Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Akhirnya aku menemukanmu...


__ADS_3

"Lalu di mana Putri sekarang?" tanya Nayla yang berusaha menahan kesedihan di hatinya. Dia tetap tersenyum di hadapan laki-laki yang berstatus suaminya itu.


"Ntahlah, aku bahkan belum bertemu dengannya sejak perpisahan kami waktu itu" jawab Alvin. Dari matanya terlihat jelas kalau Alvin menyimpan kerinduan yang mendalam terhadap teman kecilnya tersebut.


"Seandainya kamu bertemu dengannya lagi dan dia masih menunggumu, apa yang akan kamu lakukan?" Nayla mencoba mengorek masa lalu suaminya itu.


"Tidak mungkin dia menungguku, karena malam sebelum kita menikah, dia sudah memberitahuku lewat sebuah surat kalau dia juga akan menikah dengan orang lain," jelas Alvin.


"Seandainya kamu tahu kalau pernikahannya tidak bahagia, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Nayla sekali lagi.


Alvin terdiam, selama ini dia tidak pernah memikirkan hal tersebut.


"Al, apa yang akan kamu lakukan jika itu terjadi?" tanya Nayla sekali lagi. Dia benar-benar ingin tahu bagaimana perasaan suaminya terhadap Putri saat ini.


"Tidurlah, ini sudah malam!" seru Alvin pada Nayla.


"Tapi Al..."


"Aku akan ke ruang kerjaku, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," ujar Alvin yang langsung keluar dari kamar mereka. Dia sama sekali tidak melihat ke arah Nayla


"Iya, Al" jawab Nayla lirih. Tanpa terasa air matanya mengalir.


*****


Di belakang meja kerjanya, Alvin duduk sambil memikirkan ucapan Nayla.


"*Bagaimana kalau ucapan Nayla benar? Putri tidak bahagia dengan pernikahannya?"

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Seandainya waktu itu aku datang, mungkin aku dan Putri sudah hidup bahagia*,"


Alvin terus berbicara dengan dirinya sendiri. Alvin membuka laci meja kerjanya, dia mengambil sebuah kotak dari dalam sana. Kotak yang berisi kalung masa kecilnya.


"Kamu bahkan sudah mengembalikan kalung masa kecil kita, lalu bagaimana aku bisa mengenalimu ketika kita bertemu lagi,"


Alvin menatap dua buah kalung dengan liontin bintang dan bulan tersebut.


Alvin mengambil kontak mobil miliknya dari dalam laci. Dia mengambil jaket di dalam lemari dan memakainya. Setelah itu dia berjalan keluar meninggalkan ruang kerjanya.


*****


Nayla membuka sedikit pintu kamarnya saat mendengar pintu ruang kerja Alvin terbuka. Dia melihat suaminya yang kembali pergi entah kemana.


Nayla menutup kembali pintu kamarnya. Dia kembali naik ke atas tempat tidur dan mengambil guling di sebelahnya kemudian memeluknya.


"Pangeran, apa kamu bahagia dengan pernikahanmu? Apa istrimu juga mencintaimu?"


Nayla menghapus air mata yang kembali mengalir di kedua pipinya.


"Jangan menangis, Nay! Ingatlah janjimu pada pangeran. Kamu harus menjadi gadis yang tegar!" Nayla kembali menyemangati dirinya sendiri.


Nayla beranjak dari tempat tidurnya, dia juga mengambil jaket dari dalam lemari dan berjalan meninggalkan kamarnya.


*****

__ADS_1


Alvin menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah gedung, gedung yang menjadi tempat menyenangkan baginya sewaktu kecil. Karena di gedung itulah dia mengenal gadis kecil yang selalu biasa dia panggil dengan sebutan putri cengeng.


Ya, saat ini Alvin kembali ke gedung yang dulu pernah menjadi sebuah panti asuhan. Tampat dia berkenalan dengan putri, gadis kecil yang sempat ingin dia nikahi sewaktu dia masih kecil.


"Aden, bukannya baru beberapa jam yang lalu Anda dari sini? Kok sekarang sudah kembali lagi?" tanya sang penjaga yang memang sudah mengenal Alvin.


"Aku merindukan seseorang, Pak. Makanya aku ke sini lagi," jawab Alvin.


"Orang yang Anda maksud belum datang, Pak. Ini nomer ponsel yang Anda kasih saja masih ada pada saya," ujar Pak Penjaga.


"Tidak apa-apa, Pak. Aku hanya ingin melihat-lihat lagi," jawab Alvin.


"Silahkan, Nak!" Pak Penjaga mempersilahkan.


Alvin berjalan masuk kedalam gedung, dia kembali ke tempat yang biasa dia kunjungi bersama Putri ketika masih kecil.


Hampir setengah jam Alvin duduk di dalam gedung itu. Dia mengingat masa-masa indah yang dia lalui bersama Putri dulu.


"Putri, aku harap kamu bahagia dengan pernikahanmu. Mungkin ini hari terakhirku ke tempat ini, mulai sekarang aku akan hidup untuk mencintai istriku, Nayla. Dan semoga kamu juga sama, hidup untuk mencintai suamimu," batin Alvin.


Alvin mulai beranjak dari tempatnya berada, Namun langkahnya terhenti saat terdengar bunyi tangis seseorang dari balik tembok.


'hiks..hiks..hiks'


"Putri, Putri apa itu kau?" tanya Alvin bersemangat saat mendengar suara tangis itu. Suara tangis itu seketika berhenti saat mendengar teriakan Alvin.


"Pangeran..," suara seorang perempuan dari balik tembok.

__ADS_1


"Putri, akhirnya aku menemukanmu," kata Alvin.


__ADS_2