Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Dimana Nayla


__ADS_3

Diam-diam Alvin sudah melaporkan kejahatan Vita kepada pihak yang berwajib, tentu saja setelah dia merasa kalau bukti yang dia kumpulkan sudah cukup.


Sore itu Surya dan Mirna begitu terkejut saat rumah mereka di datangi polisi. Keduanya langsung bangkit dari tempat duduk mereka.


"Ada apa ini?" tanya Mirna kepada para polisi di hadapannya.


"Maaf, Kami dari pihak kepolisian membawa surat penangkapan untuk putra dan putri Anda."


"Mak ... mak ... maksud Anda?" tanya Mirna gugup.


"Seseorang telah melaporkan putri Anda sebagai penyebab kecelakaan yang terjadi pada Nayla. Termasuk percobaan pembunuhan terhadap dirinya," jelas salah seorang polisi.


"Itu tidak benar, Pak!" teriak Mirna. "Putriku tidak melakukan apa-apa."


Surya suami Mirna memegangi istrinya agar tidak histeris.


"Siapa yang telah melaporkan putri kami? Aku akan tuntut balik dia karena sudah memberikan laporan palsu."


"Aku." Jawab seseorang yang baru masuk, "Bukan hanya putri kalian yang aku laporkan, tapi juga putra kalian, Fandi."


"Al, kenapa kamu tidak bicarakan dulu kepada Kami?" tanya Surya. "Bukankah Fandi itu sahabatmu dan kamu selalu menganggap Vita sebagai adikmu?"


"Seorang sahabat tidak akan membohongi sahabatnya sendiri, apalagi memanfaatkan kepercayaannya." Alvin memberikan tatapan tajamnya kepada dua orang di depannya. "Dan adik? Seorang adik juga tidak akan setega itu mencelakai orang yang di cintai oleh kakaknya, apalagi Nayla juga sahabatnya."


Mirna dan Surya terdiam, apalagi mereka memang sudah mengetahui semua itu.


"Atau jangan-jangan kalian juga mengetahui perbuatan anak kalian?"


Mata Mirna dan Surya terbelalak.


"Pak, cepat tangkap Vita dan Fandi! Serta bawa mereka juga untuk di mintai keterangan!" seru Alvin kepada polisi yang datang bersamanya.


"Al, aku minta maaf untuk semuanya. Aku tidak bermaksud untuk membohongimu, apalagi memanfaatkan kepercayaanmu. Sebagai kakak aku hanya ingin melindungi adikku. Tolong maafkan aku Al!"


"Melindunginya dari perbuatan kriminal?!"


Alvin menarik kerah baju Fandi dan hampir saja melayangkan tinjunya ke wajah Fandi. Namun, urung dia lakukan karena mengingat persahabatan mereka sebelumnya.


"Apa kau tahu siapa yang telah menjadi korban ketidakwarasan adikmu itu selain Nayla?!" tanya Alvin dengan mengeraskan suaranya.


Fandi menatap Alvin bingung.


"Adikmu dengan sengaja menghabisi nyawa Tasya untuk di jadikan pengganti tubuh Nayla yang dia ceburkan ke dalam sungi." Sekali lagi Alvin memberikan tatapan tajamnya kepada Fandi.

__ADS_1


"Kau bohongkan? Tidak mungkin adikku setega itu?" Bukan hanya Fandi bahkan kedua orang Vita--pun tidak percaya dengan yang barusan mereka dengar.


"Kau masih membela adikmu yang gila itu? Dia bukan hanya tidak waras, tapi juga seorang psikopat." Alvin menjeda perkataannya. "Kamu tahu, hasil DNA dari mayat Nayla yang di kuburkan sama persis dengan hasil DNA milik kedua orang tua Tasya. Dan satu lagi, ada saksi yang bahkan melihat saat pembunuhan itu terjadi."


Fandi dan kedua orang tuanya kembali menatap ke arah Alvin.


"Siapa?" tanya Fandi.


"Ibuku, Ibu Sarah. Dia melihat semuanya, dia tidak melapor karena adikmu yang tidak waras itu mengancam akan membunuh Nayla."


Tangis Mirna pecah mendengar kekejaman putrinya, tadinya dia berfikir kalau kecelakaan yang menimpa Nayla terjadi atas dasar ketidak sengajaan. Tapi ternyata?


