direktur perusahaan ini?" tanya Nayla begitu dia berada tepat di depan meja resepsionis tersebut.
"Apa mbak sudah membuat janji dengan Pak direktur?" tanya pegawai tersebut, dengan cepat Nayla menggelengkan kepalanya.
"Maaf Mbak, kalau begitu Anda tidak bisa menemui beliau."
"Begitu ya? Ya sudah Mbak, terimakasih," ucap Nayla.
Nayla melangkahkan kakinya meninggalkan meja resepsionis. Sebenarnya dia kecewa karena tidak bisa bertemu dengan direktur perusahaan tersebut, karena itu artinya dia tidak bisa membantu suaminya.
"Pak," sapa sang resepsionis saat bosnya keluar dari ruangannya. Mendengar resepsionis itu memnaggil Pak, Nayla segera berbalik dan menghampiri orang itu.
"Pak, bisa kita bicara!" sela Nayla, orang yang di panggil Pak itu segera menghentikan langkahnya. Dia menatap Nayla dari atas hingga bawah.
"Siapa kamu?" tanya orang itu.
"Saya adalah karyawan dari perusahaan grup H," jawab Nayla. "Ini adalah laporan yang seharusnya di berikan kepada Anda, saya harap setelah membaca laporan itu Bapak bisa merubah keputusan Anda. Permisi!" tutur Nayla dengan cepat, setelah memberikan berkas di tangannya, Nayla segera pergi meninggalkan perusahaan itu.
__ADS_1
Orang itu masih diam terpaku saat melihat wajah Nayla, wajah yang mengingatkan dia akan seseorang.
"Kenapa gadis itu begitu mirip dengan Fitri?"