Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Rahasia


__ADS_3

"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya orang itu seraya membantu bocah kecil tersebut untuk berdiri. Orang itu menatap Arvin tanpa berkedip saat melihat wajah Arvin.


"Terimakasih," ucap Arvin sopan.


"Nak, siapa namamu?" tanya orang itu yang memang merasa penasaran. Dia berjongkok tepat di hadapan Arvin.


"Aku Arvin," jawab Arvin memperkenalkan diri.


"Sayang, kamu tidak apa-apakan?" tanya Nayla yang juga mendekati putranya.


"Nayla," panggil orang itu.


Nayla menoleh ke arah orang yang memenggilnya. Orang yang bertabrakan dengan Arvin adalah Sarah, ibu tiri dari Alvin.


"Maaf, Anda salah orang," ucap Nayla pada orang itu. Nayla menggandeng putranya dan hendak membawa putranya itu pergi, namun langkahnya terhenti saat ada seseorang yang memanggil namanya.


"Kak Nay," gadis kecil berusia 10 tahun itu memanggilnya. Nayla menatap wajah gadis kecil itu dengan seksama, wajah yang memang tidak asing baginya.


"Cia," lirih Nayla.


Nayla ingat betul siapa dia, dia adalah adik pantinya yang bernama Cia.


"Kak Nay, ini beneran Kak Nay kan?" Cia menghambur ke pelukan Nayla. Dari sorot matanya terlihat jelas, kalau gadis itu sangat merindukan Nayla.


Nayla segera melepaskan pelukan gadis kecil tersebut. Dia tidak ingin identitasnya di ketahui oleh orang lain, sebelum berhasil membuka kedok Vita.

__ADS_1


"Kamu salah orang Nak. Namaku Nadhira dan aku cucu dari pemilik perusahaan ADITAMA CORPERATION," ucap Nadhira seraya melepaskan pelukan gadis kecil itu dengan lembut. "Aku bukan orang yang kalian maksud." sekali lagi Nayla memberikan penjelasan kepada dua orang di depannya.


"Maaf kan putriku, dia sangat merindukan kakaknya yang sudah meninggal 5 tahun lalu," ucap Sarah.


"Putri? Jadi sekarang Cia di asuh oleh ibu Sarah?" Nayla membatin.


"Tapi wajah putramu benar-benar mengingatkan aku pada Alvin," ucap Sarah lagi.


Sarah bahkan mengusap kepala Arvin dengan sangat lembut.


"Ada apa?" tanya Nayla saat melihat Sarah tiba-tiba terdiam, bahkan air matanya juga mengalir di kedua pipinya.


"Nyonya kenapa?" sekali lagi Nayla bertanya.


"Aku hanya mengingat kesalahan yang pernah aku perbuat pada putraku." Sarah memberi jeda pada kalimatnya, "Dulu aku membenci putra tiriku, padahal dia begitu baik. Bahkan saking bencinya, aku pernah ingin membuat dia berpisah dengan orang yang dia cintai."


"Bolehkah aku memeluk putramu!" Sarah menatap Nayla seraya meminta izin.


"Tentu saja," jawab Nayla.


"Ternyata Ibu Sarah benar-benar sudah berubah."


Nayla tersenyum sambil menatap wajah Sarah.


"Ada apa lagi, Nyonya?" kembali Nayla bertanya saat di lihatnya Sarah kembali murung.

__ADS_1


"Sampai detik ini aku masih berharap kalau Nayla asli akan kembali dan mengungkap kebusukan Vita. Tapi, jika Nayla masih hidup kenapa dia tidak kembali?" Sarah berbicara dengan dirinya sendiri.


"Nyonya," panggil Nayla.


"Maaf aku hanya teringat sesuatu," ucap Sarah.


"Bunda, ayo! Ar, ingin naik itu!" rengek Arvin.


"Iya, Sayang," jawab Nayla.


"Nyonya, sepertinya anak saya sudah tidak sabar ingin bermain. Saya permisi ya, Nyonya!" Nayla berjalan meninggalkan Sarah. Dia kembali menggandeng tangan putranya. Mereka berdua berjalan ke arena permainan anak.


"Cia, kakak Nayla sudah meninggal dan Cia harus bisa menerima itu." Sarah mencoba memberi pengertian pada gadis berusia 10 tahun yang kini menjadi anak angkatnya. Meski sebenarnya Sarah tahu, kalau orang yang di kuburkan waktu itu bukanlah tubuh menantunya.


Sarah ingat kejadian ketika dia tanpa sengaja melihat Vita yang sedang memukul kepala Tasya dengan balok kayu. Bahkan dengan kejamnya, Vita bahkan dengan sengaja merusak wajah dari Tasya agar tidak bisa di kenali. Awalnya Sarah tidak mengetahui motif dari perbuatan Vita waktu itu. Tapi akhirnya dia mengerti saat mendengar berita kecelakaan tentang Nayla. Apalagi, saat mayat Nayla di ketemukan, wajahnya tidak bisa lagi di kenali. Saat itulah, Sarah yakin kalau mayat itu adalah mayat Tasya. Tapi dia tidak bisa mengatakan semua kebenaran itu kepada Alvin ataupun mertuanya Nek Murti. Karena Vita mengancam akan membunuh Nayla asli, jika sampai perbuatannya di ketahui oleh orang lain. Hal itulah yang membuat Sarah masih menutup mulutnya, dia masih mempunyai harapan kalau Nayla akan kembali dengan selamat.


Kembalilah, Nay! Karena hanya dengan kehadiranmu, kebusukan Vita akan terungkap.


Itulah harapan Sarah sampai sekarang. Dia juga takut, kalau Vita akan menggunakan cara kotornya untuk mendapatkan Alvin.


"Ayo, Sayang kita pulang! Nenek pasti sudah menunggu kita di rumah!" Sarah mengajak Cia untuk pergi meninggalkan mall tersebut.


"Tapi...," pandangan Cia masih tertuju pada Arvin dan Nayla yang sudah berada di arena permainan.


"Ayo, Sayang!"

__ADS_1


"Baik, Bu." Jawab Cia pasrah.


Akhirnya Sarah dan Cia meninggalkan mall tersebut.


__ADS_2