Mirna tidak pernah membayangkan kalau putrinya berubah menjadi seorang monster hanya karena terobsesi kepada Alvin.


"Sekarang katakan dimana Vita!"


"Dia ada di kamarnya sejak semalam," jawab Mirna.


Beberapa polisi membawa Fandi dan kedua orang tua Vita ke kantor polisi.


Kemudian Alvin bersama dengan dua orang polisi menuju ke kamar Vita yang berada di lantai dua. Namun sayangnya saat di cari di dalam kamar Sang tokoh utama sudah tidak ada di sana.


"Sepertinya, dia sudah kabur jauh sebelum kita datang Pak."


"Terus cari dia, Pak. Karena dia sangat berbahaya!" pinta Alvin.


Alvin ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.


*****


Nayla yang sudah mendapat kabar dari Alvin, kalau polisi akan segera melakukan penangkapan kepada Vita, merasa lega dan bahagia.


"Bunda, kenapa?" tanya Arvin yang melihat ibunya senyam-senyum sendirian.


"Ar, sebentar lagi kita akan bisa berkumpul dengan ayah."


Dengan perasaan bahagia Nayla memeluk putranya tersebut.


"Memangnya wanita jahat itu sudah di tangkap oleh polisi?" tanya Hendarawan kepada cucunya.


"Sudah Kek, saat ini Alvin bersama dengan polisi sedang menuju ke rumah Vita untuk menangkapnya."


"Kakek ikut bahagia mendengarnya, semoga setelah ini kehidupanmu dan kehidupan cucu buyut kakek ini bisa bahagia selamanya."

__ADS_1


"Amiinn, Kek," ucap Nayla.


"Sebentar, Kek," ucap Nayla saat dering ponselnya berbunyi.


"Mau ke mana kamu?" tanya Kakek Hendrawan saat melihat cucunya mengambil tas dari dalam kamarnya.


"Alvin bilang, aku di suruh ke kantor polisi untuk memberikan keterangan."


"Kenapa kamu tidak meminta Leo untuk mengantarmu?!" tanya Sang Kakek.


"Alvin mau menjemputku di jalan depan sana," jawab Nayla. "Nay, pergi dulu ya Kek. Permisi."


"Aneh? Kenapa Alvin harus menyuruh Nayla menunggunya di depan? Bukankan biasanya dia akan langsung menyusul Nayla?" Kakek Hendrawan sedikit membatin.


Hendrawan mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam saku saat ada panggilan masuk.


"Ada apa, Al?" tanya kakek Hendrawan ketika tahu yang menelponnya adalah Alvin.


"Kek, tolong jaga Nayla dan Arvin baik-baik!"


"Lho bukannya kamu mau menjemput Nayla untuk pergi ke kantor polisi?" tanya Hendrawan bingung.


"Menjemput? Apa maksud Kakek?" tanya Alvin yang masih bingung.


"Barusan Nayla bilang kalau kamu menelponnya."


"Kek, aku sama sekali belum menolpon Nayla. Aku baru saja ingin memberi kabar padanya kalau Vita belum berhasil di tangkap."


Mendengar perkataan Alvin Kakek Hendrawan seketika berdiri. "Lalu siapa yang menelpon Nayla?"


Perasaan cemas tiba-tiba muncul di hati Alvin dan Hendrawan, saat keduanya sama-sama teringat akan Vita.


"Janagan-jangan ...." keduanya mengatakan kata itu bersamaan.


"Kek, aku akan mengerahkan semua orangku untuk mencari Nayla, kali ini aku tidak akan membiarkan kejadian 5 tahun lalu itu terualang lagi. "Tolong lindungi Arvin!"


Setelah mengatakan itu Alvin menitup ponselnya.


"Leo, suruh orang untuk secepatnya mencari Nayla!" titah Hendrawan kepada tangan kanannya tersebut.


"Baik, Tuan," jawab Leo.


"Satu lagi jaga Arvin dengan baik!" titah Hendrawan.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Leo menyuruh beberapa anak buahnya untuk berjaga di sekitar kediaman Hadinata. Sementar dia dan beberapa anak buahnya mencari keberadaan Nayla.


__ADS_2