
"Al, Fandi, ada apa dengan kalian? Apa yang sedang kalian ributkan?" teriak wanita yang baru saja tiba di ruangan itu.
Alvin melepaskan kerah baju Fandi yang sempat dia cengkeram. Dia dan Fandi sama-sama menunduk di hadapan wanita yang baru datang tersebut.
"Alvin, Fandi, kalian adalah atasan di kantor ini tidak baik jika kalian bertengkar di kantor!" seru wanita itu yang tak lain adalah Nek Murti. Kebetulan saat itu Nek Murti sedang berjalan melewati ruangan cucunya tersebut. Tadinya Nek Murti mengira yang sedang bertengkar di dalam ruangan itu adalah pegawai lain, tapi ternyata saat dia mendekat dia melihat cucunya sedang bertengkar dengan asisten yang sekaligus temannya itu.
"Maaf, Nek! Aku hanya tidak suka dengan sikap Alvin yang semena-mena dengan bawahannya," jawab Fandi terus terang.
"Maksudmu?" tanya Nek Murti.
"Maaf, Nek. Lebih baik Nenek bertanya langsung saja kepada Alvin, Aku sedang malas jika harus berdebat dengannya lagi," tukas Fandi. Fandi menatap ke arah Alvin sebentar sebelum akhirnya dia ke luar dari ruangan bosnya itu.
Nek Murti berjalan melewati Alvin dan duduk di kursi tempat cucunya itu bekerja.
"Jelaskan pada Nenek, apa maksud perkataan Fandi barusan!" suruh Nek Murti kepada cucunya tersebut. Alvin pun melangkah dari posisinya berdiri dan duduk di kursi kosong yang ada di depan neneknya.
"Fandi marah karena Al, meminta Nayla membuatkan Al kopi. Dia bilang kalau itu bukan tugas seorang staf keuangan," jelas Alvin.
"Apa yang Fandi katakan memang benar, karena tugas membuatkan minuman adalah tugas seorang OB. Harusnya kamu tidak berikap seperti itu," tegur Nek Murti kepada cucunya.
"Iya, Nek. Alvin salah soal itu, tapi Al tidak suka cara dia memperlakukan Nayla," ucap Alvin.
"Maksudmu?"
"Nek, Fandi bilang kepada Alvin kalau dia mencintai Nayla. Siapa yang tidak kesal coba?" Alvin berdalih.
"Apa Fandi tahu tentang status hubunganmu dengan Nayla?" tanya Murti.
Alvin menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.
"Dalam hal ini Fandi tidak salah, bagaimanapun dia tidak pernah tahu kalau kamu dan Nayla sudah menikah. Seharusnya, kalau kamu menginginkan istrimu tidak di cintai atau di akui oleh orang lain, kamu dan Nayla harus mengumumkan status pernikahan kalian di depan publik. Jadi kamu tidak perlu repot bertengkar apalagi sampai harus bersikap seperti tadi," jelas Nek Murti.
"Iya, Nek," jawab Alvin.
Diam-diam ada orang yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka. Dia tidak mau kalau sampai pernikahan Alvin dan Nayla di ketahui oleh publik, karena itu pasti akan semakin sulit untuk menyingkirkan Nayla nantinya.
"Minta maaflah kepada Fandi, bagaimanapun kalian adalah sahabat! Jangan sampai gara-gara sebuah kesalah pahaman persahabatan kalian rusak!" seru Nek Murti kepada cucunya.
"Iya, Nek. Nanti Al, akan berbicara dengan Fandi," jawab Alvin.
"Ya, sudah. Nenek cuma mau melihat-lihat perusahaan sebentar. Tapi sepertinya Nenek tidak berniat untuk berkeliling lagi. Nenek pulang ya Al. Ingat segera selesaikan kesalah pahamanmu dengan Fandi. Kalau perlu, berterus teranglah padanya," seru Nek Murti lagi. Nek Murtipun segera beranjak dari posisinya duduk. Dia segera ke luar dari ruangan cucunya.
__ADS_1
Tidak lama berselang, Nayla datang dengan membawakan secangkir kopi untuk Alvin.
"Ini, Pak minumannya! Maaf agak lama, karena air panas di dispenser sudah habis. Jadi tadi aku terpaksa merebus air terlebih dulu," kata Nayla sembari meletakkan cangkir tersebut di atas meja yang ada di depan Alvin.
"Nay, bisakah kita mengumumkan status pernikahan kita ke publik?"
Pertanyaan Alvin barusan membuat Nayla sedikit terperangah.
"Kenapa?" tanya Nayla.
Alvin berdiri dari tempat dia duduk dan mulai melangkahkan kakinya mendekati Nayla. Dia berhenti tepat di hadapan istrinya tersebut.
"Nay, Aku tidak suka ada orang lain yang memperlakukanmu spesial selain diriku," Alvin mengatakan itu sembari memegang ke dua bahu Nayla, bahkan dia mengunci tatapan mata Nayla agar melihat ke arahnya. Mata mereka saling beradu ada kebahagian di hati Nayla ketika mendengar Alvin mengatakan itu.
