Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Bonchap #3


__ADS_3

"Istri Anda ...."


"Istri saya kenapa Dok?" tanya Alvin lagi.


"Dengan sangat menyesal kami harus menyampaikan kalau istri Anda dalam keadaan kritis. Benturan di kepalanya mengakibatkan cidera yang sangat parah. Jika dia bisa melewati masa kritisnya, dia akan selamat. Tetapi... jika tidak, kemungkinan terburuk bisa saja terjadi." Dokter yang menangani Nayla menjelaskan.


Alvin tampak syok mendengar penjelasan dari dokter. Otaknya seakan tidak bisa lagi untuk berpikir. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya dan hidup kedua anaknya tanpa Nayla. Alvin menyerahkan putri yang baru di lahirkan Nayla kepada Sarah.


"Ya Tuhan, kenapa begitu banyak cobaan yang harus kami hadapi untuk meraih kebahagiaan. Kami baru saja bersatu setelah sekian lama berpisah. Dan sekarang keadaannya kritis. Tuhan, tolong selamatkan Naylaku, ijinkan aku untuk membahagiakan dia. Ijinkan keluarga kecil kami bahagia, kami mohon!" pinta Alvin di sela isak tangisnya.


Alvin adalah orang yang sangat kuat. Tapi, dia akan sangat lemah jika itu menyangkut Nayla-nya. Bagi Alvin, Nayla dan anak-anaknya adalah sumber kekuatan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Jika salah satu sumber itu pergi, maka dia pasti akan menjadi sangat lemah.


"Al, Nayla pasti sadar, dia pasti akan bangun demi kamu dan demi anak-anak kalian," ucap Sarah. Dia mengusap bahu anak tirinya.


"Dok, bisakah aku menemaninya di dalam?" tanya Alvin.


"Tentu bisa Pak Alvin. Berikan istri Anda dukungan, terus ajak dia bicara dan yang paling penting doakan dia agar bisa melewati masa kritisnya," jawab Dokter yang berdiri dihadapan Alvin. "Tapi ingat, maksimal dua orang yang bisa menungguinya di dalam."


"Baik, Dok."


Disaat yang bersamaan Cilla datang bersama Arvin. Bocah yang beberapa bulan lagi menginjak usia ke enam tahun itu langsung menghambur memeluk Alvin.


"Bunda kenapa, Ayah? Bunda dimana?" tanya Arvin dengan wajah berurai air mata.


"Bunda ada di dalam. Kita temui Bunda ya Nak!" ajak Alvin pada anak laki-lakinya. "Tapi, Arvin harus janji nggak akan nangis di depan Bunda. Oke!"


"Baik, Ayah," jawab Arvin


Alvin membawa putranya Arvin untuk masuk ke ruangan dimana Nayla sedang menerima perawatan intensif. Mereka langsung duduk di samping bangsal. Alvin dan Arvin, menggenggam tangan kiri dan kanan Nayla.


"Nay, kamu harus bangun. Demi Arvin dan demi putri kita," ucap Alvin lirih.


***


"Ibu, ayah, Nayla bahagia akhirnya Nayla bisa bersama kalian," ucap Nayla dengan wajah yang berseri.

__ADS_1


"Nayla, anakku. Belum waktunya kita berkumpul. Kamu harus kembali kepada keluargamu, sayang." Jawab ibunda Nayla.


"Tidak, Ayah, Ibu. Nayla ingin bersama kalian. Nayla rindu kalian," ucap Nayla dengan deraian air mata.


"Nak, suamimu dan kedua anakmu membutuhkanmu. Jadi, kamu harus kembali." Kini giliran ayah Nayla yang berbicara.


"Pulanglah, Nak. Temui Alvin dan Arvin!" seru ibu Nayla lagi. "Bawalah Queensha bersamamu!" Ibu Nayla menyerahkan bayi perempuan yang sangat cantik kepada Nayla.


"Ayah, Ibu, ini anak siapa?" tanya Nayla. Namun kedua orang tuanya tidak menjawab, mereka hanya tersenyum kepada Nayla.


Saat Nayla ingin mengejar ibu dan ayahnya yang semakin menjauh, saat itulah dia mendengar suara yang memanggil namanya.


"Nayla."


"Bunda."


Dan saat itulah, Nayla merasakan dilema. Dia melihat kedua orang tuanya yang semakin menjauh dan melihat bayangan Alvin dan Arvin yang melambaikan tangan sambil memanggil namanya. Di tambah suara tangisan bayi semakin membuat Nayla merasa makin kebingungan.


***


"Al, Ar. Alvin, Arvin."


"Nay, Nay, sadarlah, Nay. Ini aku Alvin." Panggil Alvin dengan tangan yang terus menggenggam tangan Nayla.


"Alvin, Arvin. Quensha." Mulut Nayla terus memangil ketiga nama itu.


"Bunda, bangun Bunda. Ini Arvin." Arvin yang berada di pangkuan Alvin ikut memanggil nama Nayla.


Dan pada saat itulah, mata Nayla terbuka. Dan hal yang pertama dia tanyakannya adalah keberadaan bayinya.


"Qu--Queensha mana?" tanya Nayla.


"Queensha?" Alvin mengulang pertanyaan Nayla.


"Iya, Al. Bayi perempuan," jawab Nayla. Beberapa saat kemudian Nayla baru mengingat kecelakaan yang menimpa dirinya.

__ADS_1


"Al, a__anakku mana? Tidak terjadi sesuatu kan dengan bayi kita?" tanya Nayla setelah melihat perutnya sudah datar.


Alvin meraih, tangan Nayla. "Nay, putri kita sudah lahir. Dokter terpaksa mengeluarkannya walau umurnya belum genap 9 bulan. Dan sekarang dia masih di inkubator agar suhu tubuhnya terjaga," jelas Alvin.


"Tapi, dia tidak apa-apakan Al?" tanya Nayla cemas.


"Insya Allah keadaannya baik. Kamu jangan khawatir. Besok, kita akan melihatnya di inkubator."


"Al, bolehkah aku menamai bayi kita dengan nama Quensha?" tanya Nayla.


"Tentu saja boleh," jawab Alvin.


Nayla mengangguk, kini Nayla beralih ke putra sulungnya. "Arvin, bunda sayang sama Arvin."


"Arvin juga sayang sama Bunda." Arvin memeluk Nayla dengan sangat erat.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Nih, buat yang request visual Nayla, Alvin dan Arvin sudah otor siapin di bawah ini. Semoga suka.


*) Nayla sebelum dioperasi



*)Visual Nayla setelah operasi



*) Visual Alvin



*) Visual Arvin


__ADS_1


# Visual Quensha anak kedua Nayla dan Alvin.



__ADS_2