Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Siapa yang membukanya?


__ADS_3

Nayla ke ruang kerjanya, disana sudah menunggu Kian dan sahabatnya Vita.


"Pagi Mbak Kian, pagi Vit" sapa Nayla kepada dua orang di depannya.


"Pagi juga, Nay," jawab Kian yang mmbalas sapaan Nayla.


"Dari mana saja kamu, Nay? Kamu telat hampir 10 menit lho?" tanya Vita tanpa menatap wajah Nayla.


"Tadi aku di suruh membuatkan kopi untuk Pak Alvin," jawab Nayla sembari berjalan menuju ke mejanya.


"Yakin cuma buatin Pak Alvin kopi??" tanya Vita dengan tatapan yang sulit di artikan.


Untuk sejenak, Nayla merasa ada yang aneh dengan maksud dari pertanyaan sahabatnya barusan.


"Iya," jawab Nayla.


"Ya sudah, aku mau ke ruangan Pak Alvin dulu. Mau menyerahkan pembukuan kemarin," kata Vita.


Vita bangkit dari tempat duduknya.


"Mbak Kian, nanti biar Nayla saja yang ngecek barang di gudang!" seru Vita.


"Barang? Barang apa?" tanya Nayla yang memang tidak tahu menahu soal barang yang di maksud oleh temannya itu.


"Itu lho, Nay. Barang yang akan di serahkan ke beberapa panti asuhan. Setiap sebulan sekali perusahaan ini akan memberikan bantuan berupa barang dan uang kepada beberapa panti. Dan biasanya sebelum di kirim barang-barang itu akan di cek terlebih dahulu oleh staf kita, takutnya ada barang yang tidak sesuai yang ikut terkirim nantinya," jawab Kian panjang lebar.


"Kalau itu yang di maksud, aku akan memeriksanya nanti," kata Nayla.


"Kenapa menunggu nanti? Barang yang harus di periksa cukup banyak lho. Aku yakin jika kamu mengeceknya nanti, tidak akan selesai sampai jam pulang kerja nanti," kata Vita lagi.


"Begitu ya? Ya, sudah aku cek sekarang," kata Nayla lagi.


Nayla yang baru saja tiba di ruangannya, kembali harus meninggalkan ruangan itu.


"Ingat ya Nay, kamu harus mencatatnya secara teliti!"


Vita tersenyum licik saat melihat temannya itu meninggalkan ruangan tersebut.


"Mbak Kian, nanti kalau Kak Fandi atau Kak Alvin menanyakan soal Nayla, jangan bilang ya kalau Nayla sedang berada gudang!" pinta Vita.


"Lho, kenapa?" tanya Kian heran.


"Soalnya mereka pasti akan mengganggu pekerjaan Nayla nantinya. Biar nanti aku yang memberitahu mereka setelah pekerjaan Nayla selesai," jawab Vita.


"Baiklah, aku tidak akan bilang," kata Kian kemudian.


"Makasih ya, Mbak," ucap Vita. Kian membalasnya dengan anggukan.


"Aku ke ruangan Kak Alvin dulu ya," pamit Vita pada Kian.

__ADS_1


Vita berjalan meninggalkan ruangan itu sambil membawa laporan yang tadi belum sempat dia berikan kepada Alvin.


*****


Tok tok tok


Vita mengetuk pintu ruangan Alvin.


"Masuk!" suara Alvin dari dalam.


Tidak lama Vita muncul dari balik pintu, dia berjalan mendekati Alvin dan duduk di kursi kosong yang berada tepat di hadapan Alvin.


"Ada apa?" tanya Alvin dengan mata yang masih fokus dengan beberapa file di tangannya.


"Ini Kak, aku bawakan laporan keuangan kemarin. Sekaligus aku ingin minta tanda tangan dari Kak Al," jawab Vita.


Vita menyerahkan file di tangannya kepada Alvin. Alvin menerima file tersebut, dia mulai melihat laporan yang di berikan oleh Vita dan menandatanganinya.


"Ohya Vit, nanti siang kita makan siang bareng yuk!" ajak Alvin.


"Beneran Kak Al mengajakku makan siang?" tanya Vita yang merasa tidak percaya dengan hal yang baru saja dia dengar.


"Iya," jawab Alvin.


"Kenapa kamu merasa aneh begitu? Bukankah sudah biasa kalau aku mengajakmu dan Fandi makan siang?"


"Iya sih Kak, bukan hal aneh," jawab Vita.


"Nanti aku tunggu di restoran depan kantor ya. Ada hal yang ingin aku katakan padamu dan juga Fandi," ujar Alvin memberitahu.


"Iya, Kak," jawab Vita bersemangat.


"Aku kembali ke ruanganku dulu ya Kak Al," pamit Vita. Vita beranjak dari posisinya semula dan mulai melangkahkan kakinya untuk meinggalkan ruangan itu. Namun langkahnya terhenti ketika Alvin memanggilnya kembali.


"Vit, tunggu!" panggil Alvin.


Dengan cepat Vita kembali menoleh ke arah Alvin.


"Nanti kamu ajak Nayla juga ya," ujar Alvin.


Senyum Vita yang tadinya mengembang hilang sudah, hatinya kembali mendidih ketika Alvin menyebut nama Nayla yang sudah dia anggap sebagai rivalnya.


"Iya, Kak," jawab Vita kurang bersemangat.


Vita kembali melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Alvin.


"Aku tidak akan pernah membiarkan Nayla semakin dekat dengan Kak Al," batin Vita.


Vita melangkahkan kakinya menuju ke suatu tempat, tempat di mana orang yang dia anggap sebagai rivalnya itu berada.

__ADS_1


Vita melihat Nayla yang sedang sibuk meneliti barang-barang yang akan di kirimkan oleh perusahaan ke beberapa panti. Nayla begitu fokus dengan pekerjaannya itu, bahakn dia tidak sadar ketika Vita mengunci gudang itu dari luar.


Vita segera menjauh dari gudang tersebut dan kembali ke ruangannya. Senyumnya semakin lebar karena yakin Nayla tidak bisa pergi kemanapun setidaknya sampai jam makan siang nanti.


"Kenapa dari tadi kamu senyum-senyum sendiri, Vit?" tanya Kian. Kian merasa aneh melihat tingkah rekan kerjanya itu.


"Tidak ada apa-apa kok Mbak, hari ini aku hanya merasa senang saja," ujar Vita.


Kian hanya menggelengkan kepalanya. Keduanya kembali fokus dengan pekerjaan mereka.


******


Alvin dan Fandi sudah berada di restoran depan perusahaan. Kecanggungan nampak di raut wajah keduanya setelah pertengkaran mereka tadi pagi.


"Aku minta maaf soal kejadian tadi pagi," ucap Alvin tanpa melihat ke arah Fandi.


"Sebenarnya aku juga salah sih, tidak seharusnya aku menegurmu dengan emosi. Maafkan aku juga ya Al," kini giliran Fandi yang minta maaf.


Kedua orang sahabat itu akhirnya saling tatap dan keduanya kemudian tertawa bersama.


"Ohya katanya ada yang mau kamu bicarakan? Apa?" tanya Fandi. Dia ingat tadi Alvin mengajaknya bertemu untuk membicarakan sesuatu.


"Iya, memang ada yang ingin aku bicarakan. Tapi tunggu Nayla dan Vita datang ya," jawab Alvin.


"Kenapa harus menunggu mereka?" tanya Fandi sedikit heran.


"Karena sesuatu yang ingin aku bicarakan ada sangkut pautnya dengan Nayla," jawab Alvin.


Fandi menautkan alisnya, dia masih tidak mengerti dengan maksud dari jawaban sahabatnya itu.


"Aku akan menjelaskan semuanya ketika Nayla dan Vita datang," hanya itu jawaban yang di berikan oleh Alvin menanggapi rasa penasaran sahabatnya itu.


Tidak lama kemudian Vita datang, dia langsung duduk di bangku kosong yang ada di sebelah Alvin dan kakaknya.


"Lho Vit, dimana Nayla?" tanya Alvin.


"Tidak tahu Kak, tadi pagi dia bilang ada urusan. Tapi sampai sekarang belum balik juga, makanya aku tinggal," jawab Vita berbohong.


"Urusan? Urusan apa? Kenapa dia tidak memberitahuku?" Alvin memberikan pertanyaan bertubi-tubi kepada adik dari sahabatnya tersebut.


"E...itu...e...," Vita gelagapan, dia tidak tahu harus memberikan jawaban apa kepada orang di sebelahnya.


"Apa Vit? Kenapa Nayla tidak datang?" kini tidak hanya Alvin yang bertanya, tetapi juga kakaknya Fandi.


"Nayla...dia..."


"Maaf aku terlambat," suara seseorang dari belkang mereka.


Vita membulatkan matanya ketika tahu yang datang adalah Nayla.

__ADS_1


"Siapa yang sudah membuka kunci gudang itu?" batin Vita.


__ADS_2