"Al, ini kantor." Nayla memalingkan wajahnya ketika Alvin hendak mencium bibirnya.
"Jadi kamu lebih suka kalau Fandi yang melakukannya?!?"
Alvin kembali emosi ketika mendapat penolakan dari Nayla.
"Al, bukan itu." Nayla berusaha untuk menenangkan suaminya yang mulai di landa emosi.
"Al, sekarang aku tanya padamu, siapa yang ada di dalam sini? Apa itu aku?" tanya Nayla sambil menunjuk dada Alvin dengan telunjuknya.
"Siapa orang yang setiap saat, setiap waktu kamu pikirkan? Apa itu juga aku?"
Nayla menatap kedua mata Alvin meminta jawaban dari laki-laki yang sudah berstatus sebagai suaminya.
"Bukan kan, Al? Orang yang selalu ada di sini dan di dalam otakmu hanya dia, Putri. Teman masa kecilmu," kata Nayla lagi.
Alvin tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, jujur sampai detik ini di hati dan pikirannya tetap Putri yang menjadi prioritas utamanya. Meski di sisi lain dia tidak rela kalau wanita yang ada di hadapannya, dan berstatus sebagai istrinya itu di perlakukan istimewa oleh laki-laki lain.
Nayla hendak melangkah pergi meninggalkan Alvin, namun lengannya di tahan oleh Alvin.
"Bantu aku! Bantu aku untuk melupakan Putri!" ucapnya.
Alvin menarik Nayla ke dalam pelukannya.
"Putri sudah menikah dengan orang lain, Nay. Dia juga mencintai suaminya, jadi sekarang bantulah aku agar aku bisa melupakan *Putr*i!" pinta Alvin.
Nayla merasa terenyuh melihat suaminya rapuh, selama ini dia tidak pernah melihat sosok yang lemah pada diri Alvin.
__ADS_1
Nayla membalas pelukan suaminya itu, dia mengusap punggung suaminya untuk memberikan kekuatan pada diri laki-laki itu.
Perlahan Alvin melepaskan pelukannya, dia menjepit dagu istrinya agar menghadap ke arahnya perlahan tapi pasti Alvin mulai menempelkan bibir tebal miliknya hingga menyentuh bibir mungil sang istri. Dia memberikan kecupan-kecupan kecil di bibir tersebut. Awalnya, Nayla hanya diam tidak membalas ciuman tersebut. Namun ketika Alvin mulai memaksanya untuk membuka mulut dan mengabsen setiap hal yang ada di dalamnya, Nayla pun terbawa ke dalam ciuman panas suaminya. Bahkan saking asyiknya mereka berciuman, mereka tidak tahu kalau ada yang sedang melihat tingkah keduanya dari balik pintu.
Tadinya orang itu ingin memberikan laporan keuangan kepada atasannya tersebut, namun ketika dia membuka pintu, dia melihat atasannya sedang melakukan ciuman panasnya dengan teman sekaligus sahabatnya. Dia mengepalkan tangannya menahan amarah di dalam hatinya.
"Awas, kamu Nay. Beraninya kamu menggoda Alvin. Orang yang aku cintai!" gumam orang itu.
"Kamu sudah lihatkan, bagaimana temanmu itu?" suara itu mengagetkan Vita. Ya, orang yang berdiri di dekat pintu dan melihat ciuman panas Nayla dan Alvin adalah Vita.
"Tante," panggil Vita.
"Apa kamu mau bekerjasama denganku?" tanya Sarah orang yang di panggil Tante oleh Vita.
"Kerjasama? Kerjasama apa?" tanya Vita kepada ibunya Alvin.
"Kerjasama untuk membuat dua orang di dalam itu berpisah, bagaimana?" tawar Sarah.
"Baik, Tante. Aku setuju," jawab Vita mengiyakan.
"Sekarang kita adalah partner, tugasmu adalah membuat Nayla terlihat buruk di mata Alvin. Dan urusan Alvin, aku berjanji akan membuat dia menjadi milikmu," kata Sarah.
"Kembalilah keruanganmu dan anggap kamu tidak melihat apa-apa di dalam sana!" seru Sarah.
"Baiklah, Tante," jawab Vita.
Vita pun meninggalkan tempat dia berdiri tadi. Sarah tersenyum licik, karena akhirnya dia memiliki partner untuk memuluskan rencananya.
Nayla segera mendorong tubuh suaminya, saat tangan suaminya sudah mulai menelusup kedalam baju miliknya.
"Al, ini kantor!"
"Maaf, aku lupa kalau ini kantor," ucap Alvin.
Nayla segera merapikan baju dan rambutnya. Demikian juga Alvin, dia mengelap bibirnya dengan tisu untuk menghilangkan lipstik yang menempel di bibirnya.
"Aku ke ruanganku dulu ya," pamit Nayla.
"Baiklah, kita ketemu nanti pas pulang kerja," jawab Alvin.
Dengan senyum sumringah, Nayla ke luar dari ruangan Alvin. Demikian juga Alvin, dia merasa bahagia setelah berhasil menumpahkan perasaan sayangnya terhadap Nayla melalui tindakannya.
__ADS